Prolog
Oleh
Dedi Supriadi Adhuri
(Pusat
Riset Masyarakat dan Budaya, BRIN)
Status Candi Borobudur
sebagai Warisan Budaya Dunia (World Heritage) dengan rekognisi dari The United Nations Educational,
Scientific and Cultural Organization (UNESCO), adalah bukti pentingnya candi ini sebagai sebuah
representasi keluhuran budaya Indonesia. UNESCO melalui laman resminya
mencatat Universal Outstanding Value Candi Borobudur dan kawasannya sebagai
berikut (https://whc.unesco.org/en/list/592#SnippetTab): 1. Borobudur, dengan tangga-tangganya, dengan
wujud piramid yang tak beratap, dengan
sepuluh undakan dan teras dan dengan mahkota stupanya merupakan
perkawinan harmonis stupa, candi dan gunung. Itu semua merupakan karya
arsitektur Buddha dan seni monumental; 2. Kompleks Candi Borobudur adalah
contoh luar biasa dari seni dan arsitektur Indonesia dari antara awal abad ke-8
dan akhir abad ke-9 yang memberikan pengaruh besar pada kebangkitan arsitektur
antara pertengahan abad ke-13 dan awal abad ke-16; dan 3. Ditata dalam bentuk
teratai, bunga suci Buddha, senyawa Candi Borobudur adalah cerminan luar biasa
dari perpaduan gagasan yang sangat sentral tentang pemujaan leluhur pribumi dan
konsep Buddha untuk mencapai Nirwana. Sepuluh teras pemasangan dari seluruh
bangunan sesuai dengan tahap-tahap berturut-turut yang harus dicapai
Bodhisattwa sebelum mencapai Kebuddhaan.
Dengan nilai seperti itu, tentu tidak heran Borobudur menjadi magnit
yang menarik atensi banyak pihak dan kunjungan dari jutaan manusia yang datang
dari segala penjuru bumi. Tuntutan yang menjadi konsekuensi ini adalah
pengelolaan yang baik dan optimal.
Pengelolaan dalam konteks ini
meliputi rekonstruksi utuh, koservasi, pemeliharaan dan berbagai wujud pemanfaatannya. Dalam konteks
pengelolaan inilah -- sejak Borobudur ditemukan kembali dan dibersihkan pada
jaman colonial (1804- 1930) dilanjutka restorasi dan pengelolaan oleh
Pemerintah Indonesia sejak tahun 1950an sampai saat ini— kita bisa melihat
berbagai masalah. Ternyata merancang, mengeimplementasikan dan mengevaluasi
pengelolaan candi Borobudur tidaklah
mudah. Berbagai penelitian dan publikasi telah menunjukan kompleksitas dan
persoalan-persoalan itu.
Salah satu masalah pada pengelolaan Borobudur adalah rekonstruksi
Borobudur yang lebih terfokus pada wujud fisik (nilai tangible),
pemanfaatan candi dengan fokus berat
pada pengembangan turisme serta pendekatan pengelolaan yang berbasis pemerintah (government-base)
dan top-down. Akibat dari realitas
di atas adalah marginalisasi nilai-nilai tak benda (intangible values) dan komunitas
lokal. Ironinya, sebenarnya, justru jika pemerintah memperhatikan dan
berkolaborasi dengan komunitas lokal, maka
pemahaman tentang intangible values Borobudur akan berkembang dan
tugas-tugas berat pengelolaan bisa dibagi bersama komunitas. Mengapa demikian,
karena, setidaknya sebagian dari intangible values dari Borobudur masih
dikembangkan oleh komunitas-komunitas di sekitarnya.
Dalam konteks pembicaraan di atas, tulisan Pak Sucoro yang disajikan
pada buku ini, akan memberikan gambaran dan contoh-contoh dari hal-hal di atas,
yaitu persoalan-persoalan pengelolaan
Candi Borobudur, marijinalitas intangible values dan komunitas lokal.
Pengalaman-pengalaman pribadi maupun komunitas di sekitar Candi Borobudur ditulis pak Sucoro pada buku ini menggambakan secara
gamlang persoalan marjinalitas ini.
Selain itu, penyelenggaraan
Ruwat-rawat Borobudur yang pada awalnya merupakan gerakan resistensi terhadap
pendekatan pengelolaan berbasis pemerintah, telah berkembang menjadi ekspresi
dan rervitalisasi nilai-nilai tak benda
Borobudur. Sebenarnya, jika ini diakomodasi dan dikapitalisasi oleh pemerintah,
maka pengelolaan Borobudur tidak hanya akan lebih ringan, karena ditanggung
Bersama, tetapi juga akan lebih optimal dan berkeadilan.
Dengan catatan di atas, saya mengantarkan pembaca untuk membaca untuk
menikmati tulisan pak Sucoro ini. Bagi mereka yang terlibat pada pengelolaan
Candi Borobudur, refleksi atas buku ini,
saya yakin akan bermanfaat untuk dijadikan bahan pengembangak pengelolaan yang
lebih baik dan lebih berkeadilan.
Kuta, 14 Januari 2024
Pesan Alam Dalam
Bumi Karma Borobudur
Oleh Sucoro
Alhamdulillah
Gerakan Budaya Rakyat Borobudur pada Tahun 2024 ini telah mencapai kegiatan
yang ke-22 tahun. Secara kronologis lahirnya gerakan budaya rakyat Ruwat
Rawat Borobudur diinisiasi oleh Bapak Sucoro yang secara terus menerus
diselenggarakan dan dikawal oleh penulis buku ini.
Gerakan
Budaya Ruwat Rawat Borobudur sebagai respon terhadap Gerakan
komplementer pengelolaan Borobudur yang berorientasi kepada komersialisasi
pariwisata menihilkan pelestarian nilai spiritualitas Borobudur, kebijakan
secara top-bottom dan lebih kepada sentralistik, mengabaikan
aspirasi dan tidak memberdaya kan dan tidak melibatkan partisipasi masyarakat
sebagai subjek budaya telah berdampak pada sulitnya menentukan kebijakan
Penulis
adalah warga Borobudur yang sebelumnya tergusur atas pembangunan Taman Wisata.
Penulis memandang bahwa Borobudur ialah
sumber daya budaya dan alam yang mesti dijaga, dirawat dan dilestarikan. Bukan
hanya dikeruk, dieksploitasi, dimanfaatkan untuk kepentingan yang hanya sekedar
mengacu untung-rugi. Sehingga dengan
Borobudur mereka memperoleh hasil sebanyak-banyaknya dan keuntungan
sebesar-besarnya. Borobudur sebagai destinasi pariwisata yang dapat
mendatangkan kebermanfaatan bagi mereka yang cerdas memanfaatkannya
Disisi
lain komunitas setempat yang dikoordinasikan melalui
Gerakan Budaya Rakyat Ruwat Rawat Borobudur justru semakin
mampu menghayati kharisma spiritualitas warisan budaya itu. Hal ini jelas
terbukti dalam penuturan dan kegiatan yang dilakukan oleh Komunitas Brayat
Panangkaran Borobudur yang sarat dengan ekspresi spiritualitas hadir di Kawasan
Borobudur. Spiritualitas yang layak menjadi bahan pembelajaran bagi kita semua.
Sesederhana apa pun itu pelestarian cagar budaya dan pembangunan bukanlah
sesuatu yang saling bertentangan. Keduanya bisa saling mendukung atau
bersinergi dalam pendekatan pembangunan berwawasan pelestarian. Pandangan ini
setidaknya pantas diperjuangkan dalam upaya pengembangan Destinasi pariwisata
Borobudur
Buku Pesan Alam dalam Bumi Karma Borobudur yang ada di
hadapan pembaca ini mengungkapkan sisi lain dari kenyataan yang ada di sekitar
candi Borobudur. Serta rekaman ingatan dan catatan Penulis dari kegiatan yang
selama ini dilakukan oleh Penulis dan kawan-kawan. Kemudian dituturkan, ditulis
dan disajikan dihadapan pembaca. Kami yakin dan sadar diri, bahwa isi buku ini
masih terlalu kecil dibanding kebesaran nilai spiritualitas yang terkandung
dalam Borobudur. Untuk itu kesimpulan dan penafsiran saya serahkan sepenuhnya
kepada pembaca yang Budiman
Terimakasih
Penulis
Mendengarkan
Suara Alam
Ditengah musim politik pemilihan umum dan presiden 2024
ini, buku pak Sucoro dan tim hadir menyuarakan “suara alam” terkait dengan
denyut nadi kehidupan Borobudur. Buku ini merupakan rehab dan revisi dari buku
“Bumi Karma Borobudur” yang dikemas Kembali dengan judul baru “Pesan Alam Dalam
Bumi Karma Borobudur (Sapa Gawe Nganggo).
Suara alam patut kita dengarkan, karena mencerminkan
kejernihan suasana dan ketulusan semesta dalam menyampaikan pesan kepada umat
manusia. Dinamika kehidupan umat manusia yang penuh dengan teknologi digital,
dalam beberapa hal menimbulkan fenomena “Menjauhkan yang dekat dan mendekatkan
yang jauh”, di satu sisi telah memberi manfaat bagi kehidupan dan di sisi lain
justru menjauhkan manusia dengan suara alam.
Suara alam hanya bisa didengarkan dengan hati yang iklas
dan pikiran yang jernih. Kedua telinga kita sebagai lobang penerima gelombang
suara, namun pikiran yang mengolah dan hati yang merenungkan. Suara alam dapat
dipilah dan dipilih, mana yang benar dan benar-benar sejati. Sesuatu yang benar
dapat diterima dan ketika dikomunikasikan perlu membaca suasana agar pener
yakni tepat bagi penerima pesan. “Bener lan Pener” adalah suatu pola yang
terhubung antara nilai-nilai dengan keadaan dan situasi. Apabila keduanya telah
menyatu dan bersenyawa, maka “Kepeneran” akan turun sebagai rahmat dari Allah
Yang Maha Besar dan Benar.
Buku ini
bertutur mengenai sejarah pengelolaan warisan Budaya Borobudur, yang
dikemukakan dari cara pandang serta pengetahuan yang alami warga masyarakat
yang tinggal dalam Kawasan saujana candi Borobudur. Masyarakat yang dulunya
bebas bermain di halaman maupun di bangunan candi, mulai dibatasi dengan adanya
pengelolaan konservasi dan taman wisata.
Pengelolaan
Borobudur sebagai kawasan wisata bertaraf internasional hendaklah tetap mendengarkan
suara alam dan suara masyarakat setempat. Janganlah pengelolaan bertaraf
internasional ini malah meninggalkan kepentingan kesejahteraan masyarakat
lokal. Jangan sampai fenomena “Menjauhkan yang
dekat dan mendekatkan yang jauh” menjadi paradok yang tidak sinergis.
Suara
masyarakat mewakili kepantingan kesejahteraan akan kehidupan dan penghidupan
dengan keberadaan Candi Borobudur. Dalam perkembangannya ada masyarakat yang
mampu beradaptasi dengan perubahan, sehingga mengalami peningkatan usaha
ekonomi dan naik posisi sosialnya. Sebagian masyarakat ada yang masih berada
dalam kesulitan dan tidak mudah mendapatkan akses pekerjaan dan taraf
penghidupan yang layak. Ada pula Sebagian kecil yang menjadi aktivis yang terus
berjuang untuk membangun kesejahteraan bersama secara gotongroyong melalui
pendekatan seni budaya.
Dinamika denyut
nadi perkembangan kehidupan sosial ekonomi dan seni budaya masyarakat direkam
dan didokumentasikan serta dikomunikasikan oleh Sucoro beserta tim kreatif dari
komunitas Jagad Cleguk. Penuturan tentang sejarah pengelolaan Borobudur
dituturkan dalam buku sebelumnya berjudul “Dari Luar Pagar Taman Borobudur”.
Rangkaian cerita tersebut kemudian dituturkan dengan tema-tema terkini dengan
konteks baru. Dengan kata lain ide dan gagasan terus diperbaharui dengan laku
aktif menggerakkan upaya penyadaran publik melalui prosesi ruwat rawat yang
diselenggarakan tahun ini yang ke 22.
Semoga para
pembaca buku ini dapat khasanah dari perspektif aktivis kemasyarakatan yang
bercerita tentang kisah perkembangan pengelolaan world heritage Borobudur
sebagai Warisan Budaya Dunia.
Tirtomartani 15
Januari 2024
M. Baiquni
