Redaksi Ruwat Rawat Borobudur
Gerakan budaya rakyat Ruwat Rawat Borobudur (RRB)
ke-24 kembali digelar oleh Yayasan Brayat Panangkaran melalui agenda Bincang
Budaya dan Pariwisata bertema “Menggali Akar Spiritual Borobudur dari Desa
Kalisalak: Dari Petani Spiritual dan Seni Gatholoco, Merawat Borobudur dengan
Harmoni.”
Kegiatan ini dilaksanakan secara hybrid (luring dan
daring) pada Rabu (21/1/2026) di Balai Desa Kalisalak, Kecamatan Salaman,
Kabupaten Magelang.
Borobudur dan Akar Spiritual
Petani
Forum ini lahir dari kesadaran bahwa Candi
Borobudur bukan sekadar monumen batu, melainkan jejak spiritual peradaban
petani abad ke-8 yang hidup dalam keselarasan dengan tanah, air, dan siklus
alam. Para leluhur membangun Borobudur bukan dalam kegaduhan kepentingan,
melainkan melalui ketulusan doa, kesabaran, dan harmoni hidup.
Pendiri Yayasan Brayat Panangkaran, Sucoro
Setrodiharjo, menegaskan bahwa pemilihan Desa Kalisalak meski berjarak sekitar
12 kilometer dari Borobudur—bukan tanpa alasan. Desa ini dipandang sebagai
penyangga spiritual, karena tradisi pertanian dan pengelolaan airnya
merepresentasikan etos yang sama dengan ruh pembangunan Borobudur.
“Borobudur tidak lepas dari tanah dan air. Ada
jejak Kali Tangsi yang dahulu menjadi sumber kehidupan. Kita ingin
menghubungkan kembali ingatan masyarakat Kalisalak dengan Borobudur,” ujarnya.
Kegiatan ini juga menjadi refleksi 41 tahun tragedi
bom Borobudur pada 21 Januari 1985. Meski luka fisik telah pulih, forum ini
menjadi pengingat bahwa warisan suci akan selalu rapuh bila tercerabut dari
keselarasan nurani masyarakat sekitarnya.
Gatholoco: Mandala Lisan Petani
Dalam kegiatan tersebut, kesenian tradisional
Gatholoco Madyo Pitutur tampil sebagai bagian penting dari refleksi budaya.
Seni rakyat yang sarat pitutur luhur ini dipandang sebagai “arsip hidup”
spiritualitas petani Kalisalak.
Jika Borobudur adalah mandala batu, maka Gatholoco
adalah mandala lisan yang hidup dan bergerak di tengah masyarakat. Melalui
pitutur tentang eling lan waspada, kerja kolektif, serta harmoni dengan alam,
kesenian ini menjadi pengingat bahwa kehidupan harus berada di titik
madya—seimbang.
Kepala Desa Kalisalak, Abdul Chamid, menyampaikan
apresiasi atas dipilihnya desanya sebagai tuan rumah. Ia mengungkapkan
kekhawatiran terhadap alih fungsi lahan pertanian yang kian meningkat.
“Pelestarian jangan sampai hanya menjadi slogan. Sawah dan air harus tetap
dijaga untuk anak cucu,” katanya.
Diskusi Lintas Elemen
Rangkaian acara diawali dengan performance art
gerak teatrikal dan monolog gugatan sejarah petani oleh Tim Jagakali dan RRB.
Kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari Novita Siswayanti (BRIN) dan Bupati
Magelang, sabda dalam tembang pitutur luhur, serta pidato kebudayaan oleh Prof.
Dr. Agus Purwantoro, M.Sn dari UNS.
Sesi renungan “Kiblat Papat Limo Pancer”
menghadirkan Gus Haris (Watu Congol Muntilan), Bhikku Dikthi Sampano, dan
perwakilan PHDI Jawa Tengah sebagai simbol harmonisasi lintas iman.
Dialog budaya dan pariwisata juga menghadirkan
sejumlah narasumber, di antaranya Muhamad Khoirul Arif Isnanto, Dr. Agus
Ismanto (BRIN), Pandu Bagas Setyaji, serta Dr. Andi Bermana (BRIN). Forum ini mempertemukan
pemerintah, agamawan, budayawan, kelompok tani, pelaku wisata, dan masyarakat
dalam satu ruang refleksi.
Petani setempat, Moh. Taufik Isnanto, menambahkan
bahwa sistem irigasi Kali Tangsi yang mengalir hingga Kalisalak dikelola secara
kolektif oleh Persatuan Petani Pemakai Air. Data debit air bahkan dicatat
setiap hari sebagai bagian dari tanggung jawab menjaga keberlanjutan pertanian.
Meruwat Ego, Merawat Warisan
RRB ke-24 bukan sekadar peringatan, melainkan
gugatan nurani. Mengapa leluhur mampu membangun peradaban spiritual yang agung,
sementara manusia modern kerap terjebak dalam kegaduhan tafsir dan kepentingan?
Forum ini menegaskan tiga hal utama: mendengar
suara petani sebagai penjaga nilai, membaca ulang Gatholoco sebagai navigasi
moral, dan menempatkan Borobudur sebagai pusat spiritual lintas iman, bukan
sekadar komoditas destinasi.
Di Desa Kalisalak, spiritualitas tidak bertengger
di menara gading. Ia hidup di lumpur sawah, dalam aliran air irigasi, dalam
tawa Gatholoco, dan dalam ayunan cangkul petani. Dari sanalah Borobudur dulu
dibangun dengan ketulusan. Dan dari sanalah pula, warisan itu harus terus
dirawat dengan kejujuran niat dan harmoni.
