FGD Bincang Sekolah Kehidupan Ke-18: Membuka Jalan Masa Depan Pewarisan Borobudur untuk Anak Bangsa - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Kamis, 28 Mei 2026

FGD Bincang Sekolah Kehidupan Ke-18: Membuka Jalan Masa Depan Pewarisan Borobudur untuk Anak Bangsa

Redaksi Sekolah Kehidupan

Magelang – Upaya merawat masa depan Borobudur tidak cukup hanya menjaga fisik candi, melainkan harus memastikan nilai, ruh, dan maknanya tetap diwariskan kepada generasi mendatang. Kesadaran inilah yang melandasi Focus Group Discussion (FGD) Bincang Sekolah Kehidupan ke-18 yang akan digelar pada Kamis, 4 Juni 2026 di Jl. Sumbing No. 1, Semarang. Forum strategis ini mengangkat tema utama:

“Membuka Jalan Masa Depan Pewarisan Borobudur untuk Anak Bangsa.”

Sinergi dan Kolaborasi Penyelenggara

FGD ini menjadi momentum krusial yang mengusung semangat kolaborasi lintas sektor. Acara ini diselenggarakan secara kolaboratif oleh dua kekuatan utama:

·         Gerakan 24 Tahun Ruwat Rawat Borobudur: Selaku inisiator yang membawa basis kultural, refleksi lapangan, dan hasil rangkaian dialog komunitas (yang berjalan sejak Februari 2025) guna menghidupkan kembali nilai spiritual, sosial, dan ekologis Borobudur.

·         LestraGP (Lembaga Strategi Gerak Pembangunan): LSM yang berpengalaman dalam penguatan demokrasi, kesejahteraan masyarakat, serta kemitraan nasional-internasional di Jawa Tengah. LestraGP hadir untuk memperkuat aspek strategis, tata kelola dialog yang partisipatif, serta perumusan kebijakan yang berdampak nyata.

Melalui sinergi ini, kedua penyelenggara berkomitmen menyatukan perspektif budaya, riset akademis, dan gerakan sosial guna merumuskan arah pewarisan Borobudur yang konkret bagi anak bangsa.

Poin Penting & Fokus Dialog

Forum ini merangkum modal sosial dari pelaksanaan edisi ke-15–17 di Kampoeng Seni Borobudur yang telah melibatkan ratusan peserta lintas latar belakang (akademisi, pegiat budaya, tokoh spiritual, hingga umat Buddha) serta menghadirkan para narasumber yang ahli di bidangnya.

Tiga pelajaran penting yang melandasi fokus FGD ini adalah:

1.      Borobudur & Waisak sebagai Pemersatu: Menjadi ruang temu inklusif antara agama, seni budaya, dan masyarakat (seperti yang tercermin pada prosesi ritual budaya Pradakshina).

2.      Inovasi Kreatif Berkelanjutan: Lahirnya aksi lokal seperti konversi minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi oleh warga desa, membuktikan perpaduan apik antara aspek spiritual, ekonomi, dan lingkungan.

3.      Komitmen Aksi Nyata: Bergeser dari sekadar pertukaran wacana menjadi komitmen sinergis yang terstruktur, yang akan terus dikawal dan diperjuangkan hingga menjadi aspirasi konkret.

Dengan latar belakang Borobudur yang kerap dipandang dari multitafsir baik sebagai situs warisan dunia, ruang spiritual, maupun pusat ekonomi kolaborasi antara Gerakan Ruwat Rawat Borobudur dan LestraGP melalui FGD ini diharapkan mampu menjawab pertanyaan mendasar:

"Borobudur ingin diwariskan sebagai apa kepada anak bangsa?"

Di tengah tantangan zaman, ruang dialog kolaboratif ini hadir untuk memastikan Borobudur sebagai monument hidup yang tidak hanya lestari secara fisik, tetapi juga terus menghidupkan manfaat nyata demi masa depan yang berkelanjutan.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar