Redaksi
Sekolah Kehidupan
Disarikan dari
penelitian Novita Siswayanti, M.A. dan Dr. Budiana Setiawan dari
Pusat Riset Masyarakat dan Budaya BRIN, serta dilengkapi dengan catatan dan
refleksi selama proses penelitian di Borobudur.
Borobudur telah lama
dikenal sebagai salah satu warisan budaya dunia yang paling penting di
Indonesia. Nama Borobudur tidak hanya hadir dalam buku-buku sejarah, tetapi
juga dalam berbagai narasi tentang kejayaan peradaban Nusantara, pencapaian
arsitektur kuno, destinasi wisata unggulan, hingga simbol kebudayaan Indonesia
di mata dunia. Jutaan orang datang setiap tahun untuk melihat kemegahan candi
ini. Berbagai program pelestarian telah dilakukan. Pemugaran besar yang
berlangsung pada abad ke-20 bahkan sering disebut sebagai salah satu
keberhasilan konservasi warisan budaya terbesar di dunia.
Namun di balik
keberhasilan tersebut, terdapat pertanyaan yang semakin penting untuk diajukan:
apa sebenarnya yang sedang diwariskan dari Borobudur kepada generasi sekarang
dan generasi yang akan datang?
Pertanyaan ini menjadi
salah satu titik perhatian dalam penelitian yang dilakukan oleh Novita
Siswayanti dan Budiana Setiawan dari Pusat Riset Masyarakat dan Budaya BRIN.
Penelitian tersebut berangkat dari kesadaran bahwa Borobudur bukan sekadar
bangunan batu yang harus dijaga keberadaannya. Borobudur juga merupakan ruang
peradaban yang mengandung nilai-nilai spiritual, pengetahuan, filosofi
kehidupan, memori kolektif, serta berbagai praktik budaya yang berkembang di
sekitarnya.
Selama beberapa dekade
terakhir, pengelolaan Borobudur mengalami perkembangan yang sangat signifikan.
Sejak kawasan ini ditetapkan sebagai warisan budaya dunia dan menjadi salah
satu destinasi wisata utama Indonesia, keberhasilannya sering diukur melalui
indikator-indikator yang bersifat kuantitatif. Jumlah pengunjung meningkat.
Aktivitas ekonomi tumbuh. Infrastruktur berkembang. Kawasan menjadi semakin
dikenal secara global.
Semua capaian tersebut
tentu penting dan patut diapresiasi. Namun dalam waktu yang sama, muncul
sejumlah konsekuensi yang perlu dicermati. Ketika perhatian lebih banyak
tertuju pada aspek pariwisata, fungsi-fungsi lain yang melekat pada Borobudur
berpotensi mengalami pengurangan makna. Borobudur perlahan dipahami terutama
sebagai objek kunjungan, bukan sebagai sumber pembelajaran kebudayaan, ruang
refleksi spiritual, atau media pewarisan nilai-nilai peradaban.
Di sinilah muncul apa
yang dapat disebut sebagai paradoks Borobudur. Di satu sisi, Borobudur semakin
terkenal dan semakin banyak dikunjungi. Di sisi lain, pemahaman masyarakat
terhadap makna filosofis yang terkandung di dalamnya belum tentu berkembang
seiring dengan meningkatnya popularitas tersebut.
Penelitian ini
menunjukkan bahwa terdapat beragam cara masyarakat memandang Borobudur.
Sebagian melihatnya sebagai objek wisata. Sebagian lain memandangnya sebagai
tempat ibadah dan ruang spiritual. Ada yang melihatnya sebagai sumber ekonomi,
ada pula yang memahami Borobudur sebagai laboratorium kebudayaan dan
pendidikan. Perbedaan cara pandang ini sesungguhnya bukan masalah. Justru
keragaman makna tersebut menunjukkan bahwa Borobudur masih hidup dalam
kesadaran banyak pihak.
Yang menjadi tantangan
adalah ketika berbagai pemaknaan tersebut berjalan sendiri-sendiri tanpa adanya
ruang dialog dan kesepahaman bersama. Akibatnya, sering muncul perbedaan
orientasi dalam pengelolaan kawasan. Kepentingan pelestarian, kebutuhan
pariwisata, aktivitas ritual keagamaan, aspirasi masyarakat lokal, serta agenda
pembangunan ekonomi tidak selalu bertemu dalam satu kerangka yang sama.
Dalam konteks itulah
muncul gagasan tentang Borobudur sebagai living monument atau monumen
hidup. Konsep ini berkembang dari pemahaman bahwa warisan budaya tidak cukup
hanya dijaga secara fisik. Batu-batu candi memang harus dilestarikan, tetapi
yang tidak kalah penting adalah menjaga agar nilai, makna, pengetahuan, dan
fungsi sosial budaya yang terkandung di dalamnya tetap hidup dan relevan.
Monumen hidup bukan
hanya berbicara tentang benda yang masih berdiri. Monumen hidup berbicara
tentang hubungan yang terus berlangsung antara warisan budaya dengan
masyarakatnya. Sebuah warisan disebut hidup ketika masih memiliki makna bagi
kehidupan masyarakat, masih menjadi sumber pembelajaran, masih melahirkan
praktik-praktik budaya, dan masih mampu menginspirasi generasi baru.
Bagi Borobudur, gagasan
ini menjadi sangat penting. Sebagai mahakarya yang dibangun pada abad ke-9,
Borobudur tidak hanya mewariskan kecanggihan teknologi bangunan masa lalu.
Borobudur juga mewariskan cara pandang tentang hubungan manusia dengan alam,
hubungan manusia dengan sesama, dan hubungan manusia dengan dimensi yang lebih
tinggi. Nilai-nilai tersebut merupakan bagian dari kekayaan yang tidak tampak
secara fisik, tetapi justru menjadi inti dari makna keberadaan Borobudur.
Penelitian BRIN tersebut
juga menunjukkan bahwa salah satu tantangan terbesar saat ini adalah belum
adanya pemahaman bersama mengenai bagaimana konsep monumen hidup diterjemahkan
ke dalam praktik pengelolaan sehari-hari. Setiap pemangku kepentingan memiliki
sudut pandang dan prioritas yang berbeda. Karena itu diperlukan ruang
komunikasi yang mampu mempertemukan berbagai kepentingan tersebut dalam
kerangka yang saling menghormati.
Aspek lain yang mendapat
perhatian adalah pentingnya pendidikan publik. Selama ini, banyak pengunjung
datang ke Borobudur tanpa memperoleh kesempatan yang cukup untuk memahami
nilai-nilai yang terkandung di balik relief, struktur bangunan, maupun filosofi
yang melatarbelakanginya. Akibatnya, pengalaman berkunjung sering berhenti pada
pengalaman visual dan dokumentasi semata.
Padahal Borobudur
sesungguhnya merupakan perpustakaan batu yang menyimpan begitu banyak
pengetahuan. Relief-reliefnya merekam berbagai ajaran moral, perjalanan
spiritual, tata kehidupan masyarakat, hingga pandangan kosmologis yang
berkembang pada masanya. Potensi pendidikan inilah yang perlu terus
dikembangkan agar Borobudur tidak hanya menjadi tujuan wisata, tetapi juga
menjadi sumber pembelajaran lintas generasi.
Dalam perspektif yang
lebih luas, penelitian ini mengingatkan bahwa masa depan Borobudur tidak hanya
ditentukan oleh keberhasilan konservasi fisik. Masa depan Borobudur juga
ditentukan oleh kemampuan kita membangun sistem pewarisan nilai yang
berkelanjutan. Generasi muda perlu dikenalkan bukan hanya pada bentuk
Borobudur, tetapi juga pada makna yang dikandungnya. Masyarakat sekitar perlu
ditempatkan sebagai bagian penting dari proses pewarisan. Para pemangku
kepentingan perlu membangun tata kelola yang mampu menjaga keseimbangan antara
pelestarian, pemanfaatan, dan pemuliaan nilai budaya.
Dari berbagai temuan dan
diskusi yang berkembang selama penelitian, muncul satu pelajaran penting.
Tantangan terbesar Borobudur pada masa kini mungkin bukan lagi soal bagaimana
menjaga batu-batunya tetap berdiri kokoh. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana
menjaga agar kesadaran yang terkandung di dalamnya tetap hidup.
Karena itu, ketika
berbicara tentang masa depan Borobudur, yang perlu diwariskan bukan hanya
bangunan, kawasan, atau status warisan dunianya. Yang perlu diwariskan adalah
pemahaman, nilai, kebijaksanaan, dan kesadaran yang menjadi ruh dari keberadaan
Borobudur itu sendiri.
Pemugaran Borobudur
dapat dikatakan telah berhasil. Namun pewarisan Borobudur sebagai kesadaran
peradaban adalah pekerjaan panjang yang masih terus berlangsung. Dan mungkin,
di situlah tugas terbesar generasi kita hari ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar