PUSTAKA AKSARA BOROBUDUR Membaca Kembali Ruh Borobudur, Merawat Nilai, dan Mewariskan Makna Kehidupan - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Kamis, 22 Oktober 2026

PUSTAKA AKSARA BOROBUDUR Membaca Kembali Ruh Borobudur, Merawat Nilai, dan Mewariskan Makna Kehidupan

Borobudur bukan sekadar bangunan batu yang megah. Di dalamnya tersimpan pesan kehidupan, nilai spiritualitas, kebudayaan, dan kearifan yang tidak boleh berhenti pada generasi masa lalu.

Apa arti Borobudur bagi kita hari ini? Apakah cukup memandangnya sebagai monumen bersejarah, destinasi wisata dunia, dan sumber penggerak ekonomi? Ataukah kita masih memiliki tanggung jawab yang lebih mendasar, yakni memahami, merawat, dan mewariskan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menghidupkan semangat buku Pustaka Aksara Borobudur: Ruwat Rawat Borobudur dalam Dimensi Spiritualitas, Budaya dan Pariwisata, karya Sucoro, Novita Siswayanti, MA, dan Dr. Budiana Setiawan, dengan editor M. Hasbiansyah Zulfahri.

Buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan tentang Candi Borobudur. Ia merupakan rekaman perjalanan, pemikiran, pengalaman, serta kegelisahan tentang bagaimana Borobudur dipahami, dikelola, dilestarikan, dan dimaknai dalam kehidupan masyarakat.

Borobudur: Pusaka, Pustaka, dan Guru Kehidupan

Borobudur adalah warisan budaya dunia yang memiliki nilai universal. Namun, keagungannya tidak hanya terletak pada arsitektur, keindahan bangunan, atau daya tarik wisata. Lebih dari itu, Borobudur menyimpan pesan-pesan kehidupan yang dapat terus dipelajari dan direnungkan sepanjang zaman.

Relief-reliefnya mengajak manusia membaca perjalanan kehidupan, memahami akibat dari perbuatan, menumbuhkan kebajikan, dan mencari makna kehidupan yang lebih mendalam.

Karena itu, Borobudur layak dipahami sebagai pusaka budaya bangsa sekaligus pustaka kehidupan. Ia bukan monumen mati yang hanya dikagumi dari kejauhan, melainkan warisan peradaban yang nilai-nilainya perlu terus dihidupkan melalui pendidikan, kebudayaan, spiritualitas, dan kehidupan masyarakat.

Ketika Pelestarian Berhadapan dengan Kepentingan Ekonomi

Perkembangan pariwisata telah membawa Borobudur menjadi perhatian dunia. Namun, kemajuan fisik dan meningkatnya aktivitas ekonomi tidak dengan sendirinya menjamin keberhasilan pewarisan nilai-nilai budaya.

Di tengah berbagai kepentingan pengelolaan, muncul pertanyaan penting: apakah Borobudur telah dirawat secara utuh, termasuk ruh spiritualitas dan kehidupan masyarakat yang tumbuh bersama dengannya?

Ketika perhatian lebih banyak tertuju pada bangunan, jumlah kunjungan, fasilitas, dan keuntungan ekonomi, ada risiko bahwa pesan kehidupan yang terkandung di dalam Borobudur justru semakin jauh dari perhatian.

Buku ini mengajak kita melihat kembali hubungan antara spiritualitas, budaya, pariwisata, dan masyarakat. Pengembangan pariwisata semestinya tidak berhenti pada upaya mendatangkan pengunjung, tetapi juga mampu memberikan manfaat bagi masyarakat, menjaga lingkungan, menghormati kebudayaan, dan memperkuat tanggung jawab bersama terhadap warisan budaya.

Sebab, keberhasilan melestarikan bangunan belum tentu berarti keberhasilan mewariskan nilai-nilainya.

Ruwat Rawat Borobudur: Gerakan Merawat Ingatan dan Kesadaran

Berangkat dari kegelisahan terhadap kemungkinan memudarnya nilai spiritualitas Borobudur, Sucoro menggagas Gerakan Ruwat Rawat Borobudur pada tahun 2003.

Gerakan ini tumbuh sebagai ruang komunikasi budaya bagi masyarakat, seniman, pemerhati budaya, akademisi, dan berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap Borobudur.

Ruwat Rawat tidak hanya menghadirkan tradisi, kesenian rakyat, sarasehan, dan kegiatan kebudayaan. Di balik berbagai kegiatan tersebut terdapat ikhtiar untuk menghidupkan kembali pemahaman bahwa Borobudur memiliki makna yang jauh melampaui keindahan fisiknya.

Ruwat menjadi laku budaya untuk memahami kehidupan, sedangkan rawat merupakan upaya merawat pengetahuan, mengembangkan potensi, dan membangun kesadaran agar nilai-nilai luhur tetap hidup.

Melalui gerakan ini, kebudayaan tidak ditempatkan sekadar sebagai tontonan, melainkan sebagai ruang pembelajaran, perjumpaan, dan pewarisan nilai antargenerasi.

Masyarakat Bukan Sekadar Penonton

Salah satu pesan penting buku ini adalah bahwa Borobudur tidak dapat dipisahkan dari alam, budaya, dan masyarakat yang hidup di sekitarnya.

Masyarakat bukan sekadar pihak yang tinggal di sekitar kawasan warisan budaya. Mereka memiliki pengalaman, ingatan, tradisi, pengetahuan lokal, dan hubungan kesejarahan yang menjadi bagian penting dari keberlanjutan Borobudur.

Karena itu, keterlibatan masyarakat semestinya tidak berhenti pada kehadiran dalam kegiatan seremonial atau menjadi pelengkap program pariwisata. Masyarakat perlu mendapatkan ruang untuk menyampaikan pengetahuan, berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, mengembangkan kebudayaan, dan meneruskan nilai-nilai warisan kepada generasi muda.

Gagasan tersebut juga tercermin dalam Kompetisi Opini–Kongres Borobudur tahun 2023 yang menjadi bagian dari perjalanan Ruwat Rawat Borobudur. Melalui forum ini, berbagai pemikiran dan pengalaman dihimpun untuk memperluas pemahaman tentang spiritualitas Borobudur, kebinekaan, pengelolaan, keterlibatan masyarakat, serta pelestarian dan pemanfaatan warisan budaya.

Buku ini mengingatkan kita bahwa pelestarian yang berkelanjutan membutuhkan kesadaran kolektif, gotong royong, dan tanggung jawab bersama.

Sebuah Bacaan untuk Masa Depan Borobudur

Pustaka Aksara Borobudur relevan bagi siapa pun yang ingin memahami Borobudur secara lebih utuh: bukan hanya sebagai bangunan bersejarah dan tujuan wisata, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan, kebijaksanaan, kebudayaan, dan pembelajaran kehidupan.

Buku ini dapat menjadi bahan refleksi bagi masyarakat, generasi muda, pegiat budaya, akademisi, pelaku pariwisata, dan pengambil kebijakan untuk meninjau kembali arah pelestarian Borobudur.

Di tengah perubahan zaman dan beragam kepentingan yang mengitari Borobudur, kita membutuhkan lebih banyak ruang untuk belajar, berdialog, dan menyatukan kepedulian.

Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan semata-mata bagaimana Borobudur dapat terus menarik perhatian dunia, melainkan bagaimana nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya tetap hidup dan memberi makna bagi manusia.

Borobudur telah diwariskan kepada kita sebagai pusaka peradaban. Tanggung jawab kita bukan hanya menjaganya agar tetap berdiri, melainkan juga memastikan agar pesan kehidupannya terus dibaca, dipahami, dihayati, dan diwariskan.

Mari membaca Pustaka Aksara Borobudur. Mari merawat ingatan, menumbuhkan kesadaran, dan bersama-sama memperjuangkan pewarisan nilai-nilai luhur Borobudur bagi generasi mendatang.

Ruwat Rawat Borobudur — merawat warisan, menghidupkan makna, dan mewariskan nilai kehidupan.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar