Antara Mitos Randu Alas dan Beringin Putih
Siang itu kami duduk bersama dalam suasana
sederhana: saya sendiri yang sering dipanggil Mbah Coro dari gerakan Ruwat
Rawat Borobudur, Hadmojo sang pelukis, Mas Ragiel seorang kreator YouTube, dan
Mbak Ita peneliti dari BRIN. Percakapan mengalir tanpa skenario, seperti biasa
dalam tradisi diskusi orang desa kadang serius, kadang diselingi tawa, tetapi
selalu kembali pada satu kegelisahan yang sama: Borobudur dan masa depannya.
Dari obrolan yang berlangsung di rumah pelukis
Hadmojo pada Kamis, 5 Maret 2026, pukul 10.00 hingga 14.00 WIB. tampak ringan
itulah muncul satu pertanyaan mendasar:
Apakah Borobudur hari ini masih dipahami sebagai pusat peradaban yang hidup,
atau hanya sebagai objek wisata yang megah?
Borobudur tidak pernah lahir di ruang kosong. Ia
tumbuh di tengah alam pedesaan, di kaki pegunungan, di dalam kehidupan
masyarakat Jawa yang memiliki kebudayaan, kepercayaan, dan cara pandang
terhadap alam semesta. Karena itu Borobudur sejatinya bukan hanya susunan batu
yang berdiri agung, melainkan bagian dari sistem kehidupan yang menyatu dengan
lingkungan dan masyarakatnya.
Selama berabad-abad masyarakat di sekitar Borobudur
hidup berdampingan dengan warisan ini. Mereka menjaga tradisi, merawat lanskap
alam, dan memelihara nilai-nilai budaya yang menjadi ruh dari keberadaan
Borobudur. Dengan kata lain, Borobudur adalah subjek peradaban, bukan sekadar
objek wisata.
Namun realitas hari ini menunjukkan sesuatu yang
mulai bergeser.
Borobudur semakin sering diperlakukan sebagai
komoditas ekonomi dan simbol pariwisata global. Berbagai kebijakan pembangunan
kawasan tidak selalu berpijak pada realitas sosial dan budaya masyarakat
sekitar. Dalam banyak kasus, masyarakat justru kehilangan ruang hidup dan ruang
ekonominya sendiri.
Padahal sekitar enam puluh persen masyarakat di
kawasan Borobudur menggantungkan kehidupannya pada aktivitas ekonomi yang
berkaitan dengan kawasan ini. Ketika ruang itu dipersempit, yang terancam bukan
hanya penghidupan mereka, tetapi juga keberlangsungan peradaban lokal yang
sejak lama menjadi bagian dari Borobudur.
Dalam diskusi siang itu juga muncul kegelisahan
lain: narasi besar tentang Borobudur semakin kuat diarahkan sebagai pusat
Buddhisme internasional. Tentu saja Borobudur memiliki hubungan sejarah dengan
tradisi Buddha. Namun Borobudur juga lahir dan tumbuh di tanah Jawa yang
memiliki kebudayaan dan sistem kepercayaan sendiri, termasuk jejak
spiritualitas Kapitayan dan tradisi kosmologi Jawa.
Budaya Jawa mengenal konsep kiblat papat lima
pancer, keseimbangan empat penjuru dengan satu pusat kehidupan. Konsep ini
tidak hanya hidup dalam pemikiran, tetapi juga tercermin dalam lanskap alam dan
lingkungan sekitar Borobudur. Pepohonan tua seperti randu alas dan Beringin
Putih, misalnya, dalam tradisi masyarakat dipercaya memiliki nilai historis dan
spiritual sebagai penyangga keseimbangan alam.
Ketika Borobudur dipahami hanya dari satu perspektif,
dimensi kebudayaan lain yang menyertainya berisiko terpinggirkan.
Sementara itu di tingkat lokal, realitas sosial
tidak selalu berjalan harmonis. Konflik antar kepentingan muncul, baik antar
masyarakat maupun antar pemangku kebijakan. Bahkan masyarakat yang berusaha
menjaga nilai-nilai peradaban Borobudur kadang justru berhadapan dengan tekanan
dari lingkungannya sendiri.
Padahal Borobudur memiliki potensi jauh lebih besar
daripada sekadar destinasi wisata massal. Ia memiliki aura peradaban yang mampu
menjadi magnet bagi pengembangan wisata alam pedesaan dan pegunungan di
sekitarnya dari desa-desa di lereng perbukitan hingga kawasan Sukomakmur, Ketep
Pass, dan wilayah dataran tinggi lainnya.
Borobudur seharusnya menjadi pintu masuk untuk
mengenalkan keindahan alam dan kebudayaan masyarakat pedesaan Jawa yang
autentik.
Karena itu pengembangan wisata tidak seharusnya
menghapus yang lama. Justru yang harus dilakukan adalah merawat dan
menghidupkan kembali peradaban yang telah ada, agar Borobudur tetap menjadi
pusat kebudayaan yang hidup, bukan sekadar monumen yang kehilangan ruhnya.
Dalam obrolan siang itu kami juga sepakat pada satu
harapan penting: generasi muda harus mulai terlibat. Mereka memiliki ruang baru
melalui media digital YouTube, TikTok, dan berbagai platform lain untuk
menyuarakan kembali cerita tentang Borobudur sebagai ruang hidup masyarakat,
ruang budaya Jawa, dan ruang peradaban yang terus berkembang.
Karena pada akhirnya, pertanyaan paling penting
bukanlah seberapa megah Borobudur dipromosikan kepada dunia.
Pertanyaan
yang jauh lebih mendasar adalah:
apakah Borobudur masih memberi ruang hidup bagi masyarakatnya sendiri?
Jika ruang itu hilang, Borobudur mungkin tetap
berdiri sebagai bangunan batu yang agung. Namun ia akan kehilangan sesuatu yang
jauh lebih penting: ruh peradaban yang selama ini menjadikannya hidup.
