DILEMA MITOS,EKOLOGI DAN KESELAMATAN LINGKUNGAN

Ruwat Rawat Borobudur
0

 




WEBINAR SERIES

Urun Rembuk

Menyikapi Tetenger Randu Alas

 Studi Kasus penebangan pohon Randu Alas di Desa Tuksongo

Oleh Sucoro Setrodiharjo

1.    Latar Belakang

Desa Tuksongo terletak di ketinggian 380 mdpl dengan panorama Perbukitan Menoreh, Desa Tuksongo kini menjadi ikon wisata VW Safari di kawasan Borobudur. Nama desa ini merupakan penghormatan bagi Kyai Ahmad Abdussalam, seorang pejuang sekaligus murid Pangeran Diponegoro. Selain kekayaan alamnya, Tuksongo menyimpan jejak arkeologis penting seperti batu purba Watu Adeg dan Situs Dipan peninggalan Mataram Kuno.

Lebih dari sekadar situs sejarah, Tuksongo menjaga memori ekologis melalui pohon-pohon raksasa seperti Randualas, Beringin, Asem, dan Jati. Bagi masyarakat, pohon-pohon tua ini adalah tetenger (penanda zaman) dan petilasan hidup yang berkaitan erat dengan sejarah Borobudur.

Keberadaannya bukan hanya berfungsi sebagai penyangga kelestarian alam, tetapi juga simbol keharmonisan relasi antara manusia, lingkungan, dan Sang Pencipta. Hal ini menegaskan posisi strategis Tuksongo sebagai kawasan penyangga Borobudur yang terhubung secara nyata tidak hanya melalui kedekatan geografis, tetapi juga melalui ikatan spiritual yang harmonis.

Masyarakat setempat memegang teguh ajaran leluhur tentang pandangan hidup holistik. Pohon, dengan akar yang membumi dan batang yang menjulang ke langit, adalah representasi hubungan manusia dengan Tuhan. Prinsipnya jelas: kedekatan dengan Sang Pencipta harus dibuktikan melalui penghormatan terhadap sesama ciptaan dan pelestarian lingkungan. Konsistensi warga dalam menjaga pohon-pohon ini bukanlah bentuk irasionalitas, melainkan pengejawantahan pengetahuan lokal untuk mencegah bencana dan menjaga kesuburan tanah Nusantara.

Realitas alam tak bisa ditolak; pohon Randualas raksasa di Tuksongo kini mulai meranggas dan mati karena usia. Kondisi ini melahirkan dilema antara mempertahankan simbol budaya atau menjaga keselamatan warga dari ancaman tumbangnya pohon.

Dalam menghadapi perpisahan ini, warga Tuksongo melakukan etika "pamitan" melalui ritual selamatan sebagai bentuk "ketuk pintu langit". Upaya ini menggabungkan dua aspek:

·            Aspek Spiritual: Penghormatan terakhir kepada alam agar prosesi berjalan tanpa aral melintang (pitulungan).

·            Aspek Profesional: Melibatkan "ahli glondong" (tukang kayu profesional) dan dinas terkait untuk memastikan penebangan dilakukan secara teknis dan aman.

Meskipun prosesi penebangan didasari oleh rasa cinta dan keselamatan, muncul sebuah "suara panggilan jiwa" dari perspektif ahli lingkungan. Terdapat argumen bahwa pohon yang tampak meranggas secara biologis belum tentu sepenuhnya "mati" dalam ekosistem, atau memiliki fungsi lain dalam konservasi lahan.

Ketegangan antara mitos/budaya, keselamatan warga, dan konservasi murni inilah yang menjadi inti dari diskusi ini. Bagaimana kita menempatkan martabat alam di detik terakhir perpisahan tanpa mengabaikan aspek ekologis dan teknis?

2.       Tujuan Diskusi

Melalui semangat 24 Tahun Ruwat Rawat Borobudur, diskusi ini menggunakan konsep filosofi Jawa "Kiblat Papat Limo Pancer" sebagai kompas untuk:

1.      Mencari kesepahaman antara kearifan lokal (tradisi selamatan/mitos) dengan kebutuhan teknis keselamatan lingkungan.

2.      Mendengarkan perspektif ekologi mengenai status pohon tua di kawasan warisan dunia.

3.      Merumuskan standar etika dalam berinteraksi dengan alam yang sudah memberi kehidupan selama ratusan tahun, agar tidak hanya berakhir sebagai komoditas, melainkan tetap menjadi sebuah penghormatan.

3.       Narasumber

1.      Bapak Agus  Ismanto ( BRIN )

2.      Afi Nursafingi. ( BRIN )

3.      Novita Siswayanti ( BRIN )

4.      Hadmojo Warga Tuksongo

5.      A’an Warga Tuksongo

6.      Bapak Eko Hadi Pemerhati Budaya

 

4.       Webinar Series  akan diselenggarakan  besuk :

Hari / Tanggal :Kamis 15 .Januairi 2026

Pukul               :  19.30 WIB

Metode               : Link Zoom menyusul

 

 


Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default