MELALUI RUWAT RAWAT BOROBUDUR,BELAJAR DIELEKTIKA UNTUK ANAK BANGSA - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Selasa, 05 Mei 2026

MELALUI RUWAT RAWAT BOROBUDUR,BELAJAR DIELEKTIKA UNTUK ANAK BANGSA

Tim Redaksi Sekolah Kehidupan

Sejak tuntasnya restorasi kedua, wajah pengelolaan Candi Borobudur tampak mengalami pergeseran orientasi yang cukup signifikan. Borobudur kini cenderung dipandang melalui kacamata pariwisata massal, di mana statistik kunjungan dan angka pendapatan menjadi tolok ukur keberhasilan utama. Ironisnya, di tengah hiruk-pikuk industrialisasi tersebut, nilai-nilai spiritualitas yang menjadi fondasi dasar bangunan ini perlahan mulai terpinggirkan. Padahal, sejak awal batu-batu itu disusun, Borobudur diniatkan sebagai ruang perjalanan kesadaran sebuah wadah bagi manusia untuk belajar tentang hakikat kehidupan, kebajikan, dan makna luhur yang melampaui zaman.

Borobudur adalah sebuah entitas yang hidup dalam beragam tafsir: ia adalah ruang sakral bagi pemeluk agama, warisan budaya yang diakui dunia, sekaligus mesin penggerak ekonomi bagi masyarakat sekitarnya. Di tengah tarik-menarik berbagai kepentingan inilah, gerakan Ruwat Rawat Brayat Panangkaran Borobudur hadir sebagai sebuah kesadaran kolektif untuk mengembalikan keseimbangan yang mulai goyah.

Gerakan ini bukanlah sekadar seremoni tahunan yang bersifat seremonial belaka. Lebih dari itu, ia adalah sebuah "laku" atau tindakan nyata dalam merawat secara utuh. Konsep Ruwat (memulihkan) dan Rawat (menjaga) tidak hanya ditujukan pada fisik bebatuan candi, melainkan juga pada ruh, nilai-nilai filosofis, dan khazanah pengetahuan yang dikandungnya. Melalui momentum Webinar Sekolah Kehidupan ke-11 tahun 2026, dialektika lintas perspektif akan dibuka lebar. Forum ini menjadi ruang temu bagi masyarakat, tokoh adat, akademisi, tokoh agama, hingga budayawan untuk merangkai pemahaman bersama tanpa harus meniadakan perbedaan tafsir yang ada.

Menjembatani Peradaban Melalui Dialektika

Dari proses dialektika yang konsisten inilah, lahir penguatan pengetahuan yang diwujudkan melalui dokumentasi, kajian mendalam, dan berbagai media publik. Ini adalah ikhtiar untuk menyiapkan bekal bagi generasi mendatang agar mereka tidak hanya mewarisi Borobudur sebagai tumpukan batu mati, tetapi sebagai sumber kebijaksanaan yang hidup. Selama lebih dari dua dekade, meski dihantam berbagai tantangan zaman, gerakan ini tetap teguh berdiri sebagai jembatan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Sebuah penegasan bahwa merawat Borobudur sejatinya adalah upaya kita dalam merawat peradaban manusia itu sendiri.

Memasuki usia perjalanannya yang ke-24 di tahun 2026, refleksi ini pun semakin diperdalam. Webinar Sekolah Kehidupan ke-11 kali ini mengusung tema yang sarat makna: “Memayu Hayuning Borobudur: Belajar dari Pesan Semar Badranaya, Sabdo Palon, hingga Laku Raden Mas Panji Sosrokartono.” Tema ini merupakan sebuah ajakan puitis sekaligus politis untuk membaca kembali Borobudur sebagai Bhumisambhara Budhara—sebuah mandala kesadaran yang kini terancam tereduksi oleh logika pariwisata yang serba instan.

Tiga Pilar Pelestarian, Perlindungan,Pemanfaatan menjadi : Pepeling lan Pepadang

Berangkat dari "wangsit" atau ilham dari Bumi Menoreh bahwa tatanan batu Borobudur adalah pepeling lan pepadang (peringatan dan penerangan), forum ini menegaskan urgensi menjaga ruh candi agar tetap menyala dalam dimensi spiritual, ekologis, dan sosial. Dialektika yang dibangun bertumpu pada tiga pilar kebijaksanaan utama:

  1. Semar Badranaya dan Sabdo Palon: Sebagai representasi suara batin dan kearifan purba Nusantara yang mengingatkan kita pada akar jati diri.
  2. Raden Mas Panji Sosrokartono: Sang jenius yang menghadirkan laku kesadaran bahwa kemajuan sejati hanya bisa lahir dari keseimbangan batin yang tenang dan tindakan yang penuh kasih.

Melalui lintasan perspektif para narasumber dari berbagai bidang, forum ini mengemban misi mulia Memayu Hayuning Bawono. Fokusnya jelas: memulihkan Borobudur sebagai laboratorium peradaban, menyelaraskan kebijakan pemerintah agar lebih berpihak pada nilai-nilai luhur, serta mendorong terciptanya pariwisata berkualitas yang berbasis pada martabat budaya.

Dipandu oleh Sucoro Setrodiharjo, ruang dialektika ini bertransformasi menjadi titik temu antara gagasan besar dan laku nyata di lapangan. Pada akhirnya, apa yang kita lakukan hari ini bukanlah sekadar diskusi di ruang digital, melainkan sebuah ikhtiar batin dan lahiriah untuk menjaga Borobudur agar tetap menjadi “mercusuar cahaya.” Sebuah warisan hidup yang tidak hanya berdiri megah sebagai monumen dunia, tetapi juga berfungsi sebagai penuntun setiap langkah manusia menuju puncak kebijaksanaan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar