Pernahkah Anda membayangkan bahwa sebuah bangunan megah bisa menjadi "buku" yang terbuka? Candi Borobudur, dengan ribuan panel reliefnya, bukan sekadar tumpukan batu andesit. Ia adalah sebuah teks raksasa yang menunggu untuk dibaca. Namun, membacanya memerlukan lebih dari sekadar mata; ia memerlukan kedalaman batin.
Borobudur Sebagai Teks Kehidupan
Tajuk “Membaca Sastra Jendra
di Tubuh Borobudur” memberikan kesan bahwa candi ini adalah sebuah entitas yang
hidup. Dalam tradisi Jawa, Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu dikenal
sebagai ajaran spiritual tingkat tinggi sebuah ilmu tentang hakikat ketuhanan
dan kesempurnaan batin untuk meruwat segala keburukan di dunia.
Meskipun secara historis
Borobudur adalah monumen Buddha Mahayana yang dibangun oleh Wangsa Syailendra,
banyak pemikir budaya melihat adanya benang merah filosofis yang bertemu.
Borobudur dengan struktur mandalanya Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu adalah
peta perjalanan jiwa. Sementara Sastra Jendra adalah "kunci" untuk
memahami perjalanan tersebut.
Benarkah Borobudur Tempat
Belajar?
Ya, dalam konteks spiritual
dan edukatif, Borobudur adalah universitas terbuka tertua di Nusantara. Namun,
ia bukan sekolah formal, melainkan:
1.
Tempat Pembelajaran Spiritual Relief-reliefnya, seperti
Lalitavistara dan Jataka, bukan sekadar
hiasan. Mereka adalah media edukasi moral yang mengajarkan tentang hukum
sebab-akibat (karma), kesabaran, dan pengorbanan.
2.
Media Visual Ajaran (Buku Batu) Di masa lalu, saat
literasi aksara masih terbatas, relief ini berfungsi sebagai "buku
bergambar". Rakyat jelata maupun bangsawan belajar nilai kebajikan melalui
visualisasi yang nyata.
3.
Ruang Ritual dan Kontemplasi Melalui proses Pradaksina (berjalan
mengelilingi candi searah jarum jam), seseorang sebenarnya sedang melakukan
proses belajar simbolik naik setapak demi setapak dari dunia nafsu menuju
pencerahan.
Pertemuan Tradisi: Perspektif Jawa dan Kosmologi
Buddha
Namun, mengaitkan Borobudur
langsung dengan Sastra Jendra adalah sebuah penafsiran kultural yang mendalam
dari perspektif Jawa. Di sinilah letak keunikannya...
Dalam kacamata filsafat
Jawa, tubuh Borobudur dipandang sebagai representasi "Manungsa kang Wus Weruh
marang Jatine Diri" (Manusia yang telah mengenal jati dirinya). Sastra
Jendra mengajarkan cara membebaskan diri dari belenggu nafsu duniawi agar bisa
menyatu dengan Sang Pencipta (Manunggal)
persis seperti pesan yang tersirat dalam stupa induk yang kosong di puncak
Borobudur. Kekosongan itu bukanlah ketiadaan, melainkan simbol kesempurnaan dan
kemurnian jiwa yang telah tuntas melampaui segala bentuk duniawi.
Melalui sinkretisme budaya
ini, kita belajar bahwa kebenaran universal tentang kebajikan, kemanusiaan, dan
ketuhanan akan selalu menemukan jalannya untuk bertemu baik lewat relief Buddha
di abad ke-8, maupun lewat serat-serat sastra Jawa di abad-abad berikutnya.
Membaca Sastra Jendra di tubuh Borobudur adalah
sebuah ajakan untuk tidak berhenti pada kulit luar. Saat kita menyentuh
batu-batunya, kita sebenarnya sedang menyentuh sejarah pemikiran manusia yang
paling mulia. Borobudur adalah bukti bahwa sejak dulu, bangsa ini telah
memiliki kurikulum spiritual yang sangat canggih untuk membentuk manusia yang
beradab.
Bagaimana menurutmu? Apakah Borobudur bagimu
adalah sebuah tempat wisata, atau sebuah perpustakaan ilmu yang menenangkan
jiwa? Ceritakan pandanganmu di kolom komentar!
#SastraJendra #Borobudur #FilsafatJawa
#Spiritualitas #BudayaNusantara #SejarahIndonesia #WisataBudaya #Mandala
#Pencerahan
