Oleh : Dwi Edi Susilo, A.Md
Alamat: Sidoharjo/prumpung Rt. 01/15, Tamanagung Muntilan
Candi Borobudur merupakan "kitab suci terbuka" yang menawarkan banyak makna dan nilai spiritualitas yang mendalam. Interpretasi tekstual dan kontekstual candi ini dapat membantu kita memahami nilai-nilai tersebut dan bagaimana mereka dapat menginspirasi dan membawa pencerahan bagi banyak orang.
Interpretasi Tekstual dan Kontekstual Candi Borobudur
Interpretasi tekstual Candi Borobudur akan fokus pada elemen-elemen yang jelas terlihat pada candi itu sendiri, seperti relief, patung, dan struktur arsitektural candi. Ini mencakup apa yang terukir pada dinding candi dan bisa dibaca atau dilihat langsung. Sedangkan kontekstual meliputi pemahaman tentang latar belakang sejarah dan budaya dari periode ketika candi itu dibangun, tujuan pembangunannya, pengaruh agama dan politik pada saat itu, serta bagaimana cara pandang masyarakat masa kini melihat dan memahami spiritualitas candi tersebut.
Nilai-Nilai
Spiritualitas
Pemahat Batu di Prumpung Muntilan
Pemahat batu di Prumpung Muntilan memiliki sejarah yang kaya dan panjang. Berawal dari seorang pemuda bernama Kasrin Endro Prayono dan Dulkamit Djaya Prana yang tertantang oleh nilai-nilai luhur candi Borobudur, terutama patung Budhanya. Semangat ingin mempelajari bentuk patung Budha begitu tinggi, sehingga Ia mengajak tiga temannya untuk mengembangkan seni pahat batu sekitar tahun 1960-an.
Filosofi Asah, Asih, dan Asuh
Filosofi asah,
asih, dan asuh yang diterapkan oleh perintis di sanggar-sanggar seni pahat
batu, bertujuan untuk mendidik para cantrik yang ingin belajar memahat dan
berkreasi melalui media batu. Asah; Mengasah ketrampilan memahat batu, Asih;
Membangun cinta kasih dan empati terhadap sesama, dan Asuh; Membimbing serta
melindungi, memberikan pengasuhan dan dukungan moral terhadap para cantrik.
Ilmu yang didapat oleh para cantrik, dikembangkan dan dilestarikan hingga
ratusan sanggar seni pahat batu hingga sekarang berdiri di dusun Prumpung
Muntilan dan sekitarnya.
Dusun Prumpung terletak
di posisi tengah atau segaris antara Gunung Merapi dan Candi Borobudur. Dari
adanya garis imajiner atau lintasan sakral itu, kemudian terbangun folklor
bahwa dalam proses pembangunan candi Borobudur pada zaman dulu, dusun Prumpung
ini menjadi transit pengolahan batu dari Gunung Merapi sebelum dibawa ke Candi
Borobudur melalui Sungai Pabelan
Sungai Pabelan, Elo, dan Progo
Sungai Pabelan,
Elo, dan Progo adalah sungai yang keberadaannya tidak jauh dari Candi
Borobudur. Sungai-sungai ini memiliki makna simbolis yang terkait dengan
filosofi Buddha Jawa dan Candi Borobudur. Dalam konteks ini, sungai-sungai
tersebut dapat dianggap sebagai simbol spiritualitas dan kekuatan yang terkait
dengan filosofi Buddha Jawa dan Borobudur.
Masyarakat dusun Prumpung, desa Pabelan bersama Yayasan Brayat Panangkaran Borobudur menggelar prosesi Watu Aji, yakni menyerahkan batu dari Gunung Merapi sebagai wujud dukungan pelestarian Candi Borobudur. Acara ini berlangsung khidmat dengan protokol kesehatan dan dihadiri oleh Kepala Balai Konservasi Borobudur dan General Manager Taman Wisata Candi Borobudur. Penyerahan batu diartikan sebagai simbol kebersamaan dalam upaya pelestarian nilai spiritual Borobudur, mengingat setelah Borobudur dijadikan destinasi pariwisata , keberadaanya terancam kerusakan dan hilangnya nilai spiritualitas.
Makna
Simbolis Batu
