Saya juga bukan bagian dari
kelompok mana pun yang mengatasnamakan masyarakat Borobudur.
Saya memilih berada di posisi
yang berbeda: mencatat.
Pilihan ini lahir dari
kesadaran bahwa setiap kebijakan, setiap program, setiap konflik, dan setiap
perubahan akan berlalu. Tetapi jejak pemikirannya belum tentu tersimpan.
Selama bertahun-tahun saya
menyaksikan berbagai kelompok berbicara atas nama masyarakat. Ada yang
menyampaikan keberhasilan, ada yang menyampaikan kritik, ada yang memperjuangkan
kepentingan tertentu, dan ada yang menawarkan berbagai solusi.
Semua suara itu penting.
Namun saya menyadari bahwa
masyarakat Borobudur jauh lebih luas daripada kelompok-kelompok yang tampil di
ruang publik.
Karena itu saya memilih
mengumpulkan catatan, menyelenggarakan webinar, mendorong kompetisi opini,
mengadakan diskusi, hingga memfasilitasi Kongres Borobudur dan berbagai forum
pembelajaran. Bukan untuk mencari siapa yang paling benar, melainkan untuk
memastikan bahwa sebanyak mungkin pandangan dapat terdokumentasikan.
Tetapi perjalanan ini tidak
berhenti pada pencatatan.
Di tengah semakin kuatnya cara
pandang yang melihat Borobudur sebagai objek wisata, aset ekonomi, atau proyek
pembangunan, saya justru semakin tertarik pada pertanyaan yang lebih mendasar:
Apa yang sebenarnya diwariskan
oleh Borobudur?
Pertanyaan inilah yang kemudian
membawa saya terlibat dalam Gerakan Ruwat Rawat Borobudur.
Bagi saya, Ruwat Rawat
Borobudur bukan sekadar kegiatan tahunan. Ia adalah ruang belajar untuk
mengingat kembali bahwa Borobudur tidak lahir hanya sebagai tumpukan batu,
destinasi wisata, atau komoditas ekonomi.
Borobudur lahir dari kesadaran.
Ia dibangun oleh manusia yang
memiliki pandangan hidup, pengetahuan, nilai, dan laku spiritual yang
diwariskan melalui simbol-simbol yang dipahatkan pada setiap bagiannya.
Karena itu, ketika berbicara
tentang pewarisan Borobudur, saya tidak memulainya dari batu.
Saya memulainya dari kesadaran.
Batu dapat dipugar.
Bangunan dapat dipelihara.
Kawasan dapat ditata.
Tetapi kesadaran tidak dapat
dipugar dengan semen, tidak dapat dipelihara dengan pagar, dan tidak dapat
diwariskan hanya melalui tiket masuk atau regulasi.
Kesadaran hanya dapat
diwariskan melalui proses belajar yang terus-menerus.
Melalui dialog.
Melalui refleksi.
Melalui keterlibatan
masyarakat.
Melalui keberanian untuk
bertanya.
Melalui kesediaan untuk
mendengarkan berbagai pandangan yang berbeda.
Inilah yang saya pahami sebagai
makna terdalam dari Ruwat Rawat Borobudur.
Meruwat bukan hanya
membersihkan yang terlihat.
Meruwat juga berarti
membersihkan cara pandang kita terhadap Borobudur.
Merawat bukan hanya menjaga
bangunannya.
Merawat juga berarti menjaga
hubungan antara Borobudur dengan manusia yang hidup di sekelilingnya.
Karena itu saya memilih
mencatat.
Bukan untuk menjadi hakim atas
berbagai kebijakan yang pernah lahir.
Bukan pula untuk menentukan
siapa yang paling benar dalam setiap perdebatan.
Saya memilih mencatat agar
generasi mendatang mengetahui bahwa di balik berbagai angka kunjungan, proyek
pembangunan, program pemberdayaan, dan kebijakan pengelolaan, selalu ada
upaya-upaya kecil untuk menjaga makna Borobudur sebagai ruang kehidupan dan
ruang pembelajaran.
Saya percaya bahwa Borobudur
telah berhasil dipugar.
Tetapi pewarisan Borobudur
belum tentu berhasil.
Pewarisan tidak ditentukan oleh
utuhnya batu-batu candi semata.
Pewarisan ditentukan oleh
berhasil atau tidaknya kita mewariskan kesadaran yang melahirkan Borobudur itu
sendiri.
Dan selama proses itu masih berlangsung, saya
merasa tugas saya belum selesai untuk terus mencatat, membukukan, dan membuka
ruang belajar bagi siapa pun yang ingin memahami Borobudur secara lebih utuh.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar