Senandika Borobudur - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Sabtu, 14 Maret 2026

Senandika Borobudur

Cerita di Balik Gerbang Balkondes

Matahari Kamis siang itu cukup menyengat di kawasan Borobudur, tapi angin sepoi dari perbukitan Menoreh memberikan sedikit kompensasi bagi Tim Riset Mandiri BRIN dan para budayawan yang sedang menelusuri jejak-jejak Balai Ekonomi Desa (Balkondes).

Di sebuah sudut joglo yang asri, Mbak Novi, Mas Budi, dan Pak Coro (budayawan senior Ruwat Rawat Borobudur) duduk melingkar. Di meja kayu mereka, tersaji jahe geprek hangat yang uapnya menari-nari. Percakapan mereka pun mengalir, membedah realita di balik megahnya bangunan-bangunan bantuan CSR itu.

Giri Tengah Indah, tapi Terasa "Asing"

Mbak Novi: (Menyesap tehnya pelan) "Jujur ya Pak Coro, Mas Budi... tadi pas kita di Giri Tengah, perasaan saya agak campur aduk. Pemandangannya? Wah, juara! Menoreh-nya itu lho, kelihatan gagah banget dari situ. Jalannya yang berundak-undak mirip bukit kecil, air sungainya bening di bawah jembatan... benar-benar definisi healing yang dicari orang kota."

Mas Budi: "Betul, Mbak. Tapi ngerasa nggak sih? Tadi pas kita di sana, sepi banget. Bukan sepi yang menenangkan, tapi sepi yang... mati. Nggak ada pengelola yang bisa diajak ngobrol, nggak ada warga yang aktivitas. Padahal Balkondes itu kan lahirnya tahun 2017 buat jadi ruang sosial warga."

Pak Coro: (Tersenyum getir) "Itulah masalahnya, Mas Budi. Giri Tengah itu ibarat rumah bagus tapi kuncinya dipegang orang jauh. Sekarang dikelola pihak ketiga, kontrak lima tahunan. Dulu sama Kampung Inggris Kediri, besok katanya mau sama motivator dari Temanggung. Warga lokalnya? Ya jadi penonton saja."

Mbak Novi: "Tadi saya sedih lho Pak, dengar cerita ada warga yang buka warung lotek buat pekerja jembatan di dekat situ, malah ditegur nggak boleh jualan di area Balkondes. Padahal itu kan tanah desa. Kalau akses sosialnya ditutup begitu, roh 'Balkondes' sebagai balai ekonomi desa-nya jadi hilang, ya?"

Pak Coro: "Iya, Nduk. Akhirnya targetnya cuma orang Jakarta yang mau staycation. Menunya saja tadi dibilang bakal sedia bakpao. Lho, bakpao itu sejak kapan jadi makanan khas Giri Tengah? (Tertawa kecil). Padahal orang ke desa itu cari ingkung ayam, cari makanan yang akarnya dari bumi setempat. Kalau semuanya serba 'paket wisata' pabrikan, ya jiwanya nggak ada."

Ngadiharjo: Nafas Spiritualitas yang Hidup

Mas Budi: "Nah, untungnya pas kita geser ke Ngadiharjo, suasana langsung berubah total. Pas kita masuk, eh ada anak-anak Pramuka lagi latihan di area pertunjukan. Itu baru namanya ruang sosial! Balkondesnya hidup, ada suaranya."

Mbak Novi: "Iya! Dan Mbak Erna sama teman-temannya di sana itu keren banget. Mereka beneran 'ngopeni' (merawat) tempat itu di bawah BUMDes. Pas saya tanya minumannya sasetan atau asli, dia bangga banget jawab kalau jahe sama rosellanya itu racikan sendiri. Ada kopi khas Ngadiharjo juga. Rasanya itu... ada sentuhan manusianya."

Pak Coro: "Mbak Erna tadi sempat curhat sama saya. Awalnya dia pikir 'spiritualitas' itu sesuatu yang serem, klenik, atau urusan perdukunan dan orang rambut gondrong yang aneh-aneh. Dia nggak sadar kalau apa yang dia kerjakan selama ini—menjaga ketenangan, keramahan, dan keindahan alam Ngadiharjo—itu adalah bentuk spiritualitas desa yang paling nyata."

Mas Budi: "Betul, Pak. Setelah kita jelasin kalau spiritual itu adalah spirit atau jiwa dari potensi desa, dia langsung kayak 'klik' gitu. Ternyata mereka sudah mempromosikan paket wisata spiritual tanpa sadar. Mulai dari ajak tamu tracking sepeda pagi-pagi lihat sunrise di Menoreh, sampai mampir ke UMKM kerajinan rajut sama ecoprint."

Mbak Novi: "Pantesan ya, Mas, datanya bilang 85% pengunjung Ngadiharjo itu orang yang pernah datang sebelumnya. Mereka balik lagi bukan cuma mau lihat gunung, tapi mau lihat proses bikin jetkolet, grubi, atau tiwul. Mereka kangen sama interaksi sosialnya yang inklusif dan rukun."

Refleksi di Sore Hari

Pak Coro: (Mengetuk meja pelan) "Jadi begini, kuncinya itu di kemandirian. Ngadiharjo bisa setor 25% profit ke PADes karena mereka merasa memiliki. Mereka ikut pelatihan di BBPVP Semarang bukan cuma buat gaya-gayaan, tapi langsung dipraktekkan. Mereka sadar kalau Balkondes itu jembatan antara ekonomi dan martabat warga."

Mas Budi: "Kesimpulannya, Balkondes itu jangan cuma jadi 'ruang bisnis' yang dingin kayak di Giri Tengah tadi, ya Pak? Harus jadi ruang spiritual dan sosial juga. Kalau cuma cari untung, ya mending bangun hotel saja sekalian."

Mbak Novi: "Setuju. Di Ngadiharjo kita belajar kalau digitalisasi dan media sosial itu penting, tapi 'mulut ke mulut' dari tamu yang puas karena merasa dianggap 'saudara' itu jauh lebih ampuh. Desa itu harusnya menyembuhkan, bukan cuma menyewakan kamar."

Sore itu, obrolan mereka ditutup dengan tawa kecil saat Mbak Erna kembali membawakan sepiring camilan tradisional. Di Ngadiharjo, Balkondes bukan sekadar bangunan CSR, ia adalah detak jantung yang memastikan desanya tetap hidup, mandiri, dan punya harga diri.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar