Borobudur Lebih dari Sekadar Monumen Batu
Candi Borobudur adalah kristalisasi kekayaan
warisan budaya yang merangkum filsafat, ilmu pengetahuan, adat istiadat, dan
perilaku manusia masa lalu. Ia merupakan perpaduan antara situs pusaka, seni, kosmologi,
tata ruang, dan mitos yang menyimpan dimensi makna mendalam. Berdirinya
Borobudur didasari oleh pemaknaan tradisi spiritualitas yang melibatkan
pengetahuan budaya serta kepekaan masyarakat terhadap lingkungan hidupnya.
Pergulatan adalah bagian tak terpisahkan dari
proses kehidupan sebuah perjuangan panjang yang tidak akan berakhir selama
manusia masih memiliki mimpi dan harapan. Sejak zaman pra-aksara, pergulatan
ini telah memengaruhi aspek kepercayaan manusia.
Dahulu, sebelum mengenal nama Sang Pencipta secara
formal, masyarakat menganut kepercayaan yang disebut Kapitayan. Manusia
memulai perjalanan spiritualnya dengan memuja kekuatan alam: tinggal di gua,
menyembah rimba, kayu, batu, hingga gunung. Kesadaran akan ketergantungan pada
air, binatang, bumi, dan hujan dari langit perlahan menuntun mereka pada
pemahaman tentang keberadaan "Kekuatan Besar" yang kini kita sebut
sebagai Spiritualitas.
Agama Hindu dan Buddha (dari India), Islam (dari
Arab), serta Kristen dan Katolik (dari Palestina) hadir di Tanah Jawa saat
masyarakatnya telah memiliki fondasi kepercayaan Kapitayan. Sejarah
mengungkap keterkaitan erat antara masyarakat Jawa Kuno di masa pendirian
Borobudur dengan wilayah luar, yang memperjelas hubungan antarmanusia di zaman
itu. Oleh karena itu, relief Candi Borobudur tidak hanya bicara tentang ajaran
Buddha, tetapi juga menggambarkan pengetahuan kehidupan lokal yang kisahnya
dipadukan dengan perjalanan Sang Buddha di zaman Mataram Kuno.
Manusia terus mencari Sang Pencipta melalui
"ulah laku budaya" seperti meditasi dan kontemplasi di tempat-tempat
sunyi yang dianggap mampu menghubungkan energi spiritual. Dalam menentukan
tempat suci, arah mata angin atau kiblat menjadi pertimbangan vital demi
kesejahteraan yang seimbang:
- Barat:
Kiblat spiritual dan keseimbangan hidup.
- Utara:
Dimensi kesuburan alam dan pertanian.
- Timur:
Dimensi ekonomi dan perdagangan.
- Selatan:
Dimensi sosial, ketentraman, dan kedamaian.
Borobudur, yang sering disebut sebagai Bumi
Sambhara Budhara (Bukit Himpunan Kebajikan Sepuluh Tingkatan Bodhisatwa),
berdiri di atas punden berundak di tengah danau purba. Lokasi ini dipilih
karena kesuciannya yang diyakini mampu menghubungkan energi manusia, alam, dan
Tuhan.Borobudur adalah "Maha Kitab" dari batu yang menyajikan ajaran
kehidupan universal tanpa batasan suku, ras, atau agama. Melalui tiga
tingkatannya:
- Kamadhatu
(Karmawibhangga): Menggambarkan hukum sebab-akibat dan
nafsu manusia.
- Rupadhatu:
Perjalanan manusia mulai meninggalkan bentuk keduniawian.
- Arupadhatu:
Pencapaian alam Nirwana yang tanpa wujud.
Pesan-pesan ini dibaca melalui tradisi Pradaksina
berjalan searah jarum jam sambil bersikap tangan Anjali—sebagai laku
batin untuk memunculkan nilai kesabaran, keikhlasan, dan ketulusan dalam
kehidupan sehari-hari.
Sejarah memberikan benang merah melalui jendela
naskah kuno (primbon, babad) dan relief. Namun, ada satu "prasasti
sosial" yang sering terlupakan: Penamaan tempat (Toponimi). Nama
seperti Candi Mendut (Venu Vana Mandira - Rumpun Bambu), Candi Pawon (Bajranala
- Api Halilintar), hingga Dusun Bumi Segoro (diduga dari Bumi Sambhara)
adalah kunci sejarah yang jarang dikaji dari sisi budaya masyarakat.
Di sinilah Brayat Panangkaran mengambil
peran penting. Melalui kolaborasi seni dan budaya, masyarakat bergerak aktif
melestarikan warisan ini. Salah satu bukti nyatanya adalah penciptaan "Sendratari
Kidung Karma Wibangga". Karya kreatif ini:
- Mengambil
cerita dari relief dasar Borobudur (Hukum Sebab Akibat).
- Dipadukan
dengan sejarah/prasasti sosial desa-desa di sekitar kawasan.
- Berbasis
pada kesenian rakyat yang hidup di tengah masyarakat.
Upaya pelestarian yang dilakukan oleh masyarakat
bukan hanya soal menjaga masa lalu, tetapi juga membangun masa depan. Dengan
menjadikan keanekaragaman budaya sebagai modal dasar, Borobudur dapat
dipromosikan sebagai tujuan wisata dunia yang berkualitas.
Melalui kohesi spiritualitas ini, pariwisata tidak
hanya menjadi sektor ekonomi dan devisa, tetapi juga menjadi pendorong
persatuan nasional serta pesan perdamaian bagi bangsa-bangsa di dunia, seraya
memastikan Warisan Budaya Agung Candi Borobudur tetap hidup dalam denyut nadi masyarakatnya.
