Cerita di Balik Gerbang Balkondes
Matahari
Kamis siang itu cukup menyengat di kawasan Borobudur, tapi angin sepoi dari
perbukitan Menoreh memberikan sedikit kompensasi bagi Tim Riset Mandiri BRIN
dan para budayawan yang sedang menelusuri jejak-jejak Balai Ekonomi Desa
(Balkondes).
Di sebuah
sudut joglo yang asri, Mbak Novi, Mas Budi, dan Pak Coro
(budayawan senior Ruwat Rawat Borobudur) duduk melingkar. Di meja kayu mereka,
tersaji jahe geprek hangat yang uapnya menari-nari. Percakapan mereka pun
mengalir, membedah realita di balik megahnya bangunan-bangunan bantuan CSR itu.
Giri Tengah Indah, tapi Terasa "Asing"
Mbak
Novi:
(Menyesap tehnya pelan) "Jujur ya Pak Coro, Mas Budi... tadi pas kita di
Giri Tengah, perasaan saya agak campur aduk. Pemandangannya? Wah, juara!
Menoreh-nya itu lho, kelihatan gagah banget dari situ. Jalannya yang
berundak-undak mirip bukit kecil, air sungainya bening di bawah jembatan...
benar-benar definisi healing yang dicari orang kota."
Mas Budi: "Betul, Mbak. Tapi ngerasa
nggak sih? Tadi pas kita di sana, sepi banget. Bukan sepi yang menenangkan,
tapi sepi yang... mati. Nggak ada pengelola yang bisa diajak ngobrol, nggak ada
warga yang aktivitas. Padahal Balkondes itu kan lahirnya tahun 2017 buat jadi
ruang sosial warga."
Pak Coro: (Tersenyum getir) "Itulah
masalahnya, Mas Budi. Giri Tengah itu ibarat rumah bagus tapi kuncinya dipegang
orang jauh. Sekarang dikelola pihak ketiga, kontrak lima tahunan. Dulu sama
Kampung Inggris Kediri, besok katanya mau sama motivator dari Temanggung. Warga
lokalnya? Ya jadi penonton saja."
Mbak
Novi:
"Tadi saya sedih lho Pak, dengar cerita ada warga yang buka warung lotek
buat pekerja jembatan di dekat situ, malah ditegur nggak boleh jualan di area
Balkondes. Padahal itu kan tanah desa. Kalau akses sosialnya ditutup begitu,
roh 'Balkondes' sebagai balai ekonomi desa-nya jadi hilang, ya?"
Pak Coro: "Iya, Nduk. Akhirnya
targetnya cuma orang Jakarta yang mau staycation. Menunya saja tadi
dibilang bakal sedia bakpao. Lho, bakpao itu sejak kapan jadi makanan khas Giri
Tengah? (Tertawa kecil). Padahal orang ke desa itu cari ingkung ayam,
cari makanan yang akarnya dari bumi setempat. Kalau semuanya serba 'paket
wisata' pabrikan, ya jiwanya nggak ada."
Ngadiharjo: Nafas Spiritualitas yang Hidup
Mas Budi: "Nah, untungnya pas kita
geser ke Ngadiharjo, suasana langsung berubah total. Pas kita masuk, eh ada
anak-anak Pramuka lagi latihan di area pertunjukan. Itu baru namanya ruang
sosial! Balkondesnya hidup, ada suaranya."
Mbak
Novi:
"Iya! Dan Mbak Erna sama teman-temannya di sana itu keren banget. Mereka
beneran 'ngopeni' (merawat) tempat itu di bawah BUMDes. Pas saya tanya
minumannya sasetan atau asli, dia bangga banget jawab kalau jahe sama
rosellanya itu racikan sendiri. Ada kopi khas Ngadiharjo juga. Rasanya itu...
ada sentuhan manusianya."
Pak Coro: "Mbak Erna tadi sempat
curhat sama saya. Awalnya dia pikir 'spiritualitas' itu sesuatu yang serem,
klenik, atau urusan perdukunan dan orang rambut gondrong yang aneh-aneh. Dia
nggak sadar kalau apa yang dia kerjakan selama ini—menjaga ketenangan,
keramahan, dan keindahan alam Ngadiharjo—itu adalah bentuk spiritualitas desa
yang paling nyata."
Mas Budi: "Betul, Pak. Setelah kita
jelasin kalau spiritual itu adalah spirit atau jiwa dari potensi desa,
dia langsung kayak 'klik' gitu. Ternyata mereka sudah mempromosikan paket
wisata spiritual tanpa sadar. Mulai dari ajak tamu tracking sepeda
pagi-pagi lihat sunrise di Menoreh, sampai mampir ke UMKM kerajinan
rajut sama ecoprint."
Mbak
Novi:
"Pantesan ya, Mas, datanya bilang 85% pengunjung Ngadiharjo itu orang yang
pernah datang sebelumnya. Mereka balik lagi bukan cuma mau lihat gunung, tapi
mau lihat proses bikin jetkolet, grubi, atau tiwul. Mereka
kangen sama interaksi sosialnya yang inklusif dan rukun."
Refleksi di Sore Hari
Pak Coro: (Mengetuk meja pelan) "Jadi
begini, kuncinya itu di kemandirian. Ngadiharjo bisa setor 25% profit ke PADes
karena mereka merasa memiliki. Mereka ikut pelatihan di BBPVP Semarang bukan
cuma buat gaya-gayaan, tapi langsung dipraktekkan. Mereka sadar kalau Balkondes
itu jembatan antara ekonomi dan martabat warga."
Mas Budi: "Kesimpulannya, Balkondes
itu jangan cuma jadi 'ruang bisnis' yang dingin kayak di Giri Tengah tadi, ya
Pak? Harus jadi ruang spiritual dan sosial juga. Kalau cuma cari untung, ya
mending bangun hotel saja sekalian."
Mbak
Novi:
"Setuju. Di Ngadiharjo kita belajar kalau digitalisasi dan media sosial
itu penting, tapi 'mulut ke mulut' dari tamu yang puas karena merasa dianggap
'saudara' itu jauh lebih ampuh. Desa itu harusnya menyembuhkan, bukan cuma
menyewakan kamar."
Sore itu,
obrolan mereka ditutup dengan tawa kecil saat Mbak Erna kembali membawakan
sepiring camilan tradisional. Di Ngadiharjo, Balkondes bukan sekadar bangunan
CSR, ia adalah detak jantung yang memastikan desanya tetap hidup, mandiri, dan
punya harga diri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar