Redaksi Sekolah Kehidupan
Magelang – Upaya merawat
masa depan Borobudur tidak cukup hanya menjaga fisik candi, melainkan harus
memastikan nilai, ruh, dan maknanya tetap diwariskan kepada generasi mendatang.
Kesadaran inilah yang melandasi Focus
Group Discussion (FGD) Bincang Sekolah Kehidupan ke-18 yang akan digelar
pada Kamis, 4 Juni 2026 di Jl. Sumbing No. 1, Semarang.
Forum strategis ini mengangkat tema utama:
“Membuka Jalan Masa Depan Pewarisan
Borobudur untuk Anak Bangsa.”
Sinergi dan
Kolaborasi Penyelenggara
FGD ini
menjadi momentum krusial yang mengusung semangat kolaborasi lintas sektor.
Acara ini diselenggarakan secara kolaboratif oleh dua kekuatan utama:
·
Gerakan 24 Tahun Ruwat Rawat Borobudur:
Selaku inisiator yang membawa basis kultural, refleksi lapangan, dan hasil
rangkaian dialog komunitas (yang berjalan sejak Februari 2025) guna
menghidupkan kembali nilai spiritual, sosial, dan ekologis Borobudur.
·
LestraGP (Lembaga Strategi Gerak
Pembangunan): LSM yang berpengalaman dalam penguatan demokrasi,
kesejahteraan masyarakat, serta kemitraan nasional-internasional di Jawa
Tengah. LestraGP hadir untuk memperkuat aspek strategis, tata kelola dialog
yang partisipatif, serta perumusan kebijakan yang berdampak nyata.
Melalui
sinergi ini, kedua penyelenggara berkomitmen menyatukan perspektif budaya,
riset akademis, dan gerakan sosial guna merumuskan arah pewarisan Borobudur
yang konkret bagi anak bangsa.
Poin
Penting & Fokus Dialog
Forum ini merangkum
modal sosial dari pelaksanaan edisi ke-15–17 di Kampoeng Seni Borobudur yang
telah melibatkan ratusan peserta lintas latar belakang (akademisi, pegiat
budaya, tokoh spiritual, hingga umat Buddha) serta menghadirkan para narasumber
yang ahli di bidangnya.
Tiga
pelajaran penting yang melandasi fokus FGD ini adalah:
1.
Borobudur
& Waisak sebagai Pemersatu: Menjadi ruang temu inklusif antara agama,
seni budaya, dan masyarakat (seperti yang tercermin pada prosesi ritual budaya Pradakshina).
2.
Inovasi
Kreatif Berkelanjutan: Lahirnya aksi lokal seperti konversi minyak jelantah
menjadi lilin aromaterapi oleh warga desa, membuktikan perpaduan apik antara
aspek spiritual, ekonomi, dan lingkungan.
3.
Komitmen
Aksi Nyata: Bergeser dari sekadar pertukaran wacana menjadi komitmen
sinergis yang terstruktur, yang akan terus dikawal dan diperjuangkan hingga
menjadi aspirasi konkret.
Dengan latar belakang Borobudur
yang kerap dipandang dari multitafsir baik sebagai situs warisan dunia, ruang
spiritual, maupun pusat ekonomi kolaborasi antara Gerakan Ruwat Rawat Borobudur
dan LestraGP melalui FGD ini diharapkan mampu menjawab pertanyaan mendasar:
"Borobudur ingin
diwariskan sebagai apa kepada anak bangsa?"
Di tengah
tantangan zaman, ruang dialog kolaboratif ini hadir untuk memastikan Borobudur sebagai
monument hidup yang tidak hanya lestari secara fisik, tetapi juga terus
menghidupkan manfaat nyata demi masa depan yang berkelanjutan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar