Sekolah Kehidupan Borobudur Ke 4 Th 2026
Dalam Rangka 24 Tahun Ruwat Rawat
Borobudur
Membangun Ruang Spiritual yang Damai di Tengah Arus
Modernitas
Selama 24 tahun gerakan Ruwat Rawat Borobudur konsisten berjalan, satu
pertanyaan fundamental terus membayangi: apakah kita memandang Borobudur
sebagai warisan spiritual yang hidup, atau sekadar komoditas ekonomi?
Di tengah berbagai dinamika dan “kegaduhan” yang
kerap muncul, kita seakan menjauh dari esensi kedamaian yang menjadi ruhnya.
Padahal secara filosofis, Candi Borobudur adalah simbol perjalanan manusia dari
belenggu duniawi menuju pencerahan (Nibbana). Ia bukan sekadar bangunan
monumental, melainkan ruang kontemplasi dan transformasi batin.
Sebagai Situs Warisan Dunia yang ditetapkan oleh
UNESCO, Borobudur memiliki Nilai Universal Luar Biasa (Outstanding Universal
Value/OUV) yang menuntut keseimbangan antara pelestarian, perlindungan, dan
pemanfaatan. Namun dalam praktiknya, orientasi pengelolaan sering kali lebih
menonjolkan wisata massal dan kuantitas pengunjung dibanding penguatan nilai
spiritual dan kulturalnya.
Ketegangan antara kesakralan, komodifikasi, dan
upaya memanfaatkan nilai spiritual bagi kesejahteraan masyarakat inilah yang
menjadi dasar diskusi webinar ini.
Forum ini bertujuan mendorong edukasi publik agar
tumbuh kepedulian yang tulus rasa handarbeni terhadap Borobudur. Sebuah
kepemilikan batin yang tidak lahir dari kepentingan “cuan”, melainkan dari
kesadaran bahwa Borobudur adalah warisan peradaban yang harus dijaga bersama.
Masyarakat tidak boleh hanya ditempatkan sebagai
pelaku ekonomi wisata, tetapi harus diteguhkan sebagai penjaga makna. Dari
sinilah diharapkan lahir transformasi: dari relasi yang bersifat transaksional
menuju tanggung jawab moral dan kultural.
Webinar ini menjadi ruang refleksi bersama untuk
menegaskan kembali visi kerakyatan dan spiritual Borobudur, agar ia tetap
lestari bukan hanya secara fisik, tetapi juga dalam nilai, martabat, dan
kesadaran kolektifnya.
TUJUAN WEBINAR
Webinar ke-4 – 24 Tahun Ruwat Rawat Borobudur
- Membangun
Kesadaran Publik
Meningkatkan pemahaman masyarakat bahwa Candi Borobudur adalah warisan spiritual dan peradaban dunia yang harus dijaga nilai sakral dan kulturalnya. - Menumbuhkan
Rasa Handarbeni (Sense of Belonging)
Mendorong lahirnya kepedulian yang tulus dari masyarakat terhadap Borobudur, bukan semata karena kepentingan ekonomi, tetapi karena kesadaran moral dan tanggung jawab sejarah. - Mendorong
Evaluasi Pengelolaan yang Berkeadaban
Mengajak para pemangku kepentingan untuk merefleksikan keseimbangan antara pelestarian, perlindungan, dan pemanfaatan, sesuai prinsip Warisan Dunia yang ditetapkan oleh UNESCO. - Menguatkan
Peran Masyarakat sebagai Penjaga Makna
Menegaskan bahwa masyarakat bukan hanya pelaku ekonomi wisata, melainkan subjek utama dalam menjaga martabat dan nilai luhur Borobudur.
Narasumber :
1.
Ary Budiyanto SS. MA, Dosen Anrtropologi, Fakultas
Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya
2.
Prof Dr Dwi Purwoko ( BRIN )
3.
Joe Marbun ( Madya )
Pangnanggap
1. Muhamad
Dimyati Pabelan
2. Prof Dr
Agus Purwantoro
3. Novita
Siswayanti ( BRIN )
4. Ki
Mandala Bumi Mangir
5. Dimas
Panghegar Komunitas Muda Borobudur
6. Dr Budi
Hermawan ( UKRIDA )
7. Dr Rajasa
Mu’taqim ( UIN )
Webinar Series akan diselenggarakan besuk :
Hari / Tanggal : Sabtu 14 Maret 2026
Pukul : 13.00 WIB
Metode : Link Zoom menyusul
Harapan dan Tujuan
Melalui diskusi ini, diharapkan peserta tidak hanya
melihat Borobudur sebagai objek wisata atau peninggalan purbakala, tetapi
sebagai "Kitab Kehidupan yang Terbuka". Membaca Borobudur
berarti membaca diri sendiri; menemukan kembali Pancer di tengah tarikan
empat penjuru dunia.
