MIMPI EVALUASI PENGELOLAAN BOROBUDUR BERDASARKAN MODAL SOSIAL

Ruwat Rawat Borobudur
0

 




Oleh Sucoro Setrodiharjo 

Sebagai warisan budaya dunia, pengelolaan Borobudur masih terus menjadi perhatian banyak pihak yang mendambakan terwujudnya model pengelolaan yang  ideal , sehingga muncul wajah baru. Saat ini para pegiat budaya masyarakat terus prihatin atas terabaikannya nilai-nilai spiritual seiring meningkatnya aktifitas pariwisata.

Sejak bergesernya fungsi Borobudur menjadi destinasi wisata, Borobudur terus-menerus menuai banyak dilema persoalan yang terkait dengan Perlindungan, Pelestarian, dan Pemanfaatan. Keseimbangan antara Perlindungan, Pelestarian, dan Pemanfaatan tentunya harus menjadi pertimbangan penting dalam menentukan kebijakan pengelolaan Borobudur. Sayang keseimbangan tiga hal penting tersebut sulit dicapai. Jumlah pengunjung yang besar telah mengancam kelestarian. peran serta masyarakat terabaikan. Di sisi lain nilai tradisi akulturasi budaya, spiritualitas yang merupakan “ruh" fungsi  pendirian Borobudur belum menjadi perhatian penting dalam pengelolaan Borobudur.

 Dengan demikian, pengelolaan Borobudur memerlukan pendekatan yang komprehensif dan berkelanjutan untuk menjaga keseimbangan antara perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan situs.

 Untuk itu belajar dari kasus Borobudur, kami mencoba menggarisbawahi berbagai persoalan  utama Borobudur yang terletak pada interpretasi yang berbeda-beda dari setiap orang atau entitas, dengan sudut pandang dan tujuan yang berbeda pula. Hal ini dapat menyebabkan konflik kepentingan dan pengelolaan kurang baik bahkan tidak partisipatif ketika masyarakat tidak terlibat. Kebersamaan dan sinergi antara berbagai kepentingan menjadi penting untuk mencapai pengelolaan Borobudur yang efektif, holistik dan berkelanjutan.

Oleh karenanya kami Panitia 23 Tahun Ruwat Rawat Borobudur dengan bermodalkan data dan pengalaman selama menyelenggarakan event budaya, kembali berpartisipasi menyelenggarakan Kompetisi Opini- Kongres Borobudur. Kompetisi Opini-Kongres Borobudur  bertujuan untuk menganalisis dan mengkritisi perkembangan representasi serta refleksi dinamika sosial budaya kawasan wisata Borobudur. Tujuan akhirnya adalah mendokumentasikan melalui buku-buku yang telah diterbitkan tentang pengalaman yang telah diperoleh melalui kegiatan tersebut untuk kepentingan generasi mendatang juga bagi ilmu pengetahuan dan pembangunan bangsa. Selain itu sebagai sumbangsih pemikiran bagi pengelola dan masyarakat untuk meningkatkan pemahaman tentang pentingnya pelestarian dan pengelolaan Borobudur yang berkelanjutan.

 Merujuk dari pemikiran tersbut diatas , serta mempertimbangkan Rumusan Hasil Sementara dari Kompetisi Opini-Kongres Borobudur-3 yang telah mengidentifikasi beberapa poin penting untuk pengelolaan Borobudur yang lebih baik. Berikut adalah beberapa rekomendasi yang dapat dipertimbangkan berdasarkan pemikiran artikel yang masuk .Bahwa Candi Borobudur merupakan warisan budaya dunia yang memiliki nilai-nilai spiritualitas yang mendalam dan universal . Sebagai situs warisan dunia UNESCO dengan Outstanding Universal Value (OUV), Borobudur memiliki keunikan dan keistimewaan yang tidak hanya penting bagi bangsa Indonesia, tetapi juga bagi dunia. Namun, sejak alih pengelolaan ( dari Taman Purbakala ke taman Wisata candi Borobudur dan Prambanan ) dan Borobudur dijadikan destinasi wisata, banyak persoalan yang muncul terkait dengan pengelolaan yang membutuhkan EVALUASI baik jangka pendek maupun panjang. Evaluasi tersebut antara lain :

1)      Manajemen pengunjung: Pentingnya manajerial kunjungan ke Borobudur baik itu Candi maupun Kawasan untuk mengoptimalkan pengalaman wisata dan meminimalkan dampak negatif.

2)      Sinergitas antar Stakeholder: Pentingnya sinergitas kebersamaan program para stakeholder antara akademisi, masyarakat (komunitas), pemerintah, BUMN, Kemenbud, KemenPar, Agama untuk mencapai pengelolaan Borobudur yang efektif dan berkelanjutan.

3)      Spiritualitas Borobudur: Pentingnya keterkaitan tema spiritualitas sebagai roh eksistensi Borobudur yang memberikan kedamaian dan dapat dirasakan oleh stakeholder pelaku wisata, umat beragama, masyarakat secara luas.

4)      Dharmayatra: Dharmayatra atau Pilgrime dapat menjadi salah satu paradigma menggali makna pariwisata berkelanjutan berbasis budaya, wisata spiritual yang dapat meningkatkan kesadaran keragaman budaya dan spiritualitas.

5)      Partisipasi Masyarakat: Pentingnya partisipasi masyarakat dalam pengelolaan Borobudur sebagai subjek pelaku wisata, tour planner yang memiliki sertifikasi dan kebebasan berpendapat dan berkreatifitas.

6)      Pengembangan Wisata Berbasis Budaya: Pengembangan wisata berbasis budaya dan tradisi lokal Borobudur dapat menjadi daya tarik wisata yang unik dan autentik.

7)      Event Budaya Nasional: Adanya event budaya nasional sebagai kalender budaya tahunan di Borobudur berbasis tradisi dan kearifan lokal Borobudur dapat meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap nilai-nilai budaya dan spiritualitas Borobudur.

8)      Evaluasi tata ruang pada pengelolaan Borobudur sangat penting untuk memastikan bahwa situs warisan dunia ini dikelola dengan baik dan berkelanjutan.antara lain ;

1.      Kesesuaian Pemanfaatan Ruang: Evaluasi kesesuaian pemanfaatan ruang di Kawasan Borobudur dengan Rencana Tata Ruang yang telah ditetapkan. Hal ini penting untuk mencegah pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dan mengancam kelestarian situs.

2.      Pengawasan Pemanfaatan Ruang: Pengawasan pemanfaatan ruang di Kawasan Borobudur perlu dilakukan secara rutin untuk memantau perubahan kualitas tata ruang dan lingkungan.

3.      Penetapan Zonasi: Penetapan zonasi yang tepat sangat penting untuk melindungi keseluruhan aset kawasan dan mencegah konflik pemanfaatan dan pengelolaan.

4.      Perencanaan Pengelolaan Kawasan: Perencanaan pengelolaan tata ruang kawasan yang tuntas ,efektif keperhensif dalam perencanaanya  sangat penting untuk memastikan bahwa Kawasan Borobudur dikelola dengan baik dan berkelanjutan.Mengingat keberadaan Borobudur telah menjadi sumber penghidupan masyarakat

5.      Data dan Pemetaan: Pengelolaan tata ruang Kawasan Borobudur memerlukan data yang lengkap dan akurat. Pemetaan dan pengelolaan data Kawasan Borobudur yang mencakup area ±1337 Hektar sangat penting untuk mendukung upaya pengelolaan tata ruang yang efektif.

6.       Evaluasi tata ruang yang komprehensif, pengelola Borobudur dapat mengidentifikasi masalah dan mengembangkan solusi untuk meningkatkan pengelolaan dan pelestarian situs warisan dunia ini.

Persoalan-persoalan yang dihadapi oleh pengelola Borobudur memang sangat kompleks dan memerlukan perhatian yang serius. Berikut beberapa analisis lebih lanjut tentang persoalan-persoalan tersebut:

1.      Keseimbangan antara Pariwisata dan Pelestarian: Pengelolaan Borobudur perlu menemukan keseimbangan yang tepat antara pengembangan pariwisata dan pelestarian cagar budaya lengkap dengan nilai-nilai spiritual dan kebudayaan. Hal ini memerlukan perencanaan yang matang dan implementasi yang efektif.

2.       Jumlah Pengunjung yang Besar: Jumlah pengunjung yang besar telah mengancam kelestarian situs dan perlu dikelola dengan baik, yang tentunya menjadi tantangan bagi pengelola untuk mewujudkan pengelolaan yang berkelanjutan

3.      Peran serta Masyarakat: Peran serta masyarakat terabaikan dan perlu ditingkatkan untuk mencapai pengelolaan Borobudur yang efektif dan berkelanjutan.

4.      Nilai Tradisi dan Spiritualitas: Nilai tradisi akulturasi budaya dan spiritualitas yang merupakan "ruh" fungsi pendirian Borobudur perlu menjadi perhatian penting dalam pengelolaan Borobudur. Pengelola perlu memastikan bahwa nilai-nilai tersebut tetap terjaga dan dihormati dalam pengelolaan Borobudur.

Dengan demikian dapat kita lihat persoalan tersebut adalah merupakan tantangan bagi pengelola untuk dapat mewujudkan pengelolaan yang baik dan berkelanjutan

 

 

 

 


Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default