Menyambung Napas Spiritualitas, Membangun
Pariwisata Berbasis tradisi
Borobudur bukan sekadar tumpukan batu yang
membisu. Ia adalah "Kitab Kehidupan" raksasa yang menyatukan
kemegahan fisik (tangible) dengan denyut nadi tradisi yang tak kasatmata
(intangible). Di balik reliefnya yang agung, tersimpan ribuan helai
kisah kearifan lokal yang selama berabad-abad menjadi napas masyarakat di
sekitarnya.
Selama 22 tahun, gerakan Ruwat Rawat Borobudur
telah membuktikan sebuah kebenaran fundamental: melestarikan cagar budaya tidak
mungkin dipisahkan dari melestarikan manusianya. Buku ini adalah kristalisasi
dari pergulatan batin dan kerja nyata dua dekade dalam menjaga kohesi
spiritualitas Borobudur. Melalui dokumentasi 274 acara tradisi, buku ini
mengajak kita melihat Borobudur bukan sebagai artefak masa lalu, melainkan
sebagai "Prasasti Sosial" yang terus hidup.
Spiritualitas yang Membumi: Penyangga Peradaban
Buku ini menelisik bagaimana kearifan lokal—mulai
dari ritual Merti Dusun hingga sedekah sungai—bukan sekadar pentas
hiburan. Tradisi ini adalah doa kolektif, sebuah esensi "Kapitayan"
yang menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Inilah
fondasi spiritual Nusantara yang telah ada jauh sebelum batu-batu candi
ditumpuk, dan kini menjadi kunci keselamatan Borobudur di masa depan.
Menantang Pragmatisme: Pariwisata Berbasis Nilai
Di tengah deru industri pariwisata yang sering
kali hanya mengejar angka komersial, marwah Borobudur terancam terkikis. Banyak
nilai luhur yang perlahan menjadi asing di tanahnya sendiri. Buku ini hadir
sebagai tawaran solusi dan jalan keluar. Penulis menegaskan bahwa
pariwisata masa depan haruslah pariwisata yang berkelanjutan—sebuah industri
yang tidak menghancurkan objeknya, melainkan pariwisata yang berakar pada
penghormatan terhadap norma, nilai spiritualitas, dan kesejahteraan masyarakat
lokal.
Visi Kedepan: Menjadi Cahaya Dunia
"Borobudur dalam Seribu Tradisi"
disiapkan sebagai "Pustaka dan Pujangga" bagi generasi mendatang.
Melalui rangkuman sarasehan budaya dan data otentik lapangan, Sucoro
bersama Tim Penulis mengajak kita menyadari sebuah paradigma baru: Pelestarian
Borobudur yang sejati terletak pada kelestarian spiritualitas manusianya.
Buku ini adalah undangan untuk menyelaraskan
kemajuan zaman dengan kedalaman batin. Agar Borobudur tetap menjadi cahaya bagi
peradaban dunia, sekaligus menjadi rumah yang hangat bagi tradisi yang
menyejahterakan masyarakatnya.
"Jangan sampai kita hanya mewarisi
bangunan yang megah, namun kehilangan jiwa dan karakter bangsa yang tertanam
dalam setiap butir tradisinya."
