Di tengah suasana hangat dan
penuh keakraban, berkumpul para pemerhati, peneliti, serta ahli budaya dari
Yogyakarta, Solo, dan sekitarnya, termasuk para profesor dan tokoh yang telah
lama mengkaji khazanah budaya Nusantara. Pertemuan ini menjadi ruang berbagi
pemikiran sekaligus momentum untuk menggali kembali nilai-nilai luhur yang
terkandung dalam salah satu mahakarya terbesar nenek moyang, yaitu Candi Borobudur. Melalui diskusi yang mendalam,
terbangun kesepahaman bahwa Borobudur bukan sekadar bangunan candi, melainkan
wujud peradaban tinggi yang lahir dari perpaduan harmonis budaya Hindu dan
Buddha, yang berakar pada masa pemerintahan Rakai
Pikatan dan Pramodhawardani.
Dalam
kajian yang disampaikan, Borobudur dipahami sebagai sarana pemujaan bersama
sekaligus simbol penyatuan nilai spiritual dari dua tradisi besar yang
berkembang di tanah Jawa pada masanya. Dinding-dinding candi yang dipenuhi
relief dan pahatan menjadi saksi bisu kehidupan masa lampau. Kisah-kisah yang
terukir mulai dari Jataka, Awadana, Gandavyuha
Sutra, hingga Lalitavistara serta
konsep kosmologi seperti Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu,
tidak hanya mengandung makna religius, tetapi juga mencerminkan kondisi lingkungan,
tatanan sosial, dan cara pandang manusia pada zamannya. Semua narasi ini
dipahatkan dengan penuh kesadaran, menjadikan Borobudur sebagai “buku sejarah
terbuka” yang dapat dibaca lintas generasi.
Salah
satu bahasan utama dalam pertemuan ini adalah mengenai makna dan tafsir
Borobudur. Para ahli sepakat bahwa tafsir terhadap nilai-nilai yang terkandung
di dalamnya tidak pernah bersifat tunggal dan mutlak. Sejak awal penciptaannya,
pemaknaan sudah disesuaikan dengan konteks zaman para perajin dan pemikirnya.
Seiring waktu, setiap generasi menghadirkan tafsir baru yang dipengaruhi oleh
perkembangan pengetahuan, pengalaman, serta tantangan yang dihadapi. Keragaman
ini menjadi kekayaan yang berharga, namun jika tidak disikapi dengan bijak,
perbedaan tafsir dapat memicu gesekan, klaim kebenaran, bahkan konflik yang
dilandasi ego pribadi maupun kelompok.
Di
sisi lain, dalam pandangan Gerakan budaya rakyat Ruwat Rawat Borobudur,
perbedaan tafsir termasuk peringatan yang hadir melalui musibah pandemi
COVID-19 justru membuka ruang lahirnya semangat baru. Keragaman pemaknaan dapat
diolah menjadi kekuatan kreatif yang diwujudkan melalui karya seni, baik tari,
seni rupa, maupun berbagai ekspresi budaya lainnya. Pasca pandemi, pola
pelestarian dan pengenalan Borobudur pun mengalami pergeseran. Jika sebelumnya
banyak diwujudkan melalui festival dan kegiatan langsung, kini lebih diarahkan
pada upaya menyatukan visi, mengurangi gesekan pemikiran, serta memperluas
penyebaran pengetahuan agar nilai-nilai luhur masa lampau dapat dipahami dan
diwariskan kepada generasi mendatang.
Borobudur
adalah warisan bersama, cerminan bahwa perbedaan dapat dipersatukan menjadi
sesuatu yang agung. Pertemuan ini menjadi bukti bahwa dengan sikap terbuka dan
semangat menjaga, mahakarya nenek moyang akan terus hidup, memberi makna, dan
menjadi sumber inspirasi lintas zaman.
Sorotan
khusus dalam pertemuan ini juga tertuju pada sosok Pak Sucoro, yang dengan
tekun dan konsisten berupaya menerjemahkan makna Borobudur sebagai jalan menuju
kedamaian. Di tengah berbagai dinamika dan perbedaan pandangan yang kerap
memicu ketegangan antar kelompok, beliau tetap berjalan pada jalurnya mendokumentasikan,
merekam, dan mempublikasikan pemikirannya melalui media sosial sesuai dengan
sudut pandangnya. Ia menyadari posisinya bukan sebagai perwakilan kelompok mana
pun, melainkan sebagai individu yang merasa terpanggil untuk merawat makna.
Dengan kerendahan hati, ia menempatkan dirinya sebagai “bukan siapa-siapa dan
bukan apa-apa”, namun justru dari sikap itulah tampak ketulusan seorang
pelestari. Keberpihakannya jelas pada Borobudur itu sendiri, pada nilai yang
dikandungnya, dan pada upaya menjaga warisan agar tetap hidup dan bermakna bagi
semua.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar