MITOS RANDU ALAS TUKSONGO DAN BERINGIN PUTIH DI RINGIN PUTIH

Ruwat Rawat Borobudur
0

 





Redaksi Ruwat Rawat Borobudur

Keberadaan pohon randu alas di Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, beberapa hari terakhir menjadi perhatian publik. Video proses penebangan yang beredar melalui media sosial memicu beragam respons, baik yang mendukung maupun yang menolak langkah tersebut.

Di kawasan sekitar Candi Borobudur, sejumlah pohon tua seperti randu alas, beringin, preh, dan jati kerap dipandang memiliki nilai spiritual dan budaya. Di Desa Tuksongo, pohon randu alas berusia ratusan tahun dengan diameter besar telah lama dianggap sebagai pohon keramat sekaligus ikon desa.

Kondisi Kritis Pohon Randu Alas

Secara alami, randu alas mengalami siklus meranggas saat musim kemarau dan kembali menghijau ketika musim hujan tiba. Namun dalam satu tahun terakhir, pohon tersebut tidak menunjukkan pertumbuhan normal. Daun tidak kembali tumbuh meski musim penghujan telah datang. Kulit batang utama mengelupas, lapisan kambium mengering, ditumbuhi jamur, bahkan beberapa bagian menunjukkan tanda-tanda pembusukan. Ranting dan dahan kering mulai berjatuhan saat tertiup angin.

Beberapa hari sebelum rencana penebangan, dahan yang patah dilaporkan menimpa rumah dan kendaraan warga hingga menyebabkan kerusakan. Atas dasar pertimbangan keselamatan, Pemerintah Desa Tuksongo melayangkan surat kepada Pemerintah Kabupaten Magelang dan memutuskan melakukan penebangan. Namun, pemerintah daerah meminta agar proses dihentikan sementara untuk dilakukan kajian lebih mendalam mengingat nilai historis dan budaya pohon tersebut bagi masyarakat.

Secara teknis, kondisi pohon dinilai kritis akibat faktor usia. Lapisan kambium yang berfungsi menyalurkan nutrisi dari akar ke daun mengering, sehingga transportasi makanan terhenti. Kayu randu yang bersifat lunak juga lebih rentan lapuk dan terserang jamur dibanding kayu keras seperti jati atau ulin. Hal ini meningkatkan risiko patahnya ranting atau bahkan robohnya batang utama.

Meski demikian, pada bagian akar dan kulit tertentu masih terlihat tunas-tunas baru tumbuh—yang oleh warga disebut sebagai “titisan” randu alas.

Belajar dari Wringin Putih

Perdebatan mengenai randu alas mengingatkan warga pada kisah pohon wringin putih kembar di Desa Wringin Putih. Konon, ketika pohon tersebut ditebang karena dianggap hampir mati, desa mengalami kekeringan dan kehilangan identitas simboliknya. Beberapa tahun kemudian dilakukan penanaman kembali, dan sumber-sumber air disebut kembali melimpah serta menghidupkan pertanian warga.

Kisah lain datang dari Salaman, di mana pohon beringin tua yang ditebang karena faktor usia disebut-sebut membuat wilayah tersebut kehilangan ikon yang selama ini melekat dalam ingatan kolektif masyarakat.

Cerita-cerita ini membentuk keyakinan bahwa pohon tua bukan sekadar vegetasi, melainkan “prasasti sosial” yang menyimpan memori, identitas, dan keseimbangan ekologis desa.

Ikon Desa dan Tengger Sosial

Bagi masyarakat Tuksongo, randu alas bukan hanya pohon besar. Ia adalah ruang sosial tempat warga beraktivitas, penanda sejarah desa, sekaligus ikon wisata yang menghadirkan panorama Perbukitan Menoreh. Banyak pengunjung datang untuk berfoto dan merasakan suasana spiritual desa di bawah rindangnya pohon tersebut.

Karena itu, muncul berbagai usulan agar penanganannya tidak semata-mata berujung pada penebangan total. Di antaranya adalah memangkas bagian berbahaya, memasang jaring pengaman di bawah dahan, melakukan pengawetan batang dengan perlindungan khusus, hingga menjadikan sisa batang sebagai museum budaya atau monumen desa.

Tiga tunas yang tumbuh juga diusulkan untuk dibibitkan dan ditanam kembali di sekitar lokasi, agar kesinambungan historis tidak terputus dari generasi ke generasi. Bahkan, proses pembibitan dan pelestarian tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari event atau festival budaya desa.

Mencari Jalan Tengah

Dilema randu alas mempertemukan dua kepentingan: keselamatan publik dan pelestarian warisan budaya. Dari sisi keamanan, risiko pohon tua yang rapuh tidak bisa diabaikan. Namun dari sisi nilai, kemanfaatan simbolik dan ekologisnya juga sangat besar.

Karena itu, berbagai pihak mendorong solusi yang bijak dan komprehensif berbasis kajian teknis, pertimbangan budaya, serta aspirasi masyarakat. Apakah pohon akan diawetkan, direduksi sebagian untuk mengurangi risiko, atau direlokasi dalam bentuk simbolik melalui pembibitan, semua membutuhkan perhitungan matang, termasuk biaya dan perawatan jangka panjang.

Yang jelas, polemik randu alas bukan sekadar persoalan menebang atau tidak menebang pohon. Ia menyentuh relasi manusia dengan alam, ingatan kolektif desa, dan cara masyarakat Borobudur memaknai warisan hidup di sekitarnya.

Di tengah perubahan zaman, randu alas Tuksongo menjadi pengingat bahwa setiap keputusan terhadap pohon tua bukan hanya soal kayu dan batang, melainkan juga tentang akar budaya dan keseimbangan kehidupan.

 


Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default