Mengembalikan
"Pamor" Spiritual melalui Filosofi Kiblat Papat Lima Pancer
Oleh:
Sucoro Setrodiharjo (Disusun
kembali untuk Catatan Budaya 2024)
Candi
Borobudur hari ini berdiri megah sebagai magnet pariwisata dunia, namun di
balik kemegahan fisiknya, tersimpan sebuah kegelisahan yang mendalam. Selama
lebih dari dua dekade, upaya pengembangan kepariwisataan Borobudur secara
konsisten mengedepankan aspek sightseeing (keindahan fisik) dan
mengesampingkan nilai spiritualitas yang menjadi ruh utama monumen ini. Kondisi
ini membawa Borobudur pada sebuah krisis identitas; ia ibarat sebuah keris
pusaka yang telah kehilangan "Pamor"—kekuatan batin, aura spiritual,
dan kharisma yang seharusnya terpancar dari setiap reliefnya.
Disorientasi Nilai: Dari Mandala Suci Menuju Taman
Wisata
Pergeseran
fokus Borobudur dari sebuah Mandala Suci (pusat meditasi dan perjalanan
spiritual) menjadi sebuah Taman Wisata yang komersial telah membawa
konsekuensi multidimensional. Borobudur bukan sekadar tumpukan batu, melainkan
sebuah peta jalan menuju pencerahan. Namun, kebijakan pariwisata massal telah
mengubah niat kunjungan secara drastis.
Mayoritas
pengunjung kini bukan lagi peziarah atau pembelajar nilai-nilai luhur,
melainkan wisatawan yang berfokus pada aktivitas swafoto (selfie). Niat
utama untuk mendokumentasikan diri di lokasi ikonik telah mengaburkan esensi
penghormatan terhadap situs suci. Dampak teknokratisnya pun nyata: keausan
tangga batu, beban berlebih pada struktur candi, hingga perilaku vandalisme
yang mengancam integritas fisik monumen.
Filosofi Kiblat Papat Limo Pancer sebagai Kompas
Budaya
Sebagai
respons atas degradasi nilai tersebut, kelompok akar rumput Brayat
Panangkaran sejak tahun 2003 menginisiasi gerakan Ruwat Rawat Borobudur
(RRB). Gerakan ini bukan sekadar festival seni, melainkan sebuah usaha
rekonstruksi nilai melalui filosofi Kiblat Papat Limo Pancer.
Dalam
kosmologi Jawa yang berkelindan dengan ajaran Buddhis, konsep ini memiliki
kedalaman makna:
- Papat (Empat Penjuru): Melambangkan hubungan
manusia dengan dunia luar, alam semesta, dan relasi sosial. Secara
arsitektural, ini terepresentasi pada empat arah mata angin yang mengarah
pada pusat.
- Pancer (Pusat): Melambangkan keutuhan diri
sejati, keseimbangan batin, dan orientasi pada Yang Transenden. Borobudur
adalah Pancer spiritual bagi kawasan sekitarnya.
Filosofi
ini mengajarkan bahwa pencerahan hanya dapat dicapai jika terjadi harmonisasi
antara dimensi horizontal (hubungan dengan sesama dan alam) serta dimensi
vertikal (hubungan dengan Tuhan). Melalui RRB, Borobudur diposisikan kembali
sebagai pusat budaya yang hidup, yang menyatu dengan detak jantung masyarakat
di desa-desa penyangganya.
Dilema Kebijakan: Sentralisasi vs Kemandirian Desa
Salah
satu tantangan terbesar dalam 24 tahun terakhir adalah kebijakan sentralisasi
keramaian di Zona 1 dan Zona 2. Kebijakan ini menciptakan dilema ekonomi;
sementara pemerintah berusaha menggenjot angka kunjungan pasca-erupsi Merapi
2010, aktivitas ekonomi justru menumpuk di area inti candi. Akibatnya,
keberadaan 20 Balkondes (Balai Ekonomi Desa) di kawasan penyangga seringkali
tidak berfungsi optimal karena kurangnya distribusi wisatawan ke desa-desa.
Ruwat
Rawat Borobudur menawarkan alternatif melalui "Prasasti Sosial".
Kami percaya bahwa ritual tradisi, proses pembuatan gerabah, hingga seni
pertunjukan desa adalah aset non-fisik yang jauh lebih berharga untuk
menciptakan pariwisata berkelanjutan. Contoh konkret adalah Sedekah Punthuk
Setumbu. Berawal dari tradisi lokal para penggembala (Pangon) yang
diangkat kembali pada 2006, kini Punthuk Setumbu menjadi destinasi sunrise
mandiri yang menghidupkan ekonomi masyarakat Desa Karangrejo tanpa harus
bergantung pada area inti candi.
Seni sebagai Tuntunan: Sendratari Kidung
Karmawibhangga
Melalui
RRB, kami melakukan revitalisasi terhadap ratusan tradisi lokal (tercatat
sedikitnya 274 kegiatan tradisi). Salah satu pilar utamanya adalah Sendratari
Kidung Karmawibhangga. Kesenian ini lahir dari workshop yang mengolah
narasi pada panel relief dasar Candi Borobudur—Karmawibhangga—yang
mengajarkan hukum sebab-akibat.
Pertunjukan
ini bukan sekadar tontonan, melainkan "tuntunan" yang melibatkan
seniman dari berbagai desa penyangga. Pementasan kolektif ini menegaskan bahwa
masyarakat lokal adalah penjaga kultural dan spiritual monumen tersebut. Dengan
melibatkan masyarakat secara aktif, muncul rasa memiliki (sense of belonging)
yang menjadi benteng perlindungan paling efektif bagi kelestarian candi
dibandingkan regulasi ketat sekalipun.
Jejak Literasi dan Perjuangan Swadaya
Perjuangan
24 tahun ini juga diabadikan dalam bentuk literasi. Sejak 2013, berbagai buku
telah diterbitkan sebagai sumbangsih pemikiran kritis, seperti:
- "Dari Luar Pagar Taman
Borobudur"
(Biografi Perjuangan)
- "Bumi Karma
Borobudur"
- "Harmoni Kehidupan
Dalam Ruwat Rawat Borobudur"
- "Imajinasi Peradaban
Borobudur Dari Masa Ke Masa"
- Dan enam buku lainya
Buku-buku
ini merangkum keresahan atas pengelolaan Borobudur yang terlalu komersial dan
menyuarakan pentingnya "Pariwisata Berbasis Komunitas". Menariknya,
gerakan ini bertahan selama bertahun-tahun (2003-2015) secara swadaya
mandiri, mulai dari iuran pelanggan koran hingga usaha peternakan kambing,
membuktikan bahwa dedikasi terhadap budaya tidak selalu harus bergantung pada
anggaran pemerintah.
Menuju Keseimbangan Baru
Kini, di
usia saya yang ke-74, perjuangan mengawal Borobudur memasuki babak baru melalui
kolaborasi dengan lembaga riset seperti BRIN. Hasil riset bertajuk "Dilema
Borobudur di antara Revolusi dan Rekonstruksi" menjadi bukti bahwa
kegelisahan masyarakat akar rumput kini mendapatkan perhatian akademik yang
serius.
Kesimpulan
kami tetap sama: Borobudur tidak akan pernah lestari hanya dengan memperbaiki
batunya. Ia akan lestari jika kita mampu mengembalikan "Ruh"
spiritualnya. Pelestarian sejati harus berlandaskan hati nurani dan kesadaran
kolektif pengunjung untuk melihat Candi sebagai monumen suci, bukan sekadar
komoditas. Mari kita pastikan Borobudur tetap menjadi "Pancer" yang
menyinari keseimbangan hidup manusia, alam, dan Tuhan.
