Mbah Belet: Ketidaksempurnaan, Apakah Harus Disempurnakan? - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Sabtu, 17 Oktober 2026

Mbah Belet: Ketidaksempurnaan, Apakah Harus Disempurnakan?

Di kompleks Borobudur, ada satu kisah yang jarang tertulis dalam buku-buku sejarah, namun hidup di hati masyarakat sekitar. Namanya Mbah Belet.

Dari namanya saja, "belet" berarti ditanam — sesuatu yang tersembunyi dan harapannya tidak perlu terlihat. Hanya namanya yang tersisa, namun keberadaannya menyimpan makna yang sangat dalam.

Secara fisik, arca Mbah Belet memang terlihat tidak sempurna. Permukaannya masih kasar, belum dihaluskan sehalus arca-arca lainnya di Borobudur. Batunya tampak seolah belum selesai dipahat. Lalu timbul pertanyaan:

  • Apakah dulu batu yang tersedia memang kurang baik?
  • Apakah karena keropos atau kualitasnya yang rendah sehingga ditinggalkan begitu saja?

Namun, lihatlah di mana arca ini diletakkan. Arca ini tidak dibuang ke pinggir atau disembunyikan di sudut yang terlupakan. Justru arca yang dianggap "belum jadi" ini diangkat dan ditempatkan di bagian paling atas, di puncak harmika — tempat yang paling tinggi dan paling sakral.

Hal ini sangat selaras dengan filosofi Borobudur: "Kosong adalah isi, isi adalah kosong."

Arca yang tidak sempurna ini justru menjadi pengingat yang paling sempurna. Kesempurnaan bukan berarti segala sesuatu harus selesai, halus, dan lengkap di mata kita. Bahwa yang "belum selesai", yang "kurang sempurna", dan yang masih "kasar" pun memiliki tempat yang mulia.

Pertanyaan besarnya: Apakah kita harus menyempurnakan Mbah Belet? Apakah bagian yang kosong itu harus kita isi dengan imajinasi dan tafsir kita sendiri?

Jika kita memahami makna "kosong adalah isi", maka kekosongan itu sendiri adalah ruang yang berharga — ruang untuk kita memberi, belajar, dan berbuat tanpa pamrih. Seperti perjalanan hidup manusia: kita datang dengan tangan kosong, berbuat sekuat hati, dan pada akhirnya pun kita pergi dengan tangan kosong.

Mbah Belet mengajarkan hal sederhana: tidak semua hal perlu lengkap untuk bermakna. Kadang, yang "belum selesai" justru menyimpan pesan yang paling utuh. Kita semua adalah pewaris yang terus belajar menyempurnakan, namun pada akhirnya, kesempurnaan sejati ada pada keikhlasan kita untuk memberi tanpa mengharap kembali.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar