24 Tahun Ruwat Rawat Borobudur, Ikut Berperan Revitalisasi Candi Borobudur

Ruwat Rawat Borobudur
0

 




Diskusi revitalisasi Candi Borobudur di BRIN Jakarta, beberapa hari lalu. Foto: dok

Ketua Yayasan Ruwat Rawat Borobudur, Sucoro Setrodiharjo, hari ini (Jumat, 21/11/25) menuturkan, Pusat Riset Masyarakat dan Budaya – Badan Riset dan Inovasi Nasional (PRMB-BRIN) menggelar diskusi seri ke-95 di Jakarta, pada Senin (17 November 25). Diskusi tentang Revitalisasi Candi Borobudur itu bertema: Exploring the cultural and spiritual dimension through ruwat rawat Borobudur for national identity (Menjelajahi dimensi budaya dan spiritual melalui ruwat rawat Borobudur untuk identitas nasional).

Konsultasi Hukum

Disebutkan, diskusi itu mengkaji praktik budaya “Ruwat Rawat Borobudur (RRB)” yang telah berlangsung sejak 2003. Itu sebagai respon terhadap krisis spiritualitas di tengah komersialisasi pariwisata.

Sucoro menilai, ego sektoral antar stakeholders, dengan tingkat kepentingan yang berbeda itu sulit untuk dicapai kesepahaman. Hingga akhirnya masyarakat yang menjadi korban.

Selebihnya dipaparkan, dalam diskusi tersebut dibahas pengembangan pariwisata Candi Borobudur menuai kritik tajam. Karena dinilai lebih berfokus pada aspek komersial. “Mengancam esensi monumen yang dibangun untuk tujuan spiritual leluhur,” katanya.

Diskusi tersebut menampilkan pembicara inti Novita Siswayanti (BRIN), narasumbernya Prof Dundin Zaenuddin, Prof Dwi Purwoko, Sucoro Setrodiharjo yang merupakan penggagas Ruwat Rawat Borobudur dan Dr Budiana Setiawan sebagai moderator.
Hadir dalam diskusi tersebut Kepala Pusat Riset Masyarakat dan Budaya BRIN Aulia Hadi, Ir Firman Napitupulu dari PUPR, Direktur Taman Wisata Borobudur Mardiyanto Nugrohro, serta peneliti senior BRIN Dedi Adhuri PhD.

Selebihnya Sucoro memaparkan, dalam diskusi tersebut juga disinggung tentang ironi pengelolaan. “Ironisnya, ancaman kerusakan akibat kunjungan wisata berlebihan. Itu terjadi setelah dipercayakan kepada PT Taman Wisata Candi Borobudur dan Prambanan (TWC) sejak 1980,” tuturnya.

Ekonomi

Selama ini, TWC dinilai terlalu memprioritaskan pemanfaatan pariwisata untuk kesejahteraan ekonomi. Namun melupakan bahwa yang dikelola itu adalah warisan budaya yang sarat nilai spiritual universal. Dampak ketidakseimbangan itu selama ini hanya diselesaikan melalui kompromi politik terbatas. Sedangkan dampak persoalanya terus berkembang hingga nyentuh kemanusiaan.

Di balik materi diskusi tersebut, dia telah mendokumentasikan sejak proses perubahan fungsi Borobudur tahun 1980. “Studi etnografi BRIN menemukan bahwa peran saya dan Ruwat Rawat Borobudur merupakan fenomena gerakan moral penguatan spiritualitas yang vital dan sukses menjadi revolusi konservasi non-formal yang efektif,” katanya.

Yayasan RRB, yang kini memasuki tahun ke-24, jelas Sucoro, berupaya melakukan rekonstruksi nilai dan terus mengingatkan pengelola akan pentingnya keseimbangan antara pelestarian, perlindungan, dan pemanfaatan. Dalam diskusi tersebut, RRB dinilai sukses sebagai revolusi konservasi non-formal. Berhasil menjembatani dikotomi spiritualitas dan ekonomi, memosisikan Borobudur sebagai pusaka leluhur. Juga dinilai sukses menguatkan rasa kepemilikan, melalui wadah pertemuan lintas keyakinan.

Gerakan Budaya Rakyat Ruwat Rawat Borobudur yang mengusung konsep: Kiblat Papat Lima Pancer, sebagai model penyeimbang pengelolaan komersial. Filosofi kosmologi Jawa itu menekankan empat arah mata angin (dimensi duniawi) dan satu pusat (pancer) yang melambangkan pencerahan dan orientasi kepada transendental.

Hasil diskusi tersebut menyimpulkan, RRB menawarkan model alternatif keterlibatan masyarakat sipil (civil society engagement). Membuktikan bahwa integritas Borobudur hanya dapat dijaga melalui sinergi holistik antara manajemen korporat BUMN dan konservasi nilai spiritual-budaya.

 


Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default