Tumbuh Bersama Borobudur: Kenangan, Restorasi, dan Makna Pusaka Budaya Bangsa - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Sabtu, 25 April 2026

Tumbuh Bersama Borobudur: Kenangan, Restorasi, dan Makna Pusaka Budaya Bangsa

Oleh: Sucoro Setrodiharjo
Lahir  September 1951 di kawasan Candi Borobudur

Sucoro Setrodiharjo  lahir dan meniti kehidupan tepat di kawasan Borobudur. Lebih dari tujuh dekade saya hidup berdampingan dengan candi agung ini. Setiap perubahan, peristiwa, dan suasana yang terjadi di sekitarnya terekam kuat dalam ingatan saya, seolah menjadi bagian dari perjalanan hidup itu sendiri. Pengalaman-pengalaman tersebut telah saya tuangkan dalam berbagai tulisan hingga kini telah terbit dua belas buku, dan satu lagi hampir rampung. Tulisan ini menjadi bagian dari upaya merawat ingatan sekaligus merumuskan pemikiran.

Masa kanak-kanak saya pada tahun 1950-an hingga awal 1960-an berlangsung dalam suasana yang sederhana, damai, dan tenteram. Transportasi masih terbatas; saya masih ingat oplet milik Pak Mawardi dan Bahliat, serta bus rute Muntilan–Salaman–Magelang yang semula bernama Bus Maju, kemudian berganti menjadi Ramayana. Pusat keramaian kala itu berada di Pasar Ngaran, sekitar 200 meter dari kaki candi sebuah ruang hidup masyarakat yang menjadi simpul perjumpaan sehari-hari.

Pada masa itu listrik belum masuk ke wilayah Borobudur; penerangan baru hadir sekitar tahun 1971–1972. Namun kehidupan tetap terasa hidup karena kedekatan kami dengan pasar dan aktivitas warga. Borobudur sendiri belum menjadi destinasi wisata seperti sekarang. Pengunjung yang datang sebagian besar adalah peziarah. Kondisi fisik candi pun memprihatinkan: beberapa bagian miring, batu-batu lapuk, dan struktur yang mulai rapuh dimakan usia.

Upaya pemugaran mulai dilakukan pada tahun 1965 dengan peralatan sederhana dan tenaga manusia. Saya menyaksikan sendiri bagaimana balok-balok kayu jati disusun tinggi, derik-derik besi digunakan untuk mengangkat batu, dan aba-aba seperti “Ono – Ini – Ayo – Hiing” menggema di sekitar candi sebagai penanda kerja gotong royong para pekerja. Namun pekerjaan ini sempat terhenti akibat situasi politik setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965.

Pemugaran dilanjutkan kembali pada tahun 1973 dan berlangsung hingga 1983. Proyek besar ini melibatkan ratusan tenaga kerja serta para ahli dari dalam dan luar negeri, di bawah kepemimpinan R. Soekmono dan Mundardjito. Kawasan di sekitar candi juga mengalami pembebasan lahan sebagai bagian dari upaya pelestarian. Saya masih mengingat para warga seperti Pak Wirotejo, Pak Sunardi, dan Pak Rakim yang dengan ikhlas menyerahkan tanahnya demi keberlangsungan Borobudur.

Setelah sepuluh tahun pemugaran, Borobudur kembali berdiri kokoh. Harapan kami sederhana namun dalam: agar candi ini tetap lestari dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang. Pada masa pemerintahan Soeharto, ditetapkanlah sebutan resmi Borobudur sebagai “Pusaka Budaya Bangsa”. Sebutan yang tertulis pada prasasti pemugaran ini menegaskan bahwa Borobudur adalah warisan leluhur, milik bersama seluruh rakyat Indonesia, dan memiliki nilai universal.

Dalam perjalanan waktu, saya melalui kegiatan budaya rakyuat Ruwat Rawat Borobudur  berusaha mengambil bagian kecil sebagai wujud keterlibatan masyarakat. Momen pada foto diambil  ketika saya menyerahkan sebuah batu pada  prasasti pemugaran yang menjadi simbol sederhana, namun bermakna sebagai penanda peran serta masyarakat dalam upaya pelestarian Borobudur, sekaligus menandai menjelang 40 tahun titik awal Borobudur berkembang sebagai destinasi wisata. Bagi saya, tindakan kecil ini adalah pengingat bahwa pelestarian bukan hanya tanggung jawab negara, tetapi juga panggilan kesadaran bersama.

Namun dari situlah muncul pertanyaan yang terus saya renungkan: apakah sebutan “pusaka budaya bangsa” selaras dengan kedudukannya sebagai tempat ibadah?

Secara sejarah, Borobudur dibangun pada abad ke-8 hingga ke-9 oleh Wangsa Syailendra sebagai tempat suci, pusat pembelajaran, dan ruang ritual keagamaan Buddha. Fungsi ini tidak pernah benar-benar hilang. Hingga kini, setiap perayaan Hari Raya Waisak, ribuan umat datang untuk beribadah, melakukan pradaksina, dan menjalankan ritual spiritual.

Jika ditelaah lebih dalam, sebutan “pusaka budaya bangsa” menekankan pada nilai hukum, identitas nasional, dan sifatnya yang inklusif terbuka bagi siapa saja untuk belajar dan mengapresiasi. Sementara itu, fungsi sebagai tempat ibadah mengandung dimensi sakral yang memerlukan penghormatan, tata cara, serta ruang yang terjaga kesuciannya.

Menurut pemikiran saya, keduanya tidak bertentangan, tetapi juga tidak sepenuhnya identik. Sebutan resmi tersebut tidak menghapus fungsi spiritual Borobudur, melainkan justru saling melengkapi. Nilai budaya Borobudur tidak dapat dipahami secara utuh tanpa akar keagamaannya, dan praktik ibadah di dalamnya menjadi semakin bermakna karena berlangsung di atas warisan budaya yang dijaga bersama.

Di sinilah muncul satu lapisan pemaknaan lain yang patut dipertimbangkan: Borobudur sebagai pusaka yang berdiri di jantung Pulau Jawa tidak dapat dilepaskan sepenuhnya dari jejak spiritualitas lokal Nusantara, termasuk tradisi Kapitayan yang dianut oleh leluhur masyarakat setempat. Kapitayan mengenal konsep ketuhanan yang transenden“Sang Hyang Taya” yang tidak berwujud namun hadir dalam kesunyian dan kekosongan.

Jika dilihat secara reflektif, konsep ini memiliki resonansi tertentu dengan struktur dan simbolisme Borobudur sebagai mandala: perjalanan dari dunia rupa menuju kekosongan tertinggi. Meski secara historis Borobudur adalah monumen Buddha Mahayana, bukan berarti ia berdiri dalam ruang hampa budaya. Ada kemungkinan terjadi dialog peradaban—pertemuan antara ajaran Buddha dengan kearifan lokal yang telah hidup sebelumnya.

Dengan demikian, menyebut Borobudur sebagai “Pusaka Budaya Bangsa” bukan hanya soal status administratif, tetapi juga pengakuan atas lapisan-lapisan makna yang menyusunnya: spiritualitas, sejarah, kebudayaan, dan ingatan kolektif. Ia bukan sekadar monumen batu, melainkan ruang hidup yang merekam perjumpaan berbagai tradisi.

Sejak kecil hingga kini, saya menyaksikan sendiri bagaimana semua itu berjalan berdampingan. Wisatawan datang untuk belajar dan mengagumi, peziarah datang untuk berdoa, dan masyarakat hidup berdampingan dengan candi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Itulah Borobudur bukan hanya peninggalan masa lalu, tetapi juga jembatan yang menghubungkan manusia dengan sejarahnya, dengan budayanya, dan dengan Yang Ilahi dalam satu harmoni yang utuh.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar