Borobudur,
Magelang 11 Agustus 2026 :Jika benar terdapat keselarasan nilai antara Ratu
Sima dan Borobudur, mengapa hari ini Borobudur justru lebih sering melahirkan
kegaduhan? Mengapa yang mengemuka adalah perebutan tafsir, kepentingan ekonomi,
dan konflik pengelolaan, sementara nilai-nilai luhur yang dahulu menjadi
fondasi peradaban seolah semakin jauh dari kehidupan masyarakat?
Pertanyaan
ini penting diajukan karena Borobudur tidak lahir di ruang kosong. Ia tumbuh
dalam lingkungan budaya yang menjunjung tinggi kebijaksanaan, keadilan, kemanusiaan,
dan ketertiban sosial. Salah satu tokoh yang sering disebut mewakili
nilai-nilai tersebut adalah Ratu Sima, penguasa Kerajaan Kalingga (Holing) yang
memerintah sekitar tahun 674–695 M.
Ratu
Sima dikenal sebagai pemimpin yang memiliki ketegasan hukum dan keberanian
menegakkan keadilan tanpa pandang bulu. Dengan gelar Sri Maharani
Mahissasuramardini Satyaputikeswara, ia memimpin Kalingga menuju masa yang
dikenal aman, tertib, dan makmur.
Simbol Keadilan dan Ketegasan Hukum
Kisah yang paling
terkenal adalah tentang sekantung emas yang sengaja diletakkan di tengah jalan
sebagai ujian kejujuran rakyat. Bertahun-tahun lamanya tidak seorang pun berani
menyentuhnya. Hingga suatu ketika putra mahkota tanpa sengaja menyentuh kantung
emas tersebut dengan kakinya.
Ratu Sima menjatuhkan
hukuman berat karena menganggap hukum harus berlaku bagi siapa saja, termasuk
keluarganya sendiri. Setelah mendapat pertimbangan dari para menteri, hukuman
kemudian disesuaikan dengan bagian tubuh yang melakukan pelanggaran. Kisah ini
menjadi simbol bahwa keadilan tidak boleh tunduk pada hubungan keluarga,
kekuasaan, maupun kedudukan sosial.
Dalam berbagai cerita
rakyat juga disebutkan bahwa kerabat dekat kerajaan pernah menerima hukuman
karena melakukan pelanggaran. Pesan yang hendak diwariskan sangat jelas: tidak
ada seorang pun yang kebal terhadap hukum.
Masa Keemasan yang
Dibangun dari Kejujuran
Ketegasan hukum yang
diterapkan Ratu Sima melahirkan kepercayaan publik. Masyarakat hidup dengan
nilai kejujuran, keamanan terjaga, dan perdagangan berkembang. Catatan dari
Tiongkok kuno bahkan menggambarkan Kalingga sebagai negeri yang rakyatnya
memiliki integritas tinggi.
Kemajuan ekonomi
ternyata tidak dibangun hanya melalui perdagangan atau kekayaan alam, tetapi
melalui karakter masyarakat yang menjunjung etika dan tanggung jawab. Inilah
modal sosial yang membuat sebuah peradaban menjadi besar.
Borobudur dan Krisis Pewarisan Nilai
Di sinilah relevansi
Ratu Sima dengan Borobudur menjadi penting. Borobudur bukan sekadar tumpukan
batu yang megah atau destinasi wisata kelas dunia. Borobudur adalah simbol
peradaban yang dibangun di atas nilai-nilai kebijaksanaan, kemanusiaan,
disiplin, dan penghormatan terhadap kehidupan.
Namun, yang menjadi
pertanyaan adalah: apakah nilai-nilai tersebut masih diwariskan dengan baik
kepada generasi sekarang?
Borobudur berhasil
dipugar secara fisik dan diakui dunia sebagai warisan budaya yang luar biasa.
Akan tetapi, pewarisan nilai yang terkandung di dalamnya belum tentu berjalan
sekuat upaya pelestarian fisiknya. Yang sering muncul justru perdebatan
mengenai kewenangan, pengelolaan, kepentingan ekonomi, dan perebutan ruang
pemanfaatan.
Kita seolah lebih sibuk
memanfaatkan Borobudur daripada mewarisi nilai-nilai yang melahirkannya.
Menjadi Pewaris yang Membanggakan
Ketika berbicara tentang
Ratu Sima, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang cermin bagi masa kini.
Apakah masyarakat di sekitar Borobudur masih menjunjung kejujuran? Apakah
keadilan masih ditegakkan tanpa pandang bulu? Apakah kebijakan yang lahir benar-benar
berorientasi pada kemanusiaan dan kesejahteraan bersama?
Borobudur akan tetap
berdiri megah sebagai monumen dunia. Namun kemegahan itu akan kehilangan makna
apabila masyarakat pewarisnya tidak lagi mengenal nilai-nilai yang dahulu
menjadi fondasi peradaban.
Sebagai orang Magelang,
Mungkid, Borobudur, dan kawasan Kedu, kita memiliki alasan untuk bangga. Bukan
semata karena memiliki candi terbesar di dunia, tetapi karena tanah ini pernah
melahirkan tokoh dan peradaban yang menjunjung tinggi keadilan, kebijaksanaan,
dan kemanusiaan.
Tantangan kita hari ini
bukan hanya merawat batu-batu Borobudur, melainkan menghidupkan kembali ruh
nilai yang diwariskan oleh leluhur. Sebab peradaban yang besar tidak hanya
ditandai oleh bangunan yang megah, tetapi oleh karakter manusia yang hidup di
sekitarnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar