BOROBUDUR,WARGA, DAN MAKNA YANG BERGESER

Ruwat Rawat Borobudur
0

WEBINAR SERIES

Dalam Rangka 24 Tahun Ruwat Rawat Borobudur

Di tengah promosi besar pariwisata dan statusnya sebagai destinasi prioritas nasional, sebuah diskusi daring justru mengangkat persoalan yang jarang disorot media: keterputusan antara Borobudur dan masyarakat yang hidup di sekitarnya.

Diskusi bertajuk Obrolan Mirunggan: Sekolah Kehidupan ini digelar dalam rangka 24 Tahun Ruwat Rawat Borobudur dengan tema “Borobudur sebagai Sekolah Kehidupan: Merawat Spiritualitas, Merajut Kebangsaan.” Acara berlangsung pada Minggu, 1 Maret 2024 melalui Zoom dan diselenggarakan oleh Gerakan Ruwat Rawat Borobudur.

Alih-alih membahas jumlah wisatawan atau proyek pengembangan kawasan, para pembicara menyoroti perubahan makna Borobudur itu sendiri. Rencana pemasangan chatra mahkota stupa yang diyakini sebagai bagian dari bentuk asli candi muncul sebagai contoh paling konkret dari pergeseran tersebut.

Bagi kalangan teknis, chatra merupakan persoalan rekonstruksi arkeologis. Namun bagi banyak warga sekitar, isu ini terasa jauh dari kehidupan sehari-hari. Dalam diskusi terungkap bahwa dukungan maupun penolakan terhadap pemasangan chatra kerap muncul tanpa pemahaman mendalam mengenai latar sejarah, makna simbolik, maupun konsekuensi kebudayaannya. Sikap masyarakat lebih banyak dipengaruhi oleh harapan praktis terutama dampaknya terhadap kunjungan wisata dan ekonomi local daripada pertimbangan spiritual atau historis Borobudur itu sendiri.Sucoro Setrodiharjo, pemandu diskusi sekaligus penggerak komunitas Ruwat Rawat Borobudur, menyampaikan kegelisahan yang lahir dari pengalaman panjang di kawasan tersebut. Ia menilai masyarakat sekitar hidup dari Borobudur, namun belum tentu memahami maknanya.

“Mereka hanya bisa melihat secara fisik,” ujarnya. “Borobudur itu apa dan siapa, banyak yang tidak tahu.”

Menurut Sucoro, pada masa lalu orang datang ke Borobudur untuk meditasi, kontemplasi, bahkan memohon kesembuhan. Kini, persepsi publik didominasi logika industri wisata. Warga berharap jumlah pengunjung meningkat karena berhubungan langsung dengan penghasilan.

Antropolog Pandu Bagus Setiaji, yang tinggal hanya beberapa kilometer dari candi, menguatkan gambaran tersebut. Ia pernah mengadakan diskusi kecil bersama anak muda dan warga desa, lalu menemukan kesenjangan pengetahuan yang cukup tajam.

“Borobudur punya nilai spiritual, tapi jujur saja, mayoritas masyarakat di sini tidak merujuk ke sana lagi,” katanya. “Kalau bicara spiritual, mereka lebih ke pondok pesantren atau tempat ibadah masing-masing.”

Menurut Pandu, isu chatra pun dipahami secara pragmatis. Banyak warga mendukung atau menolak berdasarkan harapan ekonomi, bukan pemahaman historis atau filosofis.

“Pertanyaannya, Borobudur ini mewakili siapa?” ujarnya.

Ki Mandala Bhumi Mangir, pemerhati budaya Jawa juga melihat perubahan besar dalam pengelolaan kawasan. “Secara fisik Borobudur sudah sangat modern dan profesional,” katanya. “Tapi ada sisi nonfisik yang tertinggal, terutama peran masyarakat lokal.”

Ia menceritakan pengalamannya saat ingin bermeditasi di puncak candi. Izin harus melalui prosedur resmi, waktu dibatasi sekitar satu jam sebelum kawasan dibuka untuk wisata umum, dan setelah itu pelaku meditasi wajib turun. Situasi ini menunjukkan bagaimana praktik spiritual harus menyesuaikan ritme industri pariwisata.

Peneliti BRIN Novita Siswayanti mengingatkan bahwa Borobudur merupakan warisan universal yang lahir dari akulturasi panjang Nusantara. Candi ini tidak dapat direduksi menjadi milik satu agama atau kelompok tertentu.

Budhi Kumara dari komunitas Buddha Jawi menafsirkan Borobudur sebagai simbol perjalanan batin manusia menuju kesadaran tertinggi. Relief-reliefnya menggambarkan welas asih universal dan pengabdian pada semua makhluk.

Meski berasal dari latar belakang berbeda, para pembicara bertemu pada satu kesimpulan: Borobudur menghadapi krisis pemaknaan.

Pelestarian fisik berjalan, infrastruktur berkembang, tetapi hubungan spiritual antara manusia, alam, dan semesta yang dahulu menjadi ruh Borobudur semakin melemah. Tantangan terbesar bukan hanya menjaga batu-batunya, melainkan menjaga relasi manusia dengan makna kosmis yang dikandung situs tersebut.

Borobudur masih berdiri megah, tetapi resonansi spiritualnya semakin jauh dari kehidupan sehari-hari warga. Tanpa keterlibatan masyarakat dan proses edukasi budaya yang berkelanjutan, candi ini berpotensi menjadi monumen global yang indah namun terlepas dari ingatan sejarah, ingatan spiritual, dan ingatan kolektif peradaban yang melahirkannya.

Diskusi ini mengingatkan bahwa Borobudur dapat berfungsi sebagai “sekolah kehidupan” bagi bangs ruang belajar lintas budaya, agama, dan generasi. Pertanyaannya kini bukan sekadar apakah chatra perlu dipasang, melainkan bagaimana menjaga agar Borobudur tetap hidup sebagai sumber kebijaksanaan, bukan sekadar latar foto wisata.

Sebab ketika sebuah warisan dunia kehilangan makna bagi masyarakat yang tinggal di bayangannya sendiri, kemegahan yang tersisa bisa menjadi sunyi.

Latifah/melipirnews.com

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default