Pertemuan Silaturahmi Ahli Budaya: Menggali Makna Borobudur sebagai Warisan Perpaduan Budaya - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Kamis, 23 April 2026

Pertemuan Silaturahmi Ahli Budaya: Menggali Makna Borobudur sebagai Warisan Perpaduan Budaya

Di tengah suasana hangat dan penuh keakraban, berkumpul para pemerhati, peneliti, serta ahli budaya dari Yogyakarta, Solo, dan sekitarnya, termasuk para profesor dan tokoh yang telah lama mengkaji khazanah budaya Nusantara. Pertemuan ini menjadi ruang berbagi pemikiran sekaligus momentum untuk menggali kembali nilai-nilai luhur yang terkandung dalam salah satu mahakarya terbesar nenek moyang, yaitu Candi Borobudur. Melalui diskusi yang mendalam, terbangun kesepahaman bahwa Borobudur bukan sekadar bangunan candi, melainkan wujud peradaban tinggi yang lahir dari perpaduan harmonis budaya Hindu dan Buddha, yang berakar pada masa pemerintahan Rakai Pikatan dan Pramodhawardani.

Dalam kajian yang disampaikan, Borobudur dipahami sebagai sarana pemujaan bersama sekaligus simbol penyatuan nilai spiritual dari dua tradisi besar yang berkembang di tanah Jawa pada masanya. Dinding-dinding candi yang dipenuhi relief dan pahatan menjadi saksi bisu kehidupan masa lampau. Kisah-kisah yang terukir mulai dari Jataka, Awadana, Gandavyuha Sutra, hingga Lalitavistara serta konsep kosmologi seperti Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu, tidak hanya mengandung makna religius, tetapi juga mencerminkan kondisi lingkungan, tatanan sosial, dan cara pandang manusia pada zamannya. Semua narasi ini dipahatkan dengan penuh kesadaran, menjadikan Borobudur sebagai “buku sejarah terbuka” yang dapat dibaca lintas generasi.

Salah satu bahasan utama dalam pertemuan ini adalah mengenai makna dan tafsir Borobudur. Para ahli sepakat bahwa tafsir terhadap nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak pernah bersifat tunggal dan mutlak. Sejak awal penciptaannya, pemaknaan sudah disesuaikan dengan konteks zaman para perajin dan pemikirnya. Seiring waktu, setiap generasi menghadirkan tafsir baru yang dipengaruhi oleh perkembangan pengetahuan, pengalaman, serta tantangan yang dihadapi. Keragaman ini menjadi kekayaan yang berharga, namun jika tidak disikapi dengan bijak, perbedaan tafsir dapat memicu gesekan, klaim kebenaran, bahkan konflik yang dilandasi ego pribadi maupun kelompok.

Di sisi lain, dalam pandangan Gerakan budaya rakyat Ruwat Rawat Borobudur, perbedaan tafsir termasuk peringatan yang hadir melalui musibah pandemi COVID-19 justru membuka ruang lahirnya semangat baru. Keragaman pemaknaan dapat diolah menjadi kekuatan kreatif yang diwujudkan melalui karya seni, baik tari, seni rupa, maupun berbagai ekspresi budaya lainnya. Pasca pandemi, pola pelestarian dan pengenalan Borobudur pun mengalami pergeseran. Jika sebelumnya banyak diwujudkan melalui festival dan kegiatan langsung, kini lebih diarahkan pada upaya menyatukan visi, mengurangi gesekan pemikiran, serta memperluas penyebaran pengetahuan agar nilai-nilai luhur masa lampau dapat dipahami dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Borobudur adalah warisan bersama, cerminan bahwa perbedaan dapat dipersatukan menjadi sesuatu yang agung. Pertemuan ini menjadi bukti bahwa dengan sikap terbuka dan semangat menjaga, mahakarya nenek moyang akan terus hidup, memberi makna, dan menjadi sumber inspirasi lintas zaman.

Sorotan khusus dalam pertemuan ini juga tertuju pada sosok Pak Sucoro, yang dengan tekun dan konsisten berupaya menerjemahkan makna Borobudur sebagai jalan menuju kedamaian. Di tengah berbagai dinamika dan perbedaan pandangan yang kerap memicu ketegangan antar kelompok, beliau tetap berjalan pada jalurnya mendokumentasikan, merekam, dan mempublikasikan pemikirannya melalui media sosial sesuai dengan sudut pandangnya. Ia menyadari posisinya bukan sebagai perwakilan kelompok mana pun, melainkan sebagai individu yang merasa terpanggil untuk merawat makna. Dengan kerendahan hati, ia menempatkan dirinya sebagai “bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa”, namun justru dari sikap itulah tampak ketulusan seorang pelestari. Keberpihakannya jelas pada Borobudur itu sendiri, pada nilai yang dikandungnya, dan pada upaya menjaga warisan agar tetap hidup dan bermakna bagi semua.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar