Sejak tuntasnya restorasi kedua, wajah pengelolaan
Candi Borobudur tampak mengalami pergeseran orientasi yang cukup signifikan.
Borobudur kini cenderung dipandang melalui kacamata pariwisata massal, di mana
statistik kunjungan dan angka pendapatan menjadi tolok ukur keberhasilan utama.
Ironisnya, di tengah hiruk-pikuk industrialisasi tersebut, nilai-nilai
spiritualitas yang menjadi fondasi dasar bangunan ini perlahan mulai
terpinggirkan. Padahal, sejak awal batu-batu itu disusun, Borobudur diniatkan
sebagai ruang perjalanan kesadaran sebuah wadah bagi manusia untuk belajar
tentang hakikat kehidupan, kebajikan, dan makna luhur yang melampaui zaman.
Borobudur adalah sebuah entitas yang hidup dalam
beragam tafsir: ia adalah ruang sakral bagi pemeluk agama, warisan budaya yang
diakui dunia, sekaligus mesin penggerak ekonomi bagi masyarakat sekitarnya. Di
tengah tarik-menarik berbagai kepentingan inilah, gerakan Ruwat Rawat Brayat
Panangkaran Borobudur hadir sebagai sebuah kesadaran kolektif untuk
mengembalikan keseimbangan yang mulai goyah.
Gerakan ini bukanlah sekadar seremoni tahunan yang bersifat
seremonial belaka. Lebih dari itu, ia adalah sebuah "laku" atau
tindakan nyata dalam merawat secara utuh. Konsep Ruwat (memulihkan) dan Rawat
(menjaga) tidak hanya ditujukan pada fisik bebatuan candi, melainkan juga pada
ruh, nilai-nilai filosofis, dan khazanah pengetahuan yang dikandungnya. Melalui
momentum Webinar Sekolah Kehidupan ke-11 tahun 2026, dialektika lintas
perspektif akan dibuka lebar. Forum ini menjadi ruang temu bagi masyarakat,
tokoh adat, akademisi, tokoh agama, hingga budayawan untuk merangkai pemahaman
bersama tanpa harus meniadakan perbedaan tafsir yang ada.
Menjembatani
Peradaban Melalui Dialektika
Dari proses dialektika yang konsisten inilah, lahir
penguatan pengetahuan yang diwujudkan melalui dokumentasi, kajian mendalam, dan
berbagai media publik. Ini adalah ikhtiar untuk menyiapkan bekal bagi generasi
mendatang agar mereka tidak hanya mewarisi Borobudur sebagai tumpukan batu
mati, tetapi sebagai sumber kebijaksanaan yang hidup. Selama lebih dari dua
dekade, meski dihantam berbagai tantangan zaman, gerakan ini tetap teguh
berdiri sebagai jembatan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa
depan. Sebuah penegasan bahwa merawat Borobudur sejatinya adalah upaya kita
dalam merawat peradaban manusia itu sendiri.
Memasuki usia perjalanannya yang ke-24 di tahun
2026, refleksi ini pun semakin diperdalam. Webinar Sekolah Kehidupan ke-11 kali
ini mengusung tema yang sarat makna: “Memayu Hayuning Borobudur: Belajar
dari Pesan Semar Badranaya, Sabdo Palon, hingga Laku Raden Mas Panji
Sosrokartono.” Tema ini merupakan sebuah ajakan puitis sekaligus politis
untuk membaca kembali Borobudur sebagai Bhumisambhara Budhara—sebuah
mandala kesadaran yang kini terancam tereduksi oleh logika pariwisata yang
serba instan.
Tiga Pilar Pelestarian,
Perlindungan,Pemanfaatan menjadi : Pepeling lan Pepadang
Berangkat dari "wangsit" atau ilham dari
Bumi Menoreh bahwa tatanan batu Borobudur adalah pepeling lan pepadang
(peringatan dan penerangan), forum ini menegaskan urgensi menjaga ruh candi
agar tetap menyala dalam dimensi spiritual, ekologis, dan sosial. Dialektika
yang dibangun bertumpu pada tiga pilar kebijaksanaan utama:
- Semar Badranaya dan Sabdo Palon:
Sebagai representasi suara batin dan kearifan purba Nusantara yang
mengingatkan kita pada akar jati diri.
- Raden Mas Panji Sosrokartono:
Sang jenius yang menghadirkan laku kesadaran bahwa kemajuan sejati hanya
bisa lahir dari keseimbangan batin yang tenang dan tindakan yang penuh
kasih.
Melalui lintasan perspektif para narasumber dari
berbagai bidang, forum ini mengemban misi mulia Memayu Hayuning Bawono.
Fokusnya jelas: memulihkan Borobudur sebagai laboratorium peradaban,
menyelaraskan kebijakan pemerintah agar lebih berpihak pada nilai-nilai luhur,
serta mendorong terciptanya pariwisata berkualitas yang berbasis pada martabat
budaya.
Dipandu oleh Sucoro Setrodiharjo, ruang
dialektika ini bertransformasi menjadi titik temu antara gagasan besar dan laku
nyata di lapangan. Pada akhirnya, apa yang kita lakukan hari ini bukanlah
sekadar diskusi di ruang digital, melainkan sebuah ikhtiar batin dan lahiriah
untuk menjaga Borobudur agar tetap menjadi “mercusuar cahaya.” Sebuah warisan
hidup yang tidak hanya berdiri megah sebagai monumen dunia, tetapi juga
berfungsi sebagai penuntun setiap langkah manusia menuju puncak kebijaksanaan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar