Menyemai Bahasa Pewarisan Borobudur Melalui Bincang Sekolah Kehidupan - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Jumat, 29 Mei 2026

Menyemai Bahasa Pewarisan Borobudur Melalui Bincang Sekolah Kehidupan

Redaksi Sekolah Kehidupan

Borobudur — Magelang — Bincang Sekolah Kehidupan edisi ke-16 kembali menjadi ruang temu berbagai gagasan, pengalaman, dan refleksi tentang Borobudur dalam rangka 24 Tahun Ruwat Rawat Borobudur. Forum yang berlangsung pada Jumat, 29 Mei 2026 pukul 09.00–11.30 WIB di Kampoeng Seni Borobudur ini menghadirkan perspektif akademik, seni, dan spiritualitas kebudayaan sebagai bagian dari upaya pewarisan nilai Borobudur bagi generasi mendatang.

Kegiatan ini tidak membahas agama dalam pengertian ritual formal, melainkan mengajak peserta memahami Borobudur sebagai ruang pembelajaran nilai kemanusiaan, kebudayaan, refleksi hidup, dan warisan peradaban. Hadir sebagai narasumber tiga pelukis, yakni Alex Leo dan Heri dari Semarang, serta Widoyo dari Magelang. Dimas Hendra dan sepuluh peserta lainya  dari Sekolah Tinggi Agama Budha Wonogiri yang telah mengikuti sejak pembukaan

Borobudur sebagai Warisan Dunia dan Ruang Spiritualitas

Sebagai pengantar diskusi, Novita Siswayanti dari Kelompok Riset Masyarakat dan Budaya BRIN menegaskan bahwa publikasi ilmiah memiliki peran penting, bukan sekadar sebagai kebanggaan akademik dan kebutuhan administrasi, tetapi juga sebagai medium menghadirkan gagasan inovatif yang mampu menangkap esensi spiritualitas Borobudur.

Menurut Novita, spiritualitas Borobudur dapat dimaknai sebagai lentera atau cahaya yang menerangi kehidupan, sekaligus menghidupkan potensi besar yang tersimpan di dalam warisan budaya tersebut.

Ia mengingatkan bahwa Borobudur telah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia sejak tahun 1991. Status ini menegaskan bahwa Borobudur bukan hanya milik Magelang atau Indonesia, melainkan milik seluruh umat manusia karena mengandung nilai universal yang istimewa sekaligus menjadi tanggung jawab bersama untuk dijaga.

Novita menjelaskan sedikitnya terdapat tiga alasan utama Borobudur ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia. Pertama, keaslian dan kelestarian bangunan yang tetap terjaga sejak dibangun pada abad ke-8 hingga ke-9 Masehi. Kedua, nilai sejarah dan kehidupan masyarakat yang tergambar melalui relief-relief dari Kamadhatu, Rupadhatu hingga Arupadhatu. Relief tersebut tidak hanya memuat kisah ajaran Buddha, tetapi juga merekam kehidupan masyarakat Jawa masa lampau, mulai dari pertanian, seni budaya, perdagangan di pasar, hingga hubungan manusia dengan alam.

Menariknya, sebagian besar nilai kehidupan yang tergambar pada relief masih hidup di masyarakat sekitar hingga hari ini. Aktivitas bertani, berkesenian, dan tradisi komunal tetap menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat Borobudur.

Ketiga, nilai spiritual dan kemanusiaan. Borobudur sejak awal dibangun sebagai ruang ibadah, meditasi, dan kontemplasi yang melibatkan berbagai unsur masyarakat. Dari sinilah lahir nilai universal berupa toleransi, inklusivitas, serta penghormatan terhadap keberagaman yang hingga kini masih tercermin melalui praktik budaya masyarakat di sekitar Borobudur.

Bahasa Pewarisan untuk Generasi Mendatang

Sucoro, penggagas Gerakan Ruwat Rawat Borobudur sekaligus moderator kegiatan, menegaskan pentingnya menghadirkan “bahasa pewarisan” dalam membaca Borobudur. Pengalamannya mengamati berbagai dinamika Borobudur selama puluhan tahun telah melahirkan sedikitnya 15 buku yang ditulis sebagai catatan perjalanan pemikiran dan pengalaman lapangan.

Menjelang usia 75 tahun, Sucoro merasa penting mewariskan pengalaman, pengetahuan, dan nilai-nilai kehidupan kepada generasi muda. Baginya, pengelolaan Borobudur bukan persoalan sederhana. Di satu sisi, Borobudur merupakan warisan spiritual dan kebudayaan yang perlu dihormati; di sisi lain, kawasan ini juga berhadapan dengan kepentingan pariwisata yang sering kali lebih menekankan aspek pemanfaatan ekonomi.

Menurutnya, dinamika, tantangan, hingga berbagai kesulitan yang selama ini dihadapi justru menjadi pengetahuan penting yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya. Warisan terbesar, menurut Sucoro, bukanlah benda material, melainkan pengalaman hidup dan pemahaman agar pemaknaan terhadap Borobudur tidak tercerai-berai atau berhenti pada kepentingan kelompok tertentu saja.

Ia menilai Borobudur terlalu lama dipandang hanya dari sudut pariwisata yang menitikberatkan pada pemanfaatan fisik dan ekonomi. Padahal, masih banyak sisi lain yang dapat digali sebagai sumber inspirasi, pengetahuan, dan manfaat sosial-ekonomi yang lebih bermakna bagi masyarakat.

Sucoro mencontohkan berbagai terobosan baru, termasuk pengembangan ekonomi kreatif seperti produksi lilin berbasis nilai dan narasi Borobudur, sebagai bentuk pemanfaatan yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.

Melalui Bincang Sekolah Kehidupan, peserta diajak menelaah lebih dalam berbagai persoalan dan potensi Borobudur bersama para narasumber, agar lahir pemahaman yang lebih utuh mengenai arah pewarisan nilai Borobudur bagi masa depan anak bangsa.

Menafsir Borobudur Melalui Seni dan Penghayatan Batin

Paparan Alex Leo dan Heri, dua pelukis asal Semarang, memperlihatkan bahwa kedekatan dengan Borobudur tidak selalu ditentukan oleh jarak geografis, melainkan oleh kedalaman rasa dan keterhubungan batin.

Meski tinggal di Semarang, ratusan kilometer dari Borobudur, keduanya mampu menghadirkan imajinasi spiritual yang kuat melalui karya seni yang lahir dari perenungan panjang dan penghayatan mendalam terhadap nilai-nilai Borobudur.

Lukisan yang mereka hadirkan bukan sekadar reproduksi bentuk fisik candi atau lanskap visual semata. Lebih dari itu, karya-karya tersebut menjadi ruang tafsir atas spiritualitas Borobudur, termasuk nuansa Waisak yang menghadirkan pesan ketenangan, kemanusiaan, dan perjalanan batin.

Dalam tangan pelukis yang matang, Borobudur dimaknai bukan hanya sebagai susunan batu bersejarah, melainkan simbol perjalanan rohani yang hidup melampaui ruang dan waktu. Kepekaan mereka menangkap nilai-nilai tersebut menjadikan setiap karya terasa hidup, kuat, dan memiliki jiwa.

Melalui seni, publik diajak tidak hanya melihat Borobudur secara visual, tetapi juga merasakan kedalaman makna yang terkandung di dalamnya—seolah hadir dalam suasana hening dan reflektif di hadapan keagungan Borobudur.

Menjembatani Nilai Borobudur kepada Generasi Z dan Alfa

Dalam sesi pembahasan, Dr. Erika dari Universitas Tidar Magelang menyampaikan bahwa selama sekitar 14 tahun pihak kampus secara rutin mengirim mahasiswa lintas disiplin ilmu untuk melakukan kajian di kawasan Borobudur.

Menurutnya, tantangan besar dunia pendidikan saat ini adalah bagaimana mentransformasikan nilai, makna, dan imajinasi besar Borobudur kepada Generasi Z dan Generasi Alfa sebagai bagian dari pewarisan nilai.

Borobudur, menurut Dr. Erika, dapat dipahami sebagai “kapsul waktu” abad ke-9 yang menyimpan banyak pengetahuan, termasuk kekayaan hayati. Bersama tim konservasi, Universitas Tidar berhasil mengidentifikasi sekitar 80 jenis tanaman yang tergambar dalam relief Borobudur.

Tidak hanya itu, penelitian mereka juga menemukan bahwa nilai-nilai utama Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sesungguhnya telah dipraktikkan di Borobudur sejak abad ke-8, termasuk cara masyarakat menjaga sumber daya alam secara ramah lingkungan.

Temuan tersebut bahkan menarik perhatian peneliti internasional, termasuk tim Global Education dari Inggris yang kini bekerja sama untuk memperdalam kajian tersebut.

Namun demikian, menurut Dr. Erika, tantangan terbesar bukan hanya menemukan nilai-nilai itu, melainkan bagaimana menyampaikannya kepada generasi muda melalui pendekatan yang relevan dengan zamannya.

Karena itu, Universitas Tidar mulai memanfaatkan teknologi Virtual Reality (VR) dan Augmented Reality (AR) sebagai media pembelajaran yang lebih menarik dan terjangkau. Melalui pendekatan ini, generasi muda dapat mengenali relief, flora-fauna, serta memahami pesan Borobudur secara lebih interaktif.

Langkah ini menjadi penting mengingat masih rendahnya tingkat pemahaman masyarakat terhadap makna Borobudur. Meski sebagian besar masyarakat Indonesia mengenalnya, hanya sebagian kecil yang benar-benar memahami nilai dan pesan yang tersimpan di dalamnya.

Melalui ruang dialog seperti Bincang Sekolah Kehidupan, harapan besar tentang pewarisan nilai luhur Borobudur terus dihidupkan—bahwa Borobudur bukan sekadar destinasi wisata, melainkan sumber pengetahuan, spiritualitas, dan peradaban yang perlu diwariskan secara utuh kepada generasi mendatang.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar