Rahasia di Lorong Ketiga Pertemuan Logika dan Mistis - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Sabtu, 07 Maret 2026

Rahasia di Lorong Ketiga Pertemuan Logika dan Mistis

 



Sore itu, lorong ketiga Candi Borobudur terasa berbeda. Udara yang biasanya panas dan kering khas Magelang tiba-tiba berubah sejuk. Angin tipis berembus di antara batu-batu tua yang telah berdiri lebih dari seribu tahun, membawa aroma tanah dan lumut yang ganjil.

Pak Dipo berdiri tegak di depan sebuah relief yang sudah aus dimakan waktu. Tangannya menempel pada batu itu, seolah sedang merasakan denyut nadi yang tersembunyi di dalamnya. Aku berdiri beberapa langkah di belakangnya. Sebagai orang yang sudah puluhan tahun keluar-masuk kawasan candi, aku terbiasa melihat turis menyentuh relief. Tapi kali ini berbeda. Pak Dipo tampak seperti sedang melakukan percakapan batin dengan masa lalu.

Perlahan, ia menarik tangannya dari sela batu. Aku sempat membayangkan ia akan mengeluarkan sesuatu yang mistis keris kecil, batu akik bertuah, atau permata kuno. Namun, yang keluar justru hanya sebuah bungkusan kecil dari sobekan koran tua.

“Coba lihat ini,” katanya sambil menyerahkannya padaku.

Aku membuka bungkusan itu di bawah cahaya matahari yang mulai redup. Di dalamnya terdapat dua lembar kertas tua yang sudah menguning dan sangat rapuh. Tulisan di atasnya samar, hampir tak terbaca.

“Sepertinya ini bukan jimat kebal atau penglaris dagangan,” gumam Pak Dipo pelan. Ia menatap kertas itu lama sekali. “Jangan-jangan ini pesan dari para leluhur yang membangun candi ini…”

Aku hanya tersenyum kecil. Sebagai loper koran, aku sudah kenyang mendengar cerita mistis di sekitar Borobudur. Namun sore itu, entah kenapa, kata-kata Pak Dipo terasa memiliki bobot yang berbeda.

Keesokan paginya, aku kembali ke rutinitas. Mengantar koran sejak matahari baru merayap dari balik perbukitan Menoreh. Di dekat Homestay Candirejo, aku melihat Pak Dipo sedang duduk di Warung Soto “Ndlesep” milik Mas Priyo. Ia sedang berbincang dengan tiga peneliti yang sedang melakukan riset tentang nilai spiritual Borobudur.

Pak Dipo memanggilku. “Ini loper koran yang saya ceritakan tadi,” katanya kepada mereka.

Begitu mendengar tentang bungkusan dari sela batu, ketiga peneliti itu langsung tertarik. Kertas lusuh itu berpindah tangan. Peneliti pertama yang bertubuh agak gemuk menatapnya serius. “Ini kemungkinan catatan teknis proses restorasi,” katanya mencoba rasional.

Peneliti kedua menggeleng. “Tidak mungkin. Ini bukan bahasa Indonesia, juga bukan Jawa.”

Peneliti ketiga tertawa kecil. “Ah, kalian terlalu ilmiah. Ini jelas rajah atau jimat. Lihat bentuk tulisannya, mirip huruf Arab gundul.”

Warung kecil itu mendadak berubah menjadi ruang diskusi dadakan. Arkeologi, filologi, sejarah, hingga mistisisme tumpah ruah di atas meja soto. Namun, semakin mereka berdebat, semakin terasa bahwa mereka hanya berputar-putar di permukaan.

Tiba-tiba, peneliti perempuan yang bertubuh gemuk itu terdiam. Ia seolah menemukan sesuatu di balik buramnya tulisan itu jejak pengetahuan lama, kemungkinan aksara Sanskerta yang merekam nilai spiritual dan data peradaban masa lalu yang sengaja disembunyikan.

Dalam hati, aku membatin, “Jangan-jangan para leluhur memang sengaja menyembunyikannya di sana agar ditemukan oleh orang 'bodoh' seperti aku dan Pak Dipo, sebelum akhirnya sampai ke tangan para ahli ini.”

Mbak Peneliti itu berdiri, berjalan keluar warung sambil, sepertinya seolah  membayangkan sedang  menatap dinding candi yang terlihat lamat-lamat dari kejauhan. Ia seolah membayangkan dirinya sedang berlutut di depan relief.

“Selama ini saya hanya sibuk menghitung volume batu dan target pendapatan dari tiket masuk,” katanya lirih dengan suara bergetar. “Tapi saya tidak pernah menghitung volume doa yang tertanam di dalamnya.”

Kami semua terdiam. Suasana warung yang tadinya bising menjadi sunyi. Ia menyadari bahwa UNESCO menyebut Borobudur memiliki Nilai Universal Luar Biasa bukan hanya karena kemegahan arsitekturnya, melainkan karena tempat itu adalah jembatan antara pikiran manusia dan rahasia Tuhan yang tak terbatas.

Dan aku, loper koran tua yang selama tiga puluh tahun hanya membaca berita dunia, menyadari satu hal: ada kebenaran yang tidak akan pernah sanggup dimuat di halaman koran mana pun.

Para peneliti itu kini tidak lagi berdebat. Mereka mulai mencatat, mengubah analisis mereka menjadi narasi data yang layak dipublikasikan ke jurnal internasional. Mereka melanjutkan makan soto dengan tenang, seperti orang-orang yang baru saja kembali dari perjalanan jauh ke dalam diri mereka sendiri.

Tak lama kemudian, peneliti perempuan itu kembali menyentuh kertas lusuh tersebut. Tiba-tiba tubuhnya terlonjak. Wajahnya menegang, matanya menatap kosong seolah sedang "melihat" sesuatu yang tak kasat mata.

Pak Iksan nampak serius melihat Mbak itu seperti sedang kesurupan atau sedang terhubung dengan frekuensi lain. Namun, Mas Priyo, si pemilik warung, justru melihat kejadian itu sambil tertawa kecil.

“Alah... beneran itu cuma guyonan mereka saja!” seru Mas Priyo sambil terus menyajikan kuah soto.

Aku hanya bisa tertegun. Apakah itu benar-benar kesurupan spiritual, ataukah hanya cara para intelektual itu merayakan penemuan mereka dengan sedikit humor? Aku tidak tahu pasti. Yang jelas, di sela batu Borobudur, logika dan mistis memang selalu duduk berdampingan, persis seperti kami yang duduk bersama di Warung Soto Ndlesep pagi itu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar