Di bawah gerbang kayu bertuliskan Makam Mbah Gabah Nyai Gabah, saya berdiri bersama beberapa sahabat dan saudara seperjalanan. Suasana siang itu teduh. Pepohonan menaungi, angin berembus pelan, dan waktu seperti berjalan lebih lambat dari biasanya. Di tempat itulah saya merasakan bahwa ziarah bukan sekadar kunjungan, tetapi panggilan batin.
Rambut saya telah memutih. Banyak orang melihatnya
sebagai tanda usia yang terus berjalan. Namun bagi saya, setiap helai putih
adalah saksi perjalanan hidup—tentang keyakinan yang saya pegang, tentang nilai
yang saya jaga, dan tentang tanggung jawab yang tidak pernah selesai terhadap
tanah dan leluhur.
Mbah Gabah bukan sekadar nama pada sebuah makam. Ia
adalah simbol akar. Akar yang menancap di tanah Grabag, akar yang menumbuhkan
nilai-nilai tentang keteguhan, kesederhanaan, dan martabat. Tanpa akar, pohon
akan tumbang diterpa angin zaman. Tanpa ingatan pada leluhur, sebuah generasi
akan mudah goyah oleh gemerlap kepentingan sesaat.
Ziarah, bagi saya, bukanlah ritual kosong. Ia
adalah dialog sunyi. Di hadapan pusara leluhur, saya bertanya pada diri
sendiri: sudahkah saya menjaga amanah sejarah? Sudahkah saya berdiri tegak
ketika nilai-nilai warisan hendak digeser oleh arus yang lebih besar? Sudahkah
saya menjadi bagian dari mata rantai yang menyambung, bukan memutus?
Orang-orang yang berdiri bersama saya hari itu
bukan sekadar teman berfoto. Mereka adalah saksi bahwa ingatan kolektif masih
hidup. Tradisi tidak boleh hanya menjadi cerita lama. Ia harus hadir dalam
sikap, dalam keberanian, dan dalam cara kita memperlakukan tanah serta martabat
desa.
Di tengah dunia yang bergerak cepat, ziarah adalah
cara saya memperlambat langkah. Mengingat kembali dari mana saya berasal.
Rambut boleh memutih, usia boleh bertambah, tetapi tanggung jawab untuk merawat
akar tidak boleh pudar.
Dari Makam Mbah Gabah Grabag, saya pulang dengan
hati yang lebih jernih. Saya datang sebagai anak zaman, dan saya kembali dengan
kesadaran bahwa menjaga warisan bukan pilihan, melainkan kewajiban moral.
Karena selama napas masih berhembus, akar itu harus
tetap disambung.
—
Sucoro Setrodiharjo