Borobudur: Simbol Kebijaksanaan Lintas Zaman dan Ruang Belajar Kehidupan - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Sabtu, 30 Mei 2026

Borobudur: Simbol Kebijaksanaan Lintas Zaman dan Ruang Belajar Kehidupan

Redaksi Sekolah Kehidupan

Borobudur, Magelang – Sabtu, 30 Mei 2026 Rangkaian Bincang Sekolah Kehidupan dalam rangka memperingati 24 Tahun Ruwat Rawat Borobudur resmi ditutup pada Sabtu (30/5) pukul 12.10 WIB. Mengusung tema besar “Borobudur dalam Logika Angka”, forum yang berlangsung selama tiga hari sejak 28 Mei ini menjadi ruang perjumpaan lintas pengetahuan untuk membaca kembali Borobudur dari berbagai perspektif: lingkungan, seni, spiritualitas, musik tradisi, hingga resonansi suara.

Penutupan kegiatan dilakukan oleh Sucoro Setrodiharjo, Pemrakarsa Ruwat Rawat Borobudur. Selama tiga hari pelaksanaan, forum diikuti sekitar 40–70 peserta setiap harinya, terdiri dari pelajar, mahasiswa, pegiat budaya, komunitas, hingga masyarakat umum yang memiliki perhatian terhadap masa depan pewarisan Borobudur.

Diskusi selama tiga hari menegaskan kembali bahwa Borobudur jauh lebih dari sekadar bangunan megah peninggalan sejarah. Borobudur dipahami sebagai simbol kebijaksanaan nenek moyang yang menyimpan pengetahuan tentang lingkungan, spiritualitas, seni, serta harmoni kehidupan.

Pada hari pertama, pembahasan berfokus pada hubungan antara lingkungan dan spiritualitas Waisak. Peserta diajak memahami bahwa menjaga kebersihan dan mengelola lingkungan merupakan bagian penting dari praktik spiritual. Persoalan sampah dibahas bukan semata sebagai masalah, melainkan juga peluang. Sampah yang dikelola dengan baik dapat menghasilkan manfaat sosial dan ekonomi, mulai dari eco enzyme, paving block, hingga produk kreatif seperti lilin daur ulang.

Hari kedua mengangkat tema imajinasi spiritual melalui seni lukis. Para pelukis berbagi pengalaman tentang bagaimana relief-relief Borobudur diterjemahkan menjadi karya visual yang lahir dari perenungan mendalam. Borobudur dipandang bukan hanya sebagai objek visual, tetapi juga sumber inspirasi spiritual yang terus hidup dalam karya seni.

Sementara pada hari ketiga, peserta diajak memasuki ruang pembelajaran tentang kepekaan melalui musik tradisi, menghadirkan seniman musik rinding Bejo Sendi dari Malang. Dalam paparannya, Bejo menjelaskan bahwa alat musik rinding yang tersebar di berbagai wilayah Nusantara dahulu digunakan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat agraris, termasuk untuk menjaga keseimbangan alam dan mengusir hama tanaman.

Namun, di tengah perubahan zaman, fungsi-fungsi tersebut perlahan mulai ditinggalkan. Bersamaan dengan itu, masyarakat juga dinilai mulai kehilangan kepekaan terhadap suara, gema, dan resonansi alam.

Melalui demonstrasi musik rinding, forum merasakan pengalaman yang berbeda. Beberapa peserta mengaku merasakan keheningan, getaran batin, bahkan suasana reflektif yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Dimas dari STAB menyebut musik rinding mampu menciptakan keheningan secara spontan. Sementara peserta lain dari Mertoyudan mengaku merasakan sensasi merinding dan nuansa magis ketika mendengar resonansi bunyinya. Nanda dari STAB Wonogiri bahkan memaknai pengalaman tersebut sebagai pengingat akan tingginya kepekaan spiritual nenek moyang dalam membangun peradaban seperti Borobudur.

Diskusi kemudian berkembang pada kemungkinan hubungan antara musik tradisi dengan kehidupan spiritual di sekitar Borobudur. Novita Siswayanti dari BRIN mempertanyakan mengapa musik rinding tidak ditemukan secara langsung dalam relief Borobudur. Menanggapi hal tersebut, Bejo Sendi menyampaikan pandangan bahwa meskipun tidak tergambar secara eksplisit, musik tradisi semacam rinding sangat mungkin menjadi bagian dari praktik pendukung meditasi dan kehidupan spiritual masyarakat masa lampau, terutama pada masa ketika teknologi pengeras suara belum dikenal.

Menariknya, dalam forum juga muncul pembacaan sosial-budaya mengenai keberadaan Dusun Gendingan di kawasan Borobudur yang dipandang sebagai penanda jejak musikalitas masyarakat masa lalu. Meski bersifat interpretatif, hal ini memperlihatkan bahwa Borobudur masih menyimpan ruang luas untuk ditafsirkan melalui pendekatan lintas ilmu.

Sebagai pesan penutup, perwakilan Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Wonogiri, Dimas dan Nanda, menegaskan bahwa “Borobudur adalah ruang perjumpaan lintas keilmuan, bukan sekadar tempat berfoto ria.” Menurut mereka, setiap relief menyimpan pelajaran dan pengetahuan yang layak dipelajari lebih mendalam.

Senada dengan itu, Purwanti (Mbak Wanti) dari Deyangan, Mertoyudan, menilai kegiatan ini penting sebagai ruang inspirasi bagi masyarakat. Menurutnya, memahami Borobudur tidak cukup berhenti pada pengetahuan atau pengalaman batin semata, tetapi perlu diwujudkan dalam tindakan nyata sehari-hari. “Di sini kita tidak bicara soal perbedaan agama, tetapi bagaimana mengolah hati dan nilai spiritual,” ujarnya.

Dayumia Wulandari (Mbak Dayu) dari Deyangan, Mertoyudan, juga menambahkan bahwa makna Borobudur tidak akan habis digali hanya dari satu sudut pandang, termasuk logika angka. Masih banyak perspektif lain yang dapat ditemukan melalui perjumpaan lintas ilmu, budaya, dan keyakinan.

Di akhir kegiatan, Novita Siswayanti dari BRIN turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan, khususnya Taman Wisata Borobudur sebagai fasilitator lokasi ( tempat ) serta Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha (Dirjen Bimas Buddha) atas dukungannya terhadap Bincang Sekolah Kehidupan.

Dalam penutupan kegiatan, Sucoro Setrodiharjo juga mengingatkan bahwa hasil rangkaian webinar, diskusi, wawancara, hingga kompetisi opini terkait Kongres Borobudur akan dibahas lebih lanjut dalam FGD Sekolah Kehidupan pada 4 Juni 2026 di Semarang. Kegiatan tersebut merupakan kerja sama antara Yayasan Brayat Panangkaran dan LestraGP Semarang, yang akan diselenggarakan secara daring dan luring melalui Zoom.

Bagi masyarakat yang ingin mengikuti kegiatan tersebut dapat menghubungi narahubung: Daniel Hakiki (+62 821-3711-1239) atau Sucoro (+62 856-0056-6885).

Peringatan 24 Tahun Ruwat Rawat Borobudur tahun ini kembali menegaskan satu pesan penting: Borobudur adalah warisan yang hidup. Ia tidak hanya menyimpan sejarah, tetapi juga mengajarkan kepekaan, harmoni, dan kebijaksanaan yang tetap relevan lintas zaman, termasuk bagi generasi muda hari ini dan masa depan

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar