Menyambung
Marwah , Membangun Daulat
Perjalanan
pariwisata sebagai sebuah industri global bagaikan pisau bermata dua. Di satu
sisi, ia adalah mesin pertumbuhan ekonomi dan penyumbang devisa yang signifikan
bagi negara. Namun, di sisi lain, kita tidak bisa menutup mata terhadap ekses
negatif yang ditimbulkannya. Sering kali, pengelola pariwisata terjebak dalam
arus komersialisme murni—fokus pada angka kunjungan dan pendapatan—sembari
melupakan esensi pelestarian bangunan cagar budaya serta norma-norma kearifan
lokal yang semestinya menjadi fondasi utama.
Ribuan
wisatawan datang silih berganti, namun mayoritas hanya menikmati keindahan
fisik bangunan yang kian hari kian terancam oleh kerusakan alami maupun dampak
aktivitas manusia. Di balik gemerlap itu, keagungan nilai spiritualitas
universal Borobudur—sebagai warisan budaya dunia yang menyimpan pengetahuan
mendalam tentang kehidupan—justru sering kali terabaikan dan terpinggirkan.
Dua Dekade Perjuangan: Ruwat Rawat Borobudur
Selama
23 tahun, kami secara konsisten menyelenggarakan kegiatan budaya rakyat
bertajuk Ruwat Rawat Borobudur (RRB). Perjalanan panjang ini merupakan
bentuk partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga keseimbangan antara cagar
budaya fisik dan nilai spiritualnya. Namun, perjuangan ini dirasa masih jauh
dari cukup. Masyarakat perlu terus didorong untuk menyadari bahwa mereka bukan
sekadar penonton di rumah sendiri, melainkan aktor utama dalam pelestarian
nilai-nilai Borobudur.
Buku
"Borobudur dalam Seribu Tradisi Jilid 2" hadir sebagai
kelanjutan dari misi tersebut. Merangkum berbagai kegiatan bincang budaya dan
Sarasehan Budaya bertema ”Menelisik Kebermanfaatan Nilai Spiritualitas
Borobudur”, buku ini menyajikan analisis mendalam mengenai potensi budaya
yang masih hidup dan berkembang. Kami menolak jika keberhasilan budaya hanya
diukur dari parameter ekonomi. Sebaliknya, tim penulis menghadirkan "Prasasti
Sosial"—sebuah bentuk pelestarian konkret melalui 274 acara tradisi
yang kami dokumentasikan langsung di lapangan.
Tradisi, "Desanisasi", dan Fenomena
Punthuk Setumbu
Salah
satu ruh utama dalam buku ini adalah konsep "Desanisasi". Kami
percaya bahwa nilai tradisi harus dipertahankan melampaui bentuk fisiknya.
Desanisasi adalah sebuah rasa bangga: bangga menjadi petani sebagai penyedia
pangan sekaligus penyangga ekonomi, dan bangga atas "pahala" yang
terus mengalir dari setiap pohon yang ditanam. Nilai inilah yang coba
dihidupkan kembali oleh Sucoro melalui RRB, untuk mengingatkan
masyarakat di era modern agar tidak meninggalkan peran luhur para pendiri
Borobudur.
Kisah
Punthuk Setumbu pada tahun 2006 menjadi bukti nyata dalam buku ini.
Berawal dari ide sederhana untuk mengangkat potensi wisata dari sudut pandang
fotografi dan ritual adat "Pangon" (gembala), Punthuk Setumbu kini
menjadi ikon pariwisata berbasis kerakyatan. Keberhasilannya bukan datang
secara instan, melainkan melalui proses dialog panjang dan sarasehan budaya
untuk mengubah paradigma masyarakat dari rasa curiga terhadap tradisi menjadi
rasa memiliki (handarbeni).
Menantang Arus Pragmatisme: Sebuah Kritik dan
Harapan
Buku
ini juga tidak segan memotret realitas yang pahit. Pengelolaan Borobudur yang
saat ini terbelah dan cenderung sentralistik pada zona inti sering kali memicu
persoalan sosial serta belum memberikan manfaat luas bagi masyarakat kawasan.
Kami melihat bagaimana konsep one product one village melalui Balkondes
belum sepenuhnya berjalan, bahkan beberapa di antaranya terbengkalai.
Sebagai
saksi perubahan paradigma sejak tahun 1980-an, Sucoro—yang sering disebut
"Mbah Mbudur"—menekankan pentingnya mengelola Borobudur sebagai
tempat yang "Suci", bukan sekadar aset bisnis. Kekhawatiran
akan hilangnya nilai spiritualitas akibat pemagaran pembatas dan orientasi
pendapatan (PT/BUMN) menjadi catatan kritis dalam buku ini. Pelestarian sejati
harus melibatkan hati masyarakat, bukan sekadar hitungan laba-rugi.
Jejaring Kolektif untuk Masa Depan
Semangat
untuk mempertahankan marwah spiritualitas ini tidak berjalan sendirian. Dukungan
mengalir dari berbagai kalangan, mulai dari akademisi UGM, ISI Solo, para
peneliti BRIN, hingga tokoh budayawan nasional. Dokumentasi yang disimpan rapi
oleh lembaga Warung Info Jagad Cleguk—mulai dari kliping koran hingga
rekaman audio-visual—adalah harta karun sejarah yang kami persembahkan untuk
generasi mendatang.
Buku
ini adalah undangan untuk kembali ke akar. Melalui karya kreatif seperti Sendratari
Kidung Karma Wibangga dan ritual Sedekah Bumi, kita belajar bahwa
Borobudur dan desa-desa di sekelilingnya adalah satu kesatuan organik.
Semoga
buku ini menjadi inspirasi bagi para pengambil kebijakan, pelaku pariwisata,
dan masyarakat luas untuk membangun pariwisata yang berkelanjutan—pariwisata
yang memanusiakan manusia, menghormati alam, dan menjunjung tinggi Tuhan Sang
Pencipta. Mari kita pastikan generasi masa depan tidak hanya mewarisi tumpukan
batu yang megah, tetapi juga mewarisi jiwa dan karakter bangsa yang tertanam
kuat dalam setiap butir tradisinya.
Borobudur,
Februari 2024 Tim Penulis & Warung Info Jagad Cleguk
