Borobudur bukan sekadar bangunan
batu yang megah. Di dalamnya tersimpan pesan kehidupan, nilai spiritualitas,
kebudayaan, dan kearifan yang tidak boleh berhenti pada generasi masa lalu.
Apa arti Borobudur bagi kita hari ini? Apakah cukup
memandangnya sebagai monumen bersejarah, destinasi wisata dunia, dan sumber
penggerak ekonomi? Ataukah kita masih memiliki tanggung jawab yang lebih
mendasar, yakni memahami, merawat, dan mewariskan nilai-nilai luhur yang
terkandung di dalamnya?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menghidupkan
semangat buku Pustaka Aksara Borobudur: Ruwat Rawat Borobudur dalam
Dimensi Spiritualitas, Budaya dan Pariwisata, karya Sucoro, Novita
Siswayanti, MA, dan Dr. Budiana Setiawan, dengan editor M. Hasbiansyah
Zulfahri.
Buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan tentang
Candi Borobudur. Ia merupakan rekaman perjalanan, pemikiran, pengalaman, serta
kegelisahan tentang bagaimana Borobudur dipahami, dikelola, dilestarikan, dan
dimaknai dalam kehidupan masyarakat.
Borobudur:
Pusaka, Pustaka, dan Guru Kehidupan
Borobudur adalah warisan budaya dunia yang memiliki
nilai universal. Namun, keagungannya tidak hanya terletak pada arsitektur,
keindahan bangunan, atau daya tarik wisata. Lebih dari itu, Borobudur menyimpan
pesan-pesan kehidupan yang dapat terus dipelajari dan direnungkan sepanjang
zaman.
Relief-reliefnya mengajak manusia membaca
perjalanan kehidupan, memahami akibat dari perbuatan, menumbuhkan kebajikan,
dan mencari makna kehidupan yang lebih mendalam.
Karena itu, Borobudur layak dipahami sebagai pusaka
budaya bangsa sekaligus pustaka kehidupan. Ia bukan monumen mati yang hanya
dikagumi dari kejauhan, melainkan warisan peradaban yang nilai-nilainya perlu
terus dihidupkan melalui pendidikan, kebudayaan, spiritualitas, dan kehidupan
masyarakat.
Ketika
Pelestarian Berhadapan dengan Kepentingan Ekonomi
Perkembangan pariwisata telah membawa Borobudur
menjadi perhatian dunia. Namun, kemajuan fisik dan meningkatnya aktivitas ekonomi
tidak dengan sendirinya menjamin keberhasilan pewarisan nilai-nilai budaya.
Di tengah berbagai kepentingan pengelolaan, muncul
pertanyaan penting: apakah Borobudur telah dirawat secara utuh, termasuk ruh
spiritualitas dan kehidupan masyarakat yang tumbuh bersama dengannya?
Ketika perhatian lebih banyak tertuju pada
bangunan, jumlah kunjungan, fasilitas, dan keuntungan ekonomi, ada risiko bahwa
pesan kehidupan yang terkandung di dalam Borobudur justru semakin jauh dari
perhatian.
Buku ini mengajak kita melihat kembali hubungan
antara spiritualitas, budaya, pariwisata, dan masyarakat. Pengembangan
pariwisata semestinya tidak berhenti pada upaya mendatangkan pengunjung, tetapi
juga mampu memberikan manfaat bagi masyarakat, menjaga lingkungan, menghormati kebudayaan,
dan memperkuat tanggung jawab bersama terhadap warisan budaya.
Sebab, keberhasilan melestarikan
bangunan belum tentu berarti keberhasilan mewariskan nilai-nilainya.
Ruwat
Rawat Borobudur: Gerakan Merawat Ingatan dan Kesadaran
Berangkat dari kegelisahan terhadap kemungkinan
memudarnya nilai spiritualitas Borobudur, Sucoro menggagas Gerakan Ruwat Rawat
Borobudur pada tahun 2003.
Gerakan ini tumbuh sebagai ruang komunikasi budaya
bagi masyarakat, seniman, pemerhati budaya, akademisi, dan berbagai pihak yang
memiliki kepedulian terhadap Borobudur.
Ruwat Rawat tidak hanya menghadirkan tradisi,
kesenian rakyat, sarasehan, dan kegiatan kebudayaan. Di balik berbagai kegiatan
tersebut terdapat ikhtiar untuk menghidupkan kembali pemahaman bahwa Borobudur
memiliki makna yang jauh melampaui keindahan fisiknya.
Ruwat menjadi laku budaya untuk memahami kehidupan,
sedangkan rawat merupakan upaya merawat pengetahuan, mengembangkan potensi, dan
membangun kesadaran agar nilai-nilai luhur tetap hidup.
Melalui gerakan ini, kebudayaan tidak ditempatkan
sekadar sebagai tontonan, melainkan sebagai ruang pembelajaran, perjumpaan, dan
pewarisan nilai antargenerasi.
Masyarakat
Bukan Sekadar Penonton
Salah satu pesan penting buku ini adalah bahwa
Borobudur tidak dapat dipisahkan dari alam, budaya, dan masyarakat yang hidup
di sekitarnya.
Masyarakat bukan sekadar pihak yang tinggal di
sekitar kawasan warisan budaya. Mereka memiliki pengalaman, ingatan, tradisi,
pengetahuan lokal, dan hubungan kesejarahan yang menjadi bagian penting dari
keberlanjutan Borobudur.
Karena itu, keterlibatan masyarakat semestinya
tidak berhenti pada kehadiran dalam kegiatan seremonial atau menjadi pelengkap
program pariwisata. Masyarakat perlu mendapatkan ruang untuk menyampaikan
pengetahuan, berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, mengembangkan
kebudayaan, dan meneruskan nilai-nilai warisan kepada generasi muda.
Gagasan tersebut juga tercermin dalam Kompetisi
Opini–Kongres Borobudur tahun 2023 yang menjadi bagian dari perjalanan Ruwat
Rawat Borobudur. Melalui forum ini, berbagai pemikiran dan pengalaman dihimpun
untuk memperluas pemahaman tentang spiritualitas Borobudur, kebinekaan,
pengelolaan, keterlibatan masyarakat, serta pelestarian dan pemanfaatan warisan
budaya.
Buku ini mengingatkan kita bahwa pelestarian yang
berkelanjutan membutuhkan kesadaran kolektif, gotong royong, dan tanggung jawab
bersama.
Sebuah
Bacaan untuk Masa Depan Borobudur
Pustaka Aksara Borobudur relevan
bagi siapa pun yang ingin memahami Borobudur secara lebih utuh: bukan hanya
sebagai bangunan bersejarah dan tujuan wisata, tetapi juga sebagai sumber
pengetahuan, kebijaksanaan, kebudayaan, dan pembelajaran kehidupan.
Buku ini dapat menjadi bahan refleksi bagi
masyarakat, generasi muda, pegiat budaya, akademisi, pelaku pariwisata, dan
pengambil kebijakan untuk meninjau kembali arah pelestarian Borobudur.
Di tengah perubahan zaman dan beragam kepentingan
yang mengitari Borobudur, kita membutuhkan lebih banyak ruang untuk belajar,
berdialog, dan menyatukan kepedulian.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan
semata-mata bagaimana Borobudur dapat terus menarik perhatian dunia, melainkan
bagaimana nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya tetap hidup dan memberi
makna bagi manusia.
Borobudur telah diwariskan kepada
kita sebagai pusaka peradaban. Tanggung jawab kita bukan hanya menjaganya agar
tetap berdiri, melainkan juga memastikan agar pesan kehidupannya terus dibaca,
dipahami, dihayati, dan diwariskan.
Mari membaca Pustaka Aksara Borobudur. Mari
merawat ingatan, menumbuhkan kesadaran, dan bersama-sama memperjuangkan
pewarisan nilai-nilai luhur Borobudur bagi generasi mendatang.
Ruwat Rawat Borobudur — merawat
warisan, menghidupkan makna, dan mewariskan nilai kehidupan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar