“Sinau Maca Kahanan di Hari yang Fitri” - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Kamis, 19 Maret 2026

“Sinau Maca Kahanan di Hari yang Fitri”


Di antara hal-hal sederhana yang menemani hari, secangkir teh hangat,di meja yang akrab, dan lembaran-lembaran kisah kehidupan kita belajar bahwa waktu tidak hanya berjalan, tetapi juga mengajak kita untuk merenung.

Hari Raya Idul Fitri 1447 H datang bukan sekadar sebagai perayaan, melainkan sebagai ruang sunyi untuk kembali mengenali diri. Setelah perjalanan panjang menahan diri, menata niat, dan belajar tentang makna kesabaran, kini kita sampai pada satu titik penting kesadaran bahwa menjadi manusia adalah tentang terus memperbaiki, bukan menjadi sempurna.

Keluarga Sucoro Setrodiharjo dengan tulus mengucapkan,
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H.

Di hari yang fitri ini, kami memohon maaf lahir dan batin atas kata yang mungkin melukai, sikap yang tanpa sadar menyakiti, maupun langkah yang pernah menjauhkan. Semoga kita semua diberi kelapangan hati untuk saling memaafkan, bukan hanya di bibir, tetapi hingga ke dalam nurani.

Lebaran adalah tentang kedamaian. Kedamaian yang tidak selalu hadir dari luar, tetapi tumbuh dari dalam diri dari kemampuan untuk menerima, memahami, dan berdamai dengan diri sendiri. Dari sana, kedamaian itu mengalir kepada sesama, menghangatkan hubungan, dan menguatkan ikatan kemanusiaan.

Di hadapan sebuah buku “Sinau Maca Kahanan”belajar membaca keadaan—kita seakan diingatkan bahwa hidup bukan hanya tentang memahami dunia luar, tetapi juga tentang kepekaan membaca isi hati sendiri. Kapan harus berbicara, kapan harus diam. Kapan melangkah, dan kapan menepi. Dari sanalah tumbuh kebijaksanaan yang sederhana namun dalam.

Sebagaimana nilai-nilai luhur yang tumbuh di tanah Borobudur yang mengajarkan keseimbangan antara batin dan kehidupan sehari-hari kita diingatkan bahwa perjalanan manusia adalah perjalanan naik perlahan, setapak demi setapak, menuju kesadaran yang lebih jernih. Dalam kesunyian, kita belajar mendengar diri sendiri. Dalam kebersamaan, kita belajar memaknai sesama.

Lebaran juga menjadi pengingat bahwa setiap manusia membawa ceritanya masing-masing. Ada luka yang disimpan, ada harapan yang diperjuangkan. Maka memaafkan bukan hanya tentang orang lain, tetapi juga tentang membebaskan diri dari beban yang selama ini kita genggam.

Semoga hari kemenangan ini menjadi awal bagi kesadaran yang lebih dalam: bahwa hidup bukan sekadar tentang apa yang kita miliki, tetapi tentang bagaimana kita memaknai setiap perjumpaan, setiap perbedaan, dan setiap kesempatan untuk berbuat baik.

Mari kita jaga hati tetap jernih, langkah tetap rendah, dan niat tetap lurus.
Semoga kedamaian senantiasa menyertai kita, hari ini dan hari-hari setelahnya.

Selamat Lebaran.
Mohon maaf lahir dan batin.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar