Sore itu, lorong ketiga Candi Borobudur terasa
berbeda. Udara yang biasanya panas dan kering khas Magelang tiba-tiba berubah
sejuk. Angin tipis berembus di antara batu-batu tua yang telah berdiri lebih
dari seribu tahun, membawa aroma tanah dan lumut yang ganjil.
Pak Dipo berdiri tegak di depan sebuah relief yang
sudah aus dimakan waktu. Tangannya menempel pada batu itu, seolah sedang
merasakan denyut nadi yang tersembunyi di dalamnya. Aku berdiri beberapa
langkah di belakangnya. Sebagai orang yang sudah puluhan tahun keluar-masuk
kawasan candi, aku terbiasa melihat turis menyentuh relief. Tapi kali ini
berbeda. Pak Dipo tampak seperti sedang melakukan percakapan batin dengan masa
lalu.
Perlahan, ia menarik tangannya dari sela batu. Aku
sempat membayangkan ia akan mengeluarkan sesuatu yang mistis keris kecil, batu
akik bertuah, atau permata kuno. Namun, yang keluar justru hanya sebuah
bungkusan kecil dari sobekan koran tua.
“Coba lihat ini,” katanya sambil menyerahkannya
padaku.
Aku membuka bungkusan itu di bawah cahaya matahari
yang mulai redup. Di dalamnya terdapat dua lembar kertas tua yang sudah
menguning dan sangat rapuh. Tulisan di atasnya samar, hampir tak terbaca.
“Sepertinya ini bukan jimat kebal atau penglaris
dagangan,” gumam Pak Dipo pelan. Ia menatap kertas itu lama sekali.
“Jangan-jangan ini pesan dari para leluhur yang membangun candi ini…”
Aku hanya tersenyum kecil. Sebagai loper koran, aku
sudah kenyang mendengar cerita mistis di sekitar Borobudur. Namun sore itu,
entah kenapa, kata-kata Pak Dipo terasa memiliki bobot yang berbeda.
Keesokan paginya, aku kembali ke rutinitas.
Mengantar koran sejak matahari baru merayap dari balik perbukitan Menoreh. Di
dekat Homestay Candirejo, aku melihat Pak Dipo sedang duduk di Warung Soto
“Ndlesep” milik Mas Priyo. Ia sedang berbincang dengan tiga peneliti yang
sedang melakukan riset tentang nilai spiritual Borobudur.
Pak Dipo memanggilku. “Ini loper koran yang saya
ceritakan tadi,” katanya kepada mereka.
Begitu mendengar tentang bungkusan dari sela batu,
ketiga peneliti itu langsung tertarik. Kertas lusuh itu berpindah tangan.
Peneliti pertama yang bertubuh agak gemuk menatapnya serius. “Ini kemungkinan
catatan teknis proses restorasi,” katanya mencoba rasional.
Peneliti kedua menggeleng. “Tidak mungkin. Ini
bukan bahasa Indonesia, juga bukan Jawa.”
Peneliti ketiga tertawa kecil. “Ah, kalian terlalu
ilmiah. Ini jelas rajah atau jimat. Lihat bentuk tulisannya, mirip huruf Arab
gundul.”
Warung kecil itu mendadak berubah menjadi ruang
diskusi dadakan. Arkeologi, filologi, sejarah, hingga mistisisme tumpah ruah di
atas meja soto. Namun, semakin mereka berdebat, semakin terasa bahwa mereka
hanya berputar-putar di permukaan.
Tiba-tiba, peneliti perempuan yang bertubuh gemuk
itu terdiam. Ia seolah menemukan sesuatu di balik buramnya tulisan itu jejak
pengetahuan lama, kemungkinan aksara Sanskerta yang merekam nilai spiritual dan
data peradaban masa lalu yang sengaja disembunyikan.
Dalam hati, aku membatin, “Jangan-jangan para
leluhur memang sengaja menyembunyikannya di sana agar ditemukan oleh orang
'bodoh' seperti aku dan Pak Dipo, sebelum akhirnya sampai ke tangan para ahli
ini.”
Mbak Peneliti itu berdiri, berjalan keluar warung
sambil, sepertinya seolah membayangkan
sedang menatap dinding candi yang
terlihat lamat-lamat dari kejauhan. Ia seolah membayangkan dirinya sedang
berlutut di depan relief.
“Selama ini saya hanya sibuk menghitung volume batu
dan target pendapatan dari tiket masuk,” katanya lirih dengan suara bergetar.
“Tapi saya tidak pernah menghitung volume doa yang tertanam di dalamnya.”
Kami semua terdiam. Suasana warung yang tadinya
bising menjadi sunyi. Ia menyadari bahwa UNESCO menyebut Borobudur memiliki Nilai
Universal Luar Biasa bukan hanya karena kemegahan arsitekturnya, melainkan
karena tempat itu adalah jembatan antara pikiran manusia dan rahasia Tuhan yang
tak terbatas.
Dan aku, loper koran tua yang selama tiga puluh
tahun hanya membaca berita dunia, menyadari satu hal: ada kebenaran yang tidak
akan pernah sanggup dimuat di halaman koran mana pun.
Para peneliti itu kini tidak lagi berdebat. Mereka
mulai mencatat, mengubah analisis mereka menjadi narasi data yang layak
dipublikasikan ke jurnal internasional. Mereka melanjutkan makan soto dengan
tenang, seperti orang-orang yang baru saja kembali dari perjalanan jauh ke
dalam diri mereka sendiri.
Tak lama kemudian, peneliti perempuan itu kembali
menyentuh kertas lusuh tersebut. Tiba-tiba tubuhnya terlonjak. Wajahnya
menegang, matanya menatap kosong seolah sedang "melihat" sesuatu yang
tak kasat mata.
Pak Iksan nampak serius melihat Mbak itu seperti
sedang kesurupan atau sedang terhubung dengan frekuensi lain. Namun, Mas Priyo,
si pemilik warung, justru melihat kejadian itu sambil tertawa kecil.
“Alah... beneran itu cuma guyonan mereka saja!”
seru Mas Priyo sambil terus menyajikan kuah soto.
Aku hanya bisa tertegun. Apakah itu benar-benar
kesurupan spiritual, ataukah hanya cara para intelektual itu merayakan penemuan
mereka dengan sedikit humor? Aku tidak tahu pasti. Yang jelas, di sela batu
Borobudur, logika dan mistis memang selalu duduk berdampingan, persis seperti
kami yang duduk bersama di Warung Soto Ndlesep pagi itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar