Oleh: Sucoro Setrodiharjo
Lahir September 1951 di kawasan Candi Borobudur
Sucoro
Setrodiharjo lahir dan meniti kehidupan
tepat di kawasan Borobudur. Lebih dari tujuh dekade saya hidup berdampingan
dengan candi agung ini. Setiap perubahan, peristiwa, dan suasana yang terjadi
di sekitarnya terekam kuat dalam ingatan saya, seolah menjadi bagian dari
perjalanan hidup itu sendiri. Pengalaman-pengalaman tersebut telah saya
tuangkan dalam berbagai tulisan hingga kini telah terbit dua belas buku, dan
satu lagi hampir rampung. Tulisan ini menjadi bagian dari upaya merawat ingatan
sekaligus merumuskan pemikiran.
Masa
kanak-kanak saya pada tahun 1950-an hingga awal 1960-an berlangsung dalam
suasana yang sederhana, damai, dan tenteram. Transportasi masih terbatas; saya
masih ingat oplet milik Pak Mawardi dan Bahliat, serta bus rute Muntilan–Salaman–Magelang
yang semula bernama Bus Maju, kemudian berganti menjadi Ramayana. Pusat
keramaian kala itu berada di Pasar Ngaran, sekitar 200 meter dari kaki candi sebuah
ruang hidup masyarakat yang menjadi simpul perjumpaan sehari-hari.
Pada
masa itu listrik belum masuk ke wilayah Borobudur; penerangan baru hadir
sekitar tahun 1971–1972. Namun kehidupan tetap terasa hidup karena kedekatan
kami dengan pasar dan aktivitas warga. Borobudur sendiri belum menjadi
destinasi wisata seperti sekarang. Pengunjung yang datang sebagian besar adalah
peziarah. Kondisi fisik candi pun memprihatinkan: beberapa bagian miring,
batu-batu lapuk, dan struktur yang mulai rapuh dimakan usia.
Upaya
pemugaran mulai dilakukan pada tahun 1965 dengan peralatan sederhana dan tenaga
manusia. Saya menyaksikan sendiri bagaimana balok-balok kayu jati disusun
tinggi, derik-derik besi digunakan untuk mengangkat batu, dan aba-aba seperti
“Ono – Ini – Ayo – Hiing” menggema di sekitar candi sebagai penanda kerja
gotong royong para pekerja. Namun pekerjaan ini sempat terhenti akibat situasi
politik setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965.
Pemugaran
dilanjutkan kembali pada tahun 1973 dan berlangsung hingga 1983. Proyek besar
ini melibatkan ratusan tenaga kerja serta para ahli dari dalam dan luar negeri,
di bawah kepemimpinan R. Soekmono dan Mundardjito. Kawasan di sekitar candi
juga mengalami pembebasan lahan sebagai bagian dari upaya pelestarian. Saya
masih mengingat para warga seperti Pak Wirotejo, Pak Sunardi, dan Pak Rakim
yang dengan ikhlas menyerahkan tanahnya demi keberlangsungan Borobudur.
Setelah
sepuluh tahun pemugaran, Borobudur kembali berdiri kokoh. Harapan kami
sederhana namun dalam: agar candi ini tetap lestari dan dapat diwariskan kepada
generasi mendatang. Pada masa pemerintahan Soeharto, ditetapkanlah sebutan
resmi Borobudur sebagai “Pusaka Budaya Bangsa”. Sebutan yang tertulis pada
prasasti pemugaran ini menegaskan bahwa Borobudur adalah warisan leluhur, milik
bersama seluruh rakyat Indonesia, dan memiliki nilai universal.
Dalam
perjalanan waktu, saya melalui kegiatan budaya rakyuat Ruwat Rawat Borobudur berusaha mengambil bagian kecil sebagai wujud
keterlibatan masyarakat. Momen pada foto diambil ketika saya menyerahkan sebuah batu pada prasasti pemugaran yang menjadi simbol
sederhana, namun bermakna sebagai penanda peran serta masyarakat dalam upaya
pelestarian Borobudur, sekaligus menandai menjelang 40 tahun titik awal
Borobudur berkembang sebagai destinasi wisata. Bagi saya, tindakan kecil ini
adalah pengingat bahwa pelestarian bukan hanya tanggung jawab negara, tetapi
juga panggilan kesadaran bersama.
Namun
dari situlah muncul pertanyaan yang terus saya renungkan: apakah sebutan
“pusaka budaya bangsa” selaras dengan kedudukannya sebagai tempat ibadah?
Secara
sejarah, Borobudur dibangun pada abad ke-8 hingga ke-9 oleh Wangsa Syailendra
sebagai tempat suci, pusat pembelajaran, dan ruang ritual keagamaan Buddha.
Fungsi ini tidak pernah benar-benar hilang. Hingga kini, setiap perayaan Hari
Raya Waisak, ribuan umat datang untuk beribadah, melakukan pradaksina, dan
menjalankan ritual spiritual.
Jika
ditelaah lebih dalam, sebutan “pusaka budaya bangsa” menekankan pada nilai
hukum, identitas nasional, dan sifatnya yang inklusif terbuka bagi siapa saja
untuk belajar dan mengapresiasi. Sementara itu, fungsi sebagai tempat ibadah
mengandung dimensi sakral yang memerlukan penghormatan, tata cara, serta ruang
yang terjaga kesuciannya.
Menurut
pemikiran saya, keduanya tidak bertentangan, tetapi juga tidak sepenuhnya
identik. Sebutan resmi tersebut tidak menghapus fungsi spiritual Borobudur,
melainkan justru saling melengkapi. Nilai budaya Borobudur tidak dapat dipahami
secara utuh tanpa akar keagamaannya, dan praktik ibadah di dalamnya menjadi
semakin bermakna karena berlangsung di atas warisan budaya yang dijaga bersama.
Di
sinilah muncul satu lapisan pemaknaan lain yang patut dipertimbangkan:
Borobudur sebagai pusaka yang berdiri di jantung Pulau Jawa tidak dapat
dilepaskan sepenuhnya dari jejak spiritualitas lokal Nusantara, termasuk
tradisi Kapitayan yang dianut oleh leluhur masyarakat setempat. Kapitayan
mengenal konsep ketuhanan yang transenden“Sang Hyang Taya” yang tidak berwujud
namun hadir dalam kesunyian dan kekosongan.
Jika
dilihat secara reflektif, konsep ini memiliki resonansi tertentu dengan
struktur dan simbolisme Borobudur sebagai mandala: perjalanan dari dunia rupa
menuju kekosongan tertinggi. Meski secara historis Borobudur adalah monumen
Buddha Mahayana, bukan berarti ia berdiri dalam ruang hampa budaya. Ada
kemungkinan terjadi dialog peradaban—pertemuan antara ajaran Buddha dengan
kearifan lokal yang telah hidup sebelumnya.
Dengan
demikian, menyebut Borobudur sebagai “Pusaka Budaya Bangsa” bukan hanya soal
status administratif, tetapi juga pengakuan atas lapisan-lapisan makna yang
menyusunnya: spiritualitas, sejarah, kebudayaan, dan ingatan kolektif. Ia bukan
sekadar monumen batu, melainkan ruang hidup yang merekam perjumpaan berbagai
tradisi.
Sejak
kecil hingga kini, saya menyaksikan sendiri bagaimana semua itu berjalan
berdampingan. Wisatawan datang untuk belajar dan mengagumi, peziarah datang
untuk berdoa, dan masyarakat hidup berdampingan dengan candi sebagai bagian
dari kehidupan sehari-hari.
Itulah
Borobudur bukan hanya peninggalan masa lalu, tetapi juga jembatan yang
menghubungkan manusia dengan sejarahnya, dengan budayanya, dan dengan Yang
Ilahi dalam satu harmoni yang utuh.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar