Mengapa Saya Memilih Mencatat? - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Senin, 01 Juni 2026

Mengapa Saya Memilih Mencatat?

 

Sucoro Setrodiharjo 
Saya bukan Siapa-siapa 
Saya juga bukan apa-apa , 
Saya hanya suka mencatat sejarah pengelolaanya .

Saya juga bukan bagian dari kelompok mana pun yang mengatasnamakan masyarakat Borobudur.

Saya memilih berada di posisi yang berbeda: mencatat.

Pilihan ini lahir dari kesadaran bahwa setiap kebijakan, setiap program, setiap konflik, dan setiap perubahan akan berlalu. Tetapi jejak pemikirannya belum tentu tersimpan.

Selama bertahun-tahun saya menyaksikan berbagai kelompok berbicara atas nama masyarakat. Ada yang menyampaikan keberhasilan, ada yang menyampaikan kritik, ada yang memperjuangkan kepentingan tertentu, dan ada yang menawarkan berbagai solusi.

Semua suara itu penting.

Namun saya menyadari bahwa masyarakat Borobudur jauh lebih luas daripada kelompok-kelompok yang tampil di ruang publik.

Karena itu saya memilih mengumpulkan catatan, menyelenggarakan webinar, mendorong kompetisi opini, mengadakan diskusi, hingga memfasilitasi Kongres Borobudur dan berbagai forum pembelajaran. Bukan untuk mencari siapa yang paling benar, melainkan untuk memastikan bahwa sebanyak mungkin pandangan dapat terdokumentasikan.

Tetapi perjalanan ini tidak berhenti pada pencatatan.

Di tengah semakin kuatnya cara pandang yang melihat Borobudur sebagai objek wisata, aset ekonomi, atau proyek pembangunan, saya justru semakin tertarik pada pertanyaan yang lebih mendasar:

Apa yang sebenarnya diwariskan oleh Borobudur?

Pertanyaan inilah yang kemudian membawa saya terlibat dalam Gerakan Ruwat Rawat Borobudur.

Bagi saya, Ruwat Rawat Borobudur bukan sekadar kegiatan tahunan. Ia adalah ruang belajar untuk mengingat kembali bahwa Borobudur tidak lahir hanya sebagai tumpukan batu, destinasi wisata, atau komoditas ekonomi.

Borobudur lahir dari kesadaran.

Ia dibangun oleh manusia yang memiliki pandangan hidup, pengetahuan, nilai, dan laku spiritual yang diwariskan melalui simbol-simbol yang dipahatkan pada setiap bagiannya.

Karena itu, ketika berbicara tentang pewarisan Borobudur, saya tidak memulainya dari batu.

Saya memulainya dari kesadaran.

Batu dapat dipugar.

Bangunan dapat dipelihara.

Kawasan dapat ditata.

Tetapi kesadaran tidak dapat dipugar dengan semen, tidak dapat dipelihara dengan pagar, dan tidak dapat diwariskan hanya melalui tiket masuk atau regulasi.

Kesadaran hanya dapat diwariskan melalui proses belajar yang terus-menerus.

Melalui dialog.

Melalui refleksi.

Melalui keterlibatan masyarakat.

Melalui keberanian untuk bertanya.

Melalui kesediaan untuk mendengarkan berbagai pandangan yang berbeda.

Inilah yang saya pahami sebagai makna terdalam dari Ruwat Rawat Borobudur.

Meruwat bukan hanya membersihkan yang terlihat.

Meruwat juga berarti membersihkan cara pandang kita terhadap Borobudur.

Merawat bukan hanya menjaga bangunannya.

Merawat juga berarti menjaga hubungan antara Borobudur dengan manusia yang hidup di sekelilingnya.

Karena itu saya memilih mencatat.

Bukan untuk menjadi hakim atas berbagai kebijakan yang pernah lahir.

Bukan pula untuk menentukan siapa yang paling benar dalam setiap perdebatan.

Saya memilih mencatat agar generasi mendatang mengetahui bahwa di balik berbagai angka kunjungan, proyek pembangunan, program pemberdayaan, dan kebijakan pengelolaan, selalu ada upaya-upaya kecil untuk menjaga makna Borobudur sebagai ruang kehidupan dan ruang pembelajaran.

Saya percaya bahwa Borobudur telah berhasil dipugar.

Tetapi pewarisan Borobudur belum tentu berhasil.

Pewarisan tidak ditentukan oleh utuhnya batu-batu candi semata.

Pewarisan ditentukan oleh berhasil atau tidaknya kita mewariskan kesadaran yang melahirkan Borobudur itu sendiri.

Dan selama proses itu masih berlangsung, saya merasa tugas saya belum selesai untuk terus mencatat, membukukan, dan membuka ruang belajar bagi siapa pun yang ingin memahami Borobudur secara lebih utuh.

 







Tidak ada komentar:

Posting Komentar