Di kompleks Borobudur, ada satu kisah yang jarang tertulis dalam
buku-buku sejarah, namun hidup di hati masyarakat sekitar. Namanya Mbah
Belet.
Dari namanya saja, "belet" berarti ditanam — sesuatu
yang tersembunyi dan harapannya tidak perlu terlihat. Hanya namanya yang
tersisa, namun keberadaannya menyimpan makna yang sangat dalam.
Secara fisik, arca Mbah Belet memang terlihat tidak sempurna.
Permukaannya masih kasar, belum dihaluskan sehalus arca-arca lainnya di
Borobudur. Batunya tampak seolah belum selesai dipahat. Lalu timbul pertanyaan:
- Apakah
dulu batu yang tersedia memang kurang baik?
- Apakah
karena keropos atau kualitasnya yang rendah sehingga ditinggalkan begitu
saja?
Namun, lihatlah di mana arca ini diletakkan. Arca ini tidak dibuang ke
pinggir atau disembunyikan di sudut yang terlupakan. Justru arca yang dianggap
"belum jadi" ini diangkat dan ditempatkan di bagian paling atas, di
puncak harmika — tempat yang paling tinggi dan paling sakral.
Hal ini sangat selaras dengan filosofi Borobudur: "Kosong adalah
isi, isi adalah kosong."
Arca yang tidak sempurna ini justru menjadi pengingat yang paling
sempurna. Kesempurnaan bukan berarti segala sesuatu harus selesai, halus, dan
lengkap di mata kita. Bahwa yang "belum selesai", yang "kurang
sempurna", dan yang masih "kasar" pun memiliki tempat yang
mulia.
Pertanyaan besarnya: Apakah kita harus menyempurnakan Mbah Belet?
Apakah bagian yang kosong itu harus kita isi dengan imajinasi dan tafsir kita
sendiri?
Jika kita memahami makna "kosong adalah isi", maka
kekosongan itu sendiri adalah ruang yang berharga — ruang untuk kita memberi,
belajar, dan berbuat tanpa pamrih. Seperti perjalanan hidup manusia: kita
datang dengan tangan kosong, berbuat sekuat hati, dan pada akhirnya pun kita
pergi dengan tangan kosong.
Mbah Belet mengajarkan hal sederhana: tidak semua hal perlu lengkap
untuk bermakna. Kadang, yang "belum selesai" justru menyimpan
pesan yang paling utuh. Kita semua adalah pewaris yang terus belajar
menyempurnakan, namun pada akhirnya, kesempurnaan sejati ada pada keikhlasan
kita untuk memberi tanpa mengharap kembali.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar