Legenda Beringin Putih dan Keraton Kajiman
Hanya berjarak 2 kilometer di sebelah barat
kemegahan Candi Borobudur, Desa Wringinputih menyimpan misteri yang
melampaui logika visual. Meski secara fisik tak lagi ditemukan pohon beringin
berbatang putih, nama desa ini berakar kuat pada legenda Beringin Putih Gaib.
Masyarakat meyakini lokasi tersebut adalah Keraton
Kajiman, kerajaan tak kasat mata yang diperintah oleh Ratu Genowati.
Mitos menyebutkan bahwa bayangan pohon gaib ini memiliki "tuah"
spiritual: siapa pun yang bernaung di bawahnya saat terjadi pembuahan,
keturunannya akan terlahir putih atau "bule". Bahkan, sebuah fragmen
legenda mengisahkan helai daun putihnya pernah terbang melayang hingga mencapai
Negeri Belanda—sebuah simbol penghubung antara tanah Jawa dan dunia luar.
Fenomena kelahiran "bule" atau albino di
Wringinputih bukanlah hal baru. Mbah Sahil (96 tahun), sesepuh sekaligus
tokoh spiritual desa, mencatat ada tujuh orang dalam ingatannya yang lahir
dengan ciri fisik unik ini. Saat ini, terdapat empat warga bule yang menjadi
"wajah" dari misteri ini:
- Hino
Prayoga (31) & Yois Prayoga (25): Putra pasangan Pak Sumedi dan Bu Karmi.
- Septi
Angelia (16):
Siswi Madrasah Aliyah yang berprestasi dan telah khatam Al-Qur’an.
- Bambang
Susilo Aji Pranoto (6): Siswa SD Wringinputih.
Menariknya, mayoritas warga bule tersebut (kecuali
ananda Aji) ditarik garis lurus pada keturunan Pak Kromosentono. Kisah
bermula saat almarhum sering mencari ikan lele di Sungai Pule (sering
dimaknai Sungai Bule), area yang diyakini sebagai titik berdirinya beringin
gaib tersebut.
Secara medis, kondisi ini adalah Albinisme—kelainan
genetika akibat absennya pigmen melanin. Namun, di mata warga Wringinputih,
sisi supranatural tetap menjadi penjelasan yang hidup.
Salah satu kesaksian datang dari Ibu Rohmiati.
Saat mengandung Septi Angelia, beliau memiliki dorongan kuat untuk selalu mandi
di Sendang Sungai Pule sejak usia kandungan tiga hingga delapan bulan. Lahirnya
Septi dengan kondisi fisik "putih" kian mempertebal keyakinan warga
akan energi dari lokasi sakral tersebut.
Menjadi berbeda di tengah masyarakat homogen
menghadirkan tantangan sosial. Septi Angelia pernah melewati masa kelam; sering
diejek sebagai "Wong Landa" (Orang Belanda) hingga nyaris
putus sekolah karena rasa rendah diri.
Namun, keteguhan keluarga dan dukungan guru
membuahkan hasil. Kini, di tingkat sekolah lanjutan, kedewasaan teman-temannya
membuat Septi diterima dengan hangat. Berbeda dengan generasi sebelumnya, Aji
Pranoto kini tumbuh di lingkungan yang jauh lebih inklusif, membuktikan adanya
pergeseran cara pandang masyarakat terhadap perbedaan fisik.
Keunikan desa ini diikuti dengan pamali
(pantangan) yang ditaati hingga kini: Larangan memelihara angsa.
Larangan ini berakar dari kisah Sunan Ali yang sedang bertapa di lokasi
Keraton Kajiman. Konon, suara lengkingan angsa warga menggagalkan samadi sang
tokoh spiritual.
Kekecewaan tersebut berujung pada ipat-ipat
(sumpah/larangan) bagi warga di Dusun Ringinputih Lor, Ringinputih Kidul,
Kanggan, dan Kiyudan. Hingga kini, warga menghindari memelihara angsa—bahkan
barang bermerek logo angsa pun dijauhi—demi menjaga keselamatan dari mara
bahaya.
Tokoh budaya Sucoro menegaskan bahwa lokasi
beringin putih masih sangat wingit (keramat). Kesakralan ini dibuktikan
dengan berbagai kejadian di luar nalar saat lokasi tersebut hendak digunakan
untuk kepentingan komersial tanpa izin spiritual.
Sebagai bentuk penghormatan, lembaga Warung Info
Jagad Cleguk Borobudur mempelopori ritual penanaman sepasang pohon beringin
fisik. Dua anak bule, Septi dan Aji, diberi kehormatan untuk menanamnya. Ritual
ini bukan sekadar penghijauan, melainkan simbol kolaborasi masyarakat untuk merawat
"prasasti hidup" dan menjaga keseimbangan alam dengan sejarah yang
mereka warisi.
Kini, warga RW 13 sedang berjuang mengembalikan
identitas dusun mereka yang sempat melebur dengan Dusun Kanggan. Mereka ingin kembali
ke nama "Ringinputih". Bagi mereka, nama ini bukan sekadar
urusan administrasi, melainkan sebuah wasiat sejarah dan rumah bagi fenomena
unik yang tak akan ditemukan di belahan dunia mana pun selain di bawah
bayang-bayang Borobudur.