Dilema Borobudur Di antara Revolusi dan Rekonstruksi Membaca Ulang Arah Peradaban dari Pelataran Candi

Ruwat Rawat Borobudur
0

 

“Jangan bicara soal kesejahteraan dan kesucian, jika prosesnya mengabaikan kemanusiaan.”


Candi Borobudur bukan sekadar bangunan batu yang megah. Ia adalah simbol peradaban, warisan spiritual, ruang kontemplasi, sekaligus medan tarik-menarik kepentingan yang tidak pernah benar-benar selesai. Di tengah berbagai regulasi, kebijakan, dan ambisi ekonomi, muncul satu pertanyaan mendasar: apakah Borobudur diperlakukan sebagai mandala suci yang hidup, atau sekadar sebagai komoditas industri pariwisata?

Melalui buku Dilema Borobudur: Di antara Revolusi dan Rekonstruksi, Sucoro Setrodiharjo menghadirkan refleksi panjang atas pergulatan tersebut. Buku ini tidak berdiri sebagai kajian akademik kering, melainkan sebagai kesaksian pengalaman, perenungan batin, dan suara masyarakat akar rumput yang selama puluhan tahun hidup berdampingan dengan Candi Borobudur.

Borobudur di Tengah Tarik-Menarik Kepentingan

Sejak pemugaran besar pada 1970–1980-an dan pengelolaan kawasan yang semakin berorientasi wisata, Borobudur memasuki babak baru. Statusnya sebagai Warisan Dunia yang diakui oleh UNESCO membawa konsekuensi internasional: konservasi harus dijaga, nilai Outstanding Universal Value (OUV) harus dilindungi.

Namun dalam praktiknya, keseimbangan antara pelestarian, perlindungan, dan pemanfaatan tidak mudah diwujudkan. Buku ini membedah bagaimana orientasi ekonomi sering kali lebih dominan dibanding dimensi spiritual dan kultural. Kebijakan pembatasan pengunjung, relokasi pedagang, sentralisasi zona inti, hingga berbagai regulasi terbaru seperti Perpres 101 Tahun 2024, menjadi bagian dari dinamika panjang yang melahirkan dilema sosial.

Di sinilah buku ini mengambil posisi: bukan menolak pembangunan, tetapi mengingatkan bahwa pembangunan tanpa ruh akan kehilangan makna.

Krisis Nilai Ketika Mandala Menjadi Taman Wisata

Dalam pembacaan penulis, pergeseran dari “Mandala Suci” menjadi “Taman Wisata” telah membawa dampak kualitatif yang mendalam. Profil pengunjung berubah. Dari peziarah dan penikmat makna, menjadi pemburu foto dan sensasi visual.

Fenomena ini bukan semata soal perilaku wisatawan, melainkan cerminan paradigma pengelolaan. Ketika spiritualitas tidak lagi menjadi fondasi, maka Borobudur kehilangan “pamor”-nya—ibarat keris yang hanya tinggal bentuk tanpa daya batin.

Buku ini mengingatkan bahwa struktur Borobudur yang menggambarkan perjalanan Kamadhatu–Rupadhatu–Arupadhatu bukan hanya arsitektur, melainkan pesan etika: manusia harus naik, bertumbuh, dan menyempurnakan diri.

Ruwat Rawat Borobudur Ikhtiar Merawat Ruh

Salah satu kekuatan buku ini adalah dokumentasi 24 tahun gerakan budaya rakyat Ruwat Rawat Borobudur. Gerakan ini lahir dari keprihatinan, bukan dari fasilitas kekuasaan. Pendanaannya pun sebagian besar swadaya.

Melalui konsep filosofi Jawa Kiblat Papat Limo Pancer, penulis menawarkan pendekatan alternatif: Borobudur sebagai pusat (pancer) yang terhubung harmonis dengan desa-desa penyangga (empat penjuru). Artinya, pengelolaan tidak boleh eksklusif di zona inti, tetapi harus menyebar dan memberdayakan.

Ritual Sedekah Punthuk Setumbu, revitalisasi tradisi lokal, hingga pentas Sendratari Kidung Karmawibangga, adalah contoh bagaimana spiritualitas dan ekonomi bisa berjalan bersama jika dikelola berbasis komunitas.

Di sinilah letak gagasan penting buku ini: pelestarian tidak cukup dengan regulasi teknis. Ia harus dibangun di atas kesadaran kolektif.

AI dan Transparansi Babak Baru Keterbukaan

Menariknya, buku ini juga menyinggung era teknologi. Kemunculan Artificial Intelligence (AI) dipandang sebagai “kran informasi” yang membuka data dan memicu diskusi publik. Dalam konteks Borobudur, AI menjadi alat yang dapat menelusuri jejak kebijakan, memetakan dampak sosial, hingga mengungkap ketimpangan yang selama ini tersembunyi.

Bagi penulis, keterbukaan data adalah bentuk hukum karma modern: sebab dan akibat kebijakan kini dapat dibaca secara terbuka oleh masyarakat.

Antara Revolusi dan Rekonstruksi

Judul buku ini bukan tanpa makna.

Revolusi dimaknai sebagai kebutuhan pembaruan tata kelola agar lebih adaptif dan profesional.
Rekonstruksi dimaknai sebagai upaya mengembalikan ruh spiritual dan fungsi luhur Borobudur sebagai pusat kebudayaan dan pencerahan.

Dilema muncul ketika keduanya berjalan tanpa dialog. Buku ini mengajak pembaca untuk tidak terjebak pada dikotomi, melainkan mencari titik keseimbangan yang berkeadilan.

Lebih dari Sekadar Kritik

Yang membuat buku ini penting bukan hanya karena kritiknya tajam, tetapi karena ia lahir dari pengalaman hidup. Penulis menempatkan diri bukan sebagai oposisi, melainkan sebagai pengingat.

Di usia yang tidak lagi muda, Sucoro Setrodiharjo tetap konsisten mengawal isu Borobudur dengan data, dokumentasi, dan keberanian moral. Buku ini menjadi dedikasi bagi masyarakat yang selama ini “diam dalam ketabahan”, namun terus menjaga warisan leluhur dengan hati.

 Mengapa Buku Ini Penting Dibaca?

Buku ini relevan bagi:

  • Akademisi dan peneliti kebudayaan
  • Pengambil kebijakan dan pengelola warisan budaya
  • Aktivis sosial dan pegiat desa
  • Mahasiswa dan generasi muda
  • Siapa pun yang peduli pada masa depan Borobudur

Karena Borobudur bukan hanya milik masa lalu. Ia adalah cermin masa kini dan arah masa depan.

Jangan Bicara Kesejahteraan Tanpa Kemanusiaan

Satu kalimat dalam buku ini layak menjadi renungan bersama:

“Jangan bicara soal kesejahteraan dan kesucian, jika prosesnya mengabaikan kemanusiaan.”

Kalimat itu bukan sekadar slogan, melainkan inti dari seluruh pergulatan yang dituliskan.

Borobudur tidak datang tiba-tiba. Ia dibangun oleh kesadaran kolektif, gotong royong, dan visi spiritual yang panjang. Maka pengelolaannya pun semestinya berangkat dari nilai yang sama.

Buku Dilema Borobudur: Di antara Revolusi dan Rekonstruksi adalah ajakan untuk berhenti sejenak, menoleh ke dalam, dan bertanya:
apakah kita sedang merawat warisan, atau hanya memanfaatkannya?

 


  • Lebih baru

    Dilema Borobudur Di antara Revolusi dan Rekonstruksi Membaca Ulang Arah Peradaban dari Pelataran Candi

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default