Menghidupkan Kembali Ruang Belajar Kebudayaan untuk
Pewarisan Nilai Borobudur
Borobudur, Magelang 4 Agustus
2026 — Upaya
menghidupkan kembali Borobudur sebagai Living Monument terus dilakukan
melalui berbagai ruang dialog dan kegiatan budaya yang melibatkan masyarakat.
Salah satunya melalui penyelenggaraan Jamasan Pitutur Borobudur dan Sekolah
Kehidupan 2026 yang diselenggarakan dalam rangka 24 Tahun Gerakan Ruwat
Rawat Borobudur, Rabu (5/8/2026), secara luring dan daring dari Sanggar
Manunggal Rasa, Tegalarum, Borobudur.
Kegiatan diawali dengan prosesi Jamasan Pitutur,
sebuah tradisi budaya yang bertujuan merawat dan menghidupkan kembali
nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur. Selanjutnya peserta mengikuti
Bincang Sekolah Kehidupan dengan tema “Borobudur dan Pewarisan Nilai:
Menghidupkan Kembali Ruang Belajar Kebudayaan.”
Acara ini menghadirkan sejumlah tokoh dari berbagai
kalangan, antara lain Direktur KMA Kementerian Kebudayaan, Hasbi
Ansyah selaku Staf Ahli Menteri Kebudayaan, Prof. Agus Purwantoro, Novita
Siswayanti dari BRIN, Totok Rusmanto selaku Pemerhati Borobudur, Kepala
Bidang Pengembangan Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah,MCB
Borobudur, TWCB Borobudur serta para
pemerhati Seni Pitutur dari Magelang.
Dalam diskusi berkembang pandangan bahwa
pelestarian Borobudur tidak cukup hanya berfokus pada bangunan fisik dan
kawasan cagar budaya, tetapi juga harus memberi perhatian pada pewarisan nilai,
pengetahuan lokal, tradisi spiritual, dan praktik budaya yang hidup di tengah
masyarakat.
Para narasumber menegaskan bahwa keberhasilan
Borobudur sebagai warisan dunia tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan
pemugaran candinya, tetapi juga oleh kemampuan bangsa ini dalam mewariskan
nilai-nilai yang terkandung di dalamnya kepada generasi penerus.
Gerakan Ruwat Rawat Borobudur yang telah berjalan
selama 24 tahun dinilai menjadi salah satu ruang penting bagi masyarakat untuk
terus merawat hubungan antara warisan budaya, kehidupan sosial, dan identitas
lokal. Melalui kegiatan seperti Jamasan Pitutur dan Sekolah Kehidupan,
masyarakat diajak untuk tidak sekadar menjadi penonton pembangunan kawasan
Borobudur, tetapi menjadi pelaku utama dalam proses pewarisan kebudayaan.
Kegiatan ini sekaligus meneguhkan gagasan bahwa
Borobudur akan benar-benar hidup sebagai Living Monument apabila bukan
hanya candinya yang dirawat, tetapi juga nilai-nilai yang hidup di tengah
masyarakat pewarisnya. Dengan demikian, Borobudur dapat terus berkembang
sebagai pusat pembelajaran, ruang dialog kebudayaan, serta sumber inspirasi
bagi pembangunan masyarakat yang berakar pada kearifan budaya bangsa.
Redaksi Sekolah Kehidupan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar