VW Tour Borobudur Wisata Ikonik yang Menggerakkan Desa
Borobudur VW Tour merupakan layanan wisata
ikonik yang menawarkan pengalaman berkeliling pedesaan sekitar Candi Borobudur menggunakan mobil VW
Safari/Cabrio atap terbuka. Lebih dari sekadar perjalanan rekreasi, wisata ini
memadukan unsur edukasi, budaya, dan keindahan alam dalam satu paket pengalaman
yang autentik dan membumi.
Dengan kendaraan klasik yang unik dan estetik,
wisatawan diajak menyusuri jalan-jalan desa, mengunjungi sentra kerajinan,
serta berinteraksi langsung dengan masyarakat lokal. Perjalanan ini bukan hanya
tentang berpindah dari satu titik ke titik lain, melainkan tentang menyerap
cerita, memahami tradisi, dan merasakan denyut kehidupan desa.
Paket wisata VW Tour mencakup kunjungan ke
berbagai destinasi menarik di sekitar Borobudur, seperti sentra madu, lokasi
pembuatan gerabah, perbukitan Menoreh, hamparan persawahan, hingga spot
matahari terbit yang memukau di Punthuk Setumbu.
Wisatawan juga dapat menikmati lanskap hijau di Svarga
Bumi serta panorama alami Bukit Menoreh
yang menenangkan.
Tersedia pilihan paket short, medium, dan long
tour yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan wisatawan. Paket ini juga dapat
dikombinasikan dengan kegiatan outbound atau aktivitas kelompok lainnya,
sehingga cocok bagi keluarga, komunitas, maupun instansi.
Salah satu kekuatan utama VW Tour adalah
dampaknya terhadap perekonomian lokal. Rute perjalanan dirancang untuk
melibatkan pelaku UMKM desa, seperti pengrajin batik, pembuat gula jawa,
budidaya jamur, produsen jajanan tradisional, hingga pengrajin kerajinan
tangan. Dengan demikian, perputaran ekonomi tidak terpusat pada candi semata,
tetapi menyebar ke desa-desa sekitar. Model ini menciptakan ekosistem wisata
berbasis masyarakat (community-based tourism) yang berkelanjutan dan inklusif.
Dalam setiap perjalanan, pengemudi VW tidak
sekadar menjadi sopir, tetapi juga berperan sebagai pemandu (driver-guide).
Mereka menjelaskan sejarah desa, tradisi masyarakat, filosofi relief Borobudur,
serta nilai-nilai kearifan lokal yang hidup dan diwariskan turun-temurun.
Interaksi ini menjadikan wisata tidak hanya bersifat visual, tetapi juga
reflektif dan edukatif.
Sejak dirintis pada 2016 dengan delapan unit
kendaraan, layanan ini kini berkembang menjadi puluhan unit dengan pengelolaan
yang semakin profesional. Sistem reservasi online dan dukungan payment gateway
turut memudahkan wisatawan dalam melakukan pemesanan. Transformasi ini
menunjukkan bahwa tradisi dan modernitas dapat berjalan beriringan: kendaraan
klasik tetap dipertahankan sebagai identitas, sementara sistem manajemen
mengikuti perkembangan zaman.
Kekayaan Tradisi Spiritual Kabupaten Magelang
Kabupaten Magelang dikenal memiliki kekayaan
tradisi spiritual yang kuat dan beragam, terutama di kawasan sekitar Borobudur
dan lereng-lereng gunung. Tradisi tersebut berakar pada kearifan lokal, ziarah,
ritual adat, serta perayaan budaya yang masih dijalankan secara konsisten oleh
masyarakat.
Sebagai candi Buddha terbesar di dunia, Candi Borobudur merupakan pusat ziarah dan
meditasi internasional. Setiap tahun, kawasan ini menjadi pusat perayaan Waisak
yang dihadiri umat Buddha dari berbagai negara. Borobudur bukan hanya destinasi
wisata sejarah, tetapi juga ruang kontemplasi dan pencarian makna hidup.
Beberapa tradisi spiritual yang berkembang di
kawasan ini antara lain:
·
Ruwat
Rawat Borobudur (RRB): Festival tahunan yang menyatukan berbagai
komunitas untuk merawat dan melestarikan budaya di sekitar Borobudur.
·
Komunitas
Lima Gunung: Kelompok seniman lereng gunung yang rutin menggelar
pentas seni berbasis spiritual dan tradisi agraris.
·
Sedekah
Bumi (termasuk di kawasan Punthuk
Setumbu): Ritual ungkapan syukur masyarakat kepada alam atas hasil bumi
dan keselamatan hidup.
Di Desa Pakis terdapat tradisi Sadranan Gunung Balak, yakni ziarah
leluhur yang disertai doa bersama dan kembul bujana (makan bersama) di puncak
bukit sebagai simbol persatuan dan rasa syukur. Sementara itu, tradisi Suran Tutup Ngisor yang berlangsung pada
bulan Suro menghadirkan tahlil dan doa bersama sebagai sarana refleksi diri
serta penguatan solidaritas masyarakat.
Setidaknya sekitar 1.000 budaya spiritual
telah teridentifikasi di kawasan Borobudur. Angka ini menunjukkan potensi besar
pengembangan wisata budaya dan spiritual berbasis masyarakat.
Grebeg Lentheng: Warisan Budaya Tak Benda dari Sumberarum
Salah satu tradisi yang memperkaya khazanah
spiritual Kabupaten Magelang adalah Grebeg
Lentheng dari Desa Sumberarum, Kecamatan Tempuran. Tradisi ini
baru-baru ini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Menteri
Kebudayaan RI, Fadli Zon.
Di Desa Sumberarum sendiri telah berkembang
wisata pemandian air panas. Dengan penetapan Grebeg Lentheng sebagai WBTB,
diharapkan tumbuh pula wisata religi yang dapat berjalan berdampingan.
Pemandian air panas menjadi wisata harian, wisata religi juga dapat menjadi
aktivitas harian, sedangkan Grebeg Lentheng menjadi agenda wisata tahunan yang
dinantikan.
Upacara Grebeg Gunungan Lentheng merupakan
warisan budaya yang telah lama dilaksanakan masyarakat Dusun Bakal, Desa
Sumberarum. Tradisi ini merupakan peninggalan almarhum Kyai Raden Sayyid
Abdullah, tokoh agama setempat, dan rutin digelar setiap bulan Maulid oleh
masyarakat Dusun Gunung Bakal.
Menjelang pelaksanaan tradisi, warga membuat
makanan khas bernama lentheng. Lentheng terbuat dari beras ketan yang dikukus,
kemudian ditumbuk hingga menjadi adonan. Adonan tersebut dicetak di atas
gedebog pisang dan dijemur di bawah sinar matahari. Setelah mengeras, lentheng
digoreng dalam minyak panas hingga siap disusun menjadi gunungan.
Pada hari pelaksanaan, warga menyusun gunungan
lentheng besar yang ditempatkan di dalam masjid, tepat di antara empat tiang
utama. Setelah gunungan selesai, masyarakat mengelilinginya sambil membaca selawat
kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Di akhir prosesi, gunungan lentheng dibagikan
kepada seluruh warga yang hadir sebagai simbol berkah dan kebersamaan.
Menuju Pariwisata Transformasional
Sinergi antara pengembangan VW Tour dan
kekayaan tradisi spiritual menjadikan kawasan Borobudur tidak lagi bergantung
sepenuhnya pada candi sebagai destinasi tunggal. Desa-desa wisata tumbuh, UMKM
berkembang, tradisi terjaga, dan masyarakat menjadi subjek utama pembangunan
pariwisata.
Model ini membuka peluang bagi Kabupaten
Magelang untuk mengembangkan pariwisata transformasional—wisata yang tidak
hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga pengalaman batin, pembelajaran nilai,
serta keterhubungan yang lebih dalam dengan alam dan budaya.
Borobudur,
dengan demikian, bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan pusat kehidupan
budaya yang terus bergerak dan bertumbuh bersama masyarakatnya.
