Tema “Borobudur
sebagai Sekolah Kehidupan: Merawat Spiritualitas, Merajut Kebangsaan”
Dua puluh empat tahun perjalanan Ruwat Rawat
Borobudur telah membuktikan bahwa Borobudur bukan sekadar destinasi wisata,
melainkan sebuah "Sekolah Kehidupan". Dari akar Kapitayan hingga
nafas Islam di Nusantara, Borobudur tetap berdiri sebagai kompas spiritual yang
melampaui sekat agama dan zaman.
Di tengah suasana Ramadan yang penuh berkah, mari
sejenak berefleksi: Bagaimana nilai universal Borobudur bisa menjadi jawaban
atas tantangan kehidupan modern dan persatuan bangsa?
Hadirilah Webinar Eksklusif: “Sekolah Kehidupan:
Merawat Spiritualitas, Merajut Kebangsaan” (Dalam Rangka 24 Tahun Ruwat
Rawat Borobudur)
🗓 Minggu, 1 Maret 2026 🕗 20.00
WIB – Selesai 📍 Live via Zoom & YouTube
Bersama Narasumber Luar Biasa:
- Ki
Mandala Bhumi Mangir (Pemerhati Budaya Jawa)
- Ibu
Angelina Sondakh
(Tokoh Religi/Ustadzah)
- Novita
Siswayanti, M.A.
(Peneliti BRIN)
- Prof.
Agus Purwantoro
(Akademisi/Dosen)
Penanggap: M. Dimyati, Pandu Bagus Setiaji S.Art, Dr. Budiana
Setiawan, Dr. Maryono, Dr. William Kwan, Basuki, Gepeng Wijayanto.
✨ Segera Daftarkan Diri Anda!
Mari merawat warisan, merajut kebhinekaan.
Komentar & Perspektif Tokoh
Berikut adalah simulasi poin utama yang kemungkinan
besar akan diangkat oleh masing-masing pihak agar diskusi menjadi dinamis:
1. Dari Sisi Narasumber
- Ki
Mandala Bhumi Mangir: Akan menyoroti Sanatana Dharma atau
nilai-nilai lokal (Kapitayan) yang menjadi fondasi dasar mengapa Borobudur
dibangun di tanah Jawa. Beliau akan menekankan bahwa "Ruwat"
bukan sekadar ritual, tapi pembersihan jiwa.
- Ibu
Angelina Sondakh: Sebagai sosok yang kini mendalami Islam,
beliau akan membawa perspektif "Borobudur sebagai Tadabbur
Alam". Beliau kemungkinan membahas bagaimana nilai kesabaran dan
tingkatan nafsu dalam Islam selaras dengan tingkatan Kamadhatu, Rupadhatu,
dan Arupadhatu di Borobudur.
- Novita
Siswayanti (BRIN): Akan memberikan basis data ilmiah dan
historis. Bagaimana transformasi sosial terjadi di sekitar Borobudur tanpa
menghilangkan rasa hormat masyarakat Muslim setempat terhadap candi
tersebut.
- Prof.
Agus Purwantoro:
Akan menarik benang merah ke dunia pendidikan dan akademik. Bagaimana
Borobudur menjadi laboratorium karakter bagi generasi muda di masa depan.
Moderator
Beliau akan mengantarkan dialog secara inklusif
agar tidak dipahami secara sempit, melainkan sebagai upaya membaca kemanfaatan
nilai spiritual Borobudur bagi kehidupan bersama.
“Kita di sini tidak sedang memperdebatkan ritual
agama, tetapi belajar dari Borobudur sebagai ‘buku terbuka’ tentang bagaimana
manusia Nusantara mencapai puncak peradabannya melalui spiritualitas yang
inklusif.”
