Jamasan Pitutur dan Bincang Sekolah Kehidupan: Merawat Nilai agar Borobudur Tetap Menjadi Monumen Hidup - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Rabu, 05 Agustus 2026

Jamasan Pitutur dan Bincang Sekolah Kehidupan: Merawat Nilai agar Borobudur Tetap Menjadi Monumen Hidup

Redaksi Sekolah Kehidupan

Borobudur, Magelang, 5 Agustus 2026 – Gerakan Ruwat Rawat Borobudur (RRB) kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga pewarisan nilai-nilai Borobudur melalui penyelenggaraan Bincang Sekolah Kehidupan ke-27 yang dirangkai dengan ritual budaya Jamasan Pitutur di Sanggar Manunggal Rasa, Tegalarum, Borobudur.

Kegiatan yang merupakan bagian dari rangkaian 24 Tahun Gerakan Ruwat Rawat Borobudur ini dihadiri para pegiat budaya, seniman, akademisi, pemerintah daerah, serta komunitas masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap masa depan Borobudur sebagai warisan budaya dunia.

Acara diawali dengan sambutan Ki Suryodipo dan Ki Wahyoko, dilanjutkan prosesi Jamasan Pitutur yang diiringi Gending Ayun-Ayun. Bunyi kenthongan menjadi penanda dimulainya ritual, sementara lantunan gending dan doa bersama mengiringi prosesi jamasan sebagai simbol penyucian nilai-nilai kehidupan. Selamatan tumpeng yang menyertai ritual menggambarkan filosofi Jawa tentang keselarasan hubungan manusia dengan Tuhan, alam semesta, dan sesama manusia.

Bagi masyarakat pendukungnya, Jamasan Pitutur bukan sekadar seremoni budaya, melainkan ikhtiar merawat pitutur luhur, etika, dan tata nilai yang diwariskan leluhur agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Dalam pengantar diskusi, Sucoro Setrodiharjo, penggagas Gerakan Ruwat Rawat Borobudur, menegaskan bahwa RRB lahir sebagai gerakan kebudayaan yang berangkat dari panggilan jiwa, bukan karena kepentingan ekonomi ataupun proyek tertentu.

Menurutnya, selama dua puluh empat tahun terakhir, RRB memilih jalan pelestarian nilai di tengah kuatnya orientasi pemanfaatan Borobudur sebagai destinasi wisata.

“Semua orang ingin memanfaatkan Borobudur, tetapi tidak banyak yang sungguh-sungguh memikirkan pewarisan nilainya. Gerakan Ruwat Rawat Borobudur secara mandiri memilih menjaga ruh Borobudur agar tetap hidup dalam kesadaran masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pelestarian Borobudur tidak cukup dilakukan dengan menjaga batu-batu candi, melainkan juga menjaga tradisi, pengetahuan lokal, kesenian rakyat, dan nilai-nilai kebudayaan yang tumbuh di sekitarnya.

Dalam sesi diskusi, berbagai gagasan mengemuka mengenai pentingnya regenerasi budaya. Pemerintah Kabupaten Magelang melalui program Sanggar Sekolah Digital dan pengembangan Muatan Lokal Khas Magelang diharapkan mampu memperkuat identitas budaya generasi muda sekaligus menjadi ruang lahirnya pelaku-pelaku budaya baru.

Kuncoro mengingatkan bahwa Borobudur harus dipahami sebagai living monument atau monumen hidup.

“Borobudur tidak boleh berhenti menjadi tumpukan batu yang dikagumi wisatawan. Borobudur harus hidup dalam perilaku, nilai, dan cara pandang masyarakatnya,” tegasnya.

Menurut Kuncoro, keberhasilan pelestarian Borobudur tidak hanya diukur dari jumlah wisatawan, tetapi juga dari seberapa jauh masyarakat sekitar merasa menjadi bagian dari proses pewarisan nilai-nilai Borobudur.

Pandangan tersebut diperkuat oleh Prof. Agus Purwantoro yang menekankan pentingnya membaca kembali Borobudur sebagai sumber pengetahuan dan inspirasi peradaban. Ia mengingatkan bahwa relief-relief Borobudur menyimpan banyak pelajaran tentang kehidupan, pertanian, perdagangan, gotong royong, seni, hingga hubungan manusia dengan alam.

“Borobudur bukan hanya warisan masa lalu. Ia adalah sumber inspirasi untuk membangun masa depan. Nilai-nilai yang tersimpan di dalamnya harus diterjemahkan menjadi praktik kehidupan masyarakat hari ini,” ujarnya.

Sementara itu, Syamsul Hadi, Direktur KMA Kementerian Kebudayaan, menegaskan bahwa Borobudur sebagai living monument hanya dapat diwujudkan melalui sinergi antara masyarakat, pemerintah, komunitas budaya, dan para pengelola kawasan.

Menurutnya, tradisi-tradisi yang masih hidup di masyarakat seperti Kirab Pusaka, Saparan, Merti Desa, dan berbagai kegiatan budaya lainnya harus menjadi bagian penting dalam pengembangan kawasan Borobudur.

“Borobudur bukan hanya candi. Borobudur adalah ekosistem budaya, sosial, dan ekonomi yang harus tumbuh bersama. Masyarakat tidak boleh hanya menjadi penonton, tetapi harus menjadi pelaku utama dalam menghidupkan kebudayaan dan merasakan manfaatnya,” tegasnya.

Sementara itu, Novita Siswayanti menyoroti tantangan besar dalam mengelola warisan budaya yang sekaligus menjadi destinasi pariwisata.

Menurutnya, budaya memiliki ruh, nilai, dan karakter yang tidak selalu sejalan dengan logika industri pariwisata yang berorientasi pada keuntungan ekonomi.

“Warisan budaya tidak bisa hanya dilihat sebagai aset wisata. Di dalamnya ada nilai, memori kolektif, identitas, dan karakter masyarakat yang harus dijaga keberlangsungannya,” jelasnya.

Novita menilai bahwa masa depan Borobudur sangat ditentukan oleh kemampuan seluruh pemangku kepentingan untuk menyeimbangkan kepentingan pelestarian, perlindungan, dan pemanfaatan secara adil.

Bincang Sekolah Kehidupan ke-27 akhirnya menegaskan kembali pesan utama yang selama ini diperjuangkan Gerakan Ruwat Rawat Borobudur: Borobudur tidak hanya membutuhkan pemugaran fisik, tetapi juga pewarisan nilai.

Ketika tradisi, pitutur luhur, kesenian rakyat, dan semangat gotong royong masih hidup di tengah masyarakat, Borobudur akan tetap menjadi monumen hidup yang memberi makna bagi generasi sekarang dan generasi yang akan datang. Namun ketika nilai-nilai itu hilang, yang tersisa hanyalah bangunan batu yang kehilangan ruhnya.

Selama 24 tahun terakhir, Gerakan Ruwat Rawat Borobudur terus berupaya mengingatkan bahwa pelestarian Borobudur bukan semata menjaga warisan masa lalu, melainkan menyiapkan masa depan. Borobudur akan tetap bermakna apabila masyarakat di sekitarnya tetap menjadi pewaris, pelaku, dan penjaga nilai-nilai yang hidup di dalamnya. Di situlah letak pentingnya merawat Borobudur sebagai monumen hidup yang terus memberi inspirasi bagi kebudayaan dan peradaban bangsa.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar