Hal tersebut ditegaskan oleh Sucoro
Setrodiharjo, Pendiri Yayasan Brayat Panangkaran Borobudur, yang menilai
bahwa pemahaman terhadap nilai-nilai spiritual Borobudur harus menjadi
prioritas utama dalam pengelolaan kawasan. “Borobudur bukan sekadar bangunan
batu yang megah. Ia adalah simbol perjalanan spiritual manusia menuju
pencerahan. Setiap tingkatannya mengandung makna filosofi yang dalam tentang
proses kehidupan,” ujar Sucoro.
Menurut Sucoro, struktur bertingkat
Borobudur yang dipenuhi stupa menggambarkan tahapan perjalanan batin manusia.
Relief-relief yang terukir pada dinding candi mengajarkan nilai-nilai
kemanusiaan universal seperti kasih sayang, kebijaksanaan, pengendalian diri,
serta kesadaran spiritual.
Ia menegaskan bahwa nilai-nilai
tersebut tidak hanya relevan bagi umat Buddha, tetapi juga bagi seluruh umat
manusia lintas agama dan budaya. “Relief Borobudur mengajarkan nilai
kemanusiaan yang universal. Inilah yang membuatnya memiliki nilai luar biasa
bagi dunia, bukan hanya bagi Indonesia,” tegasnya.
Selain itu, arsitektur Borobudur yang
menyatu dengan lanskap alam sekitar menunjukkan kearifan leluhur dalam
membangun peradaban yang harmonis dengan lingkungan.
Sosialisasi Nilai Spiritual kepada
Pelaku Pariwisata
Sucoro menilai bahwa sosialisasi kepada
masyarakat dan pelaku pariwisata di kawasan Borobudur masih perlu terus
diperkuat. Tanpa pemahaman yang mendalam, Borobudur berisiko dipersepsikan
semata sebagai objek wisata massal. “Pelaku pariwisata harus memahami bahwa
yang mereka kelola bukan hanya destinasi wisata, tetapi warisan spiritual
dunia. Kesadaran ini penting agar pelayanan, sikap, dan tata kelola
mencerminkan penghormatan terhadap nilai luhur Borobudur,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa peningkatan
literasi budaya dan spiritualitas akan memperkuat rasa memiliki serta tanggung
jawab kolektif dalam menjaga kelestarian candi Borobudur
Selain penguatan nilai spiritual,
Sucoro juga menyoroti pentingnya manajemen kunjungan yang terukur dan
berkelanjutan.
Menurutnya, peningkatan jumlah
wisatawan harus diimbangi dengan sistem pengelolaan yang mampu melindungi
struktur candi dari kerusakan akibat tekanan fisik dan kepadatan berlebih.
“Jika tidak dikelola dengan baik, kunjungan yang masif dapat berdampak pada
keaslian dan kelestarian candi. Kita harus bijak menyeimbangkan antara akses
publik dan perlindungan warisan,” ujarnya.
Ia menekankan tiga aspek penting dalam
manajemen kunjungan:
1.
Pengaturan jumlah pengunjung untuk mencegah overcrowding.
2.
Pengawasan dan pemantauan aktivitas wisatawan.
3.
Peningkatan pelayanan dan edukasi kepada pengunjung.
Menurutnya, manajemen kunjungan
bukanlah pembatasan semata, melainkan strategi menjaga keberlanjutan Borobudur
agar tetap dapat dinikmati generasi mendatang.
Sucoro menegaskan bahwa menjaga
Borobudur adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah atau pengelola
kawasan. “Borobudur adalah simbol peradaban dan spiritualitas dunia. Kita semua
memiliki tanggung jawab moral untuk menjaganya, baik sebagai pengelola, pelaku
wisata, masyarakat lokal, maupun sebagai bangsa,” pungkasnya.
Dengan penguatan pemahaman
spiritualitas dan manajemen kunjungan yang terencana, diharapkan Borobudur
tetap berdiri megah bukan hanya sebagai monumen sejarah, tetapi sebagai sumber
inspirasi nilai-nilai kemanusiaan universal bagi dunia.
