Diskusi revitalisasi Candi Borobudur di BRIN Jakarta, beberapa hari lalu. Foto: dok
Ketua Yayasan Ruwat Rawat Borobudur, Sucoro
Setrodiharjo, hari ini (Jumat, 21/11/25) menuturkan, Pusat Riset Masyarakat dan
Budaya – Badan Riset dan Inovasi Nasional (PRMB-BRIN) menggelar diskusi seri
ke-95 di Jakarta, pada Senin (17 November 25). Diskusi tentang Revitalisasi
Candi Borobudur itu bertema: Exploring the cultural and spiritual dimension
through ruwat rawat Borobudur for national identity (Menjelajahi dimensi budaya
dan spiritual melalui ruwat rawat Borobudur untuk identitas nasional).
Konsultasi
Hukum
Disebutkan, diskusi itu mengkaji praktik budaya
“Ruwat Rawat Borobudur (RRB)” yang telah berlangsung sejak 2003. Itu sebagai
respon terhadap krisis spiritualitas di tengah komersialisasi pariwisata.
Sucoro menilai, ego sektoral antar stakeholders,
dengan tingkat kepentingan yang berbeda itu sulit untuk dicapai kesepahaman.
Hingga akhirnya masyarakat yang menjadi korban.
Selebihnya dipaparkan, dalam diskusi tersebut
dibahas pengembangan pariwisata Candi Borobudur menuai kritik tajam. Karena
dinilai lebih berfokus pada aspek komersial. “Mengancam esensi monumen yang
dibangun untuk tujuan spiritual leluhur,” katanya.
Diskusi tersebut menampilkan pembicara inti Novita
Siswayanti (BRIN), narasumbernya Prof Dundin Zaenuddin, Prof Dwi Purwoko,
Sucoro Setrodiharjo yang merupakan penggagas Ruwat Rawat Borobudur dan Dr
Budiana Setiawan sebagai moderator.
Hadir dalam diskusi tersebut Kepala Pusat Riset Masyarakat dan Budaya BRIN
Aulia Hadi, Ir Firman Napitupulu dari PUPR, Direktur Taman Wisata Borobudur
Mardiyanto Nugrohro, serta peneliti senior BRIN Dedi Adhuri PhD.
Selebihnya Sucoro memaparkan, dalam diskusi
tersebut juga disinggung tentang ironi pengelolaan. “Ironisnya, ancaman
kerusakan akibat kunjungan wisata berlebihan. Itu terjadi setelah dipercayakan
kepada PT Taman Wisata Candi Borobudur dan Prambanan (TWC) sejak 1980,”
tuturnya.
Ekonomi
Selama ini, TWC dinilai terlalu memprioritaskan
pemanfaatan pariwisata untuk kesejahteraan ekonomi. Namun melupakan bahwa yang
dikelola itu adalah warisan budaya yang sarat nilai spiritual universal. Dampak
ketidakseimbangan itu selama ini hanya diselesaikan melalui kompromi politik
terbatas. Sedangkan dampak persoalanya terus berkembang hingga nyentuh
kemanusiaan.
Di balik materi diskusi tersebut, dia telah
mendokumentasikan sejak proses perubahan fungsi Borobudur tahun 1980. “Studi
etnografi BRIN menemukan bahwa peran saya dan Ruwat Rawat Borobudur merupakan
fenomena gerakan moral penguatan spiritualitas yang vital dan sukses menjadi
revolusi konservasi non-formal yang efektif,” katanya.
Yayasan RRB, yang kini memasuki tahun ke-24, jelas
Sucoro, berupaya melakukan rekonstruksi nilai dan terus mengingatkan pengelola
akan pentingnya keseimbangan antara pelestarian, perlindungan, dan pemanfaatan.
Dalam diskusi tersebut, RRB dinilai sukses sebagai revolusi konservasi
non-formal. Berhasil menjembatani dikotomi spiritualitas dan ekonomi,
memosisikan Borobudur sebagai pusaka leluhur. Juga dinilai sukses menguatkan
rasa kepemilikan, melalui wadah pertemuan lintas keyakinan.
Gerakan Budaya Rakyat Ruwat Rawat Borobudur yang
mengusung konsep: Kiblat Papat Lima Pancer, sebagai model penyeimbang
pengelolaan komersial. Filosofi kosmologi Jawa itu menekankan empat arah mata
angin (dimensi duniawi) dan satu pusat (pancer) yang melambangkan pencerahan
dan orientasi kepada transendental.
Hasil diskusi tersebut menyimpulkan, RRB menawarkan
model alternatif keterlibatan masyarakat sipil (civil society engagement).
Membuktikan bahwa integritas Borobudur hanya dapat dijaga melalui sinergi
holistik antara manajemen korporat BUMN dan konservasi nilai spiritual-budaya.
