Oleh Sucoro Setrodiharjo
Borobudur, 25 Agustus 2025 - Kompetisi opini dan Kongres Borobudur 3 resmi dibuka Senin, 25 Agustus 2025 oleh Kepala MCB Borobudur Ibu Wiwit Kasiati di Ruang rapat kantor MCB Borobudur . Tema kegiatan ini adalah "Menelisik Keberagaman, Kemanfaatan Nilai Spiritualitas Borobudur" dengan subtema Bidang Moderasi BerAgama, Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dan Bidang Pemajuan Kebudayaan.
Panitia kegiatan Sucoro Setrodiharjo menyampaikan
bahwa tujuan dari kompetisi opini dan Kongres Borobudur 3 adalah untuk
meningkatkan kesadaran dan rasa memiliki masyarakat dan pelaku wisata terhadap
warisan budaya Borobudur. Selain itu, acara ini juga bertujuan untuk menggali
ide kreatif dan pemikiran para penggiat, pemerhati budaya, stakeholder, dan
pemerintah dalam melestarikan dan memanfaatkan sumber daya budaya
Borobudur.Hasil dari kegiatan ini akan disampaikan kepada Pemerintah/Pengelola
sebagai sumbangsih pemikiran dan diterbitkan pada buku karya Warung Info Jagad
Cleguk ke-12 dengan judul buku "Dilema Borobudur antara Revolusi dan
Rekontruksi". Sebanyak 23 finalis terpilih dari 246 peserta yang telah mengirimkan
artikel .
Sementara Novita Siswayanti ( BRIN ) juga menekankan
bahwa nilai spiritualitas Borobudur tidak bisa dipisahkan dari kepentingan
spiritual dan religius. "Borobudur hanya dipahami sebagai daerah tujuan
wisata yang kurang menyertakan tentang nilai spiritualitas," katanya.
Suara-suara
sumbang
Ketua 23 Th
Ruwat Rawat Borobudur, Sucoro,menyampaikan, jumlah pengirim artikel
sebanyak 246 peserta menjadi bukti kepedulianya untuk terlibat secara aktif
dalam mewujudkan Borobudur menjadi destinasi wisata dunia . Suara-suara sumbang
yang muncul melalui penulisanya ,terkait pengelolaan Borobudur sebenarnya
merupakan ungkapan perasaan yang telah terpendam selama bertahun-tahun bukan
soal iri dengki antar stakeholders .
Kita semua tahu bahwa, masyarakat sekitar Borobudur merasa kesulitan mencari
penghidupan dan ruang usaha mereka semakin sempit, terutama setelah pemindahan
pedagang ke tempat baru di Kampung Seni Borobudur . Untuk itu wajarlah kalau
ungkapan KRITRIS dan saling mengkritisi itu muncul karena itu juga dipicu oleh
rasa TRAUMA, Dari dulu dan berlangsung dari tahun ketahun usaha untuk
mendapatkan pemberdayaan dan kerjasama itu juga telah dilakukan oleh pribadi
maupun atas nama masyarakat , namun demikian masih dirasa belum cukup menjadi
ruang usaha masyarakat untuk peningkatan kesejahteraanya secara adil dan merata
Persoalan demi
persoalanpun terus melilit management
pengelolaan yang hasil KOMPROMINYA TIDAK SEBANDING DENGAN SEBAB AKIBAT
KEBIJAKAN YANG DITERAPKAN TANPA KETERLIBATKAN MASYARAKAT
Menurut Sucoro , kalimat MASYARAKAT memang abstrak ,
siapa sebenarnya masyarakat itu ? Sementara pengaku masyarakat memiliki
kepentingan yang beragam, yang umumnya ingin berperan aktif dalam pengelolaan
Borobudur dan mendapatkan manfaat sebanyak-banyaknya dari tuah candi yang kaya
nilai spiritual itu . Meski perlu
diingat, bahwa tujuan Nenek moyang membangun Borobudur itu adalah untuk kepentingan spiritual dan
religius, bukan hanya sebagai objek pariwisata.
Kegiatan Kompetisi Opini akan dilanjutkan dengan
Kongres Borobudur 3 akan digelar pada 27 Agustus 2025 di halaman Candi
Borobudur. Acara ini diharapkan dapat menjadi platform untuk membahas isu-isu
terkait pengelolaan Borobudur dan mencari solusi untuk pengelolaan yang
berkelanjutan
Camat Borobudur, Subiyanto,
menambahkan bahwa kompetisi opini RRB merupakan jembatan antara masa lalu dan
masa depan, serta melahirkan relawan yang mengedepankan budaya literasi dan
pencatatan perjalanan Borobudur.
Sementara itu, Koordinator Unit Warisan Dunia
Borobudur dan Prambanan, Wiwit Kasiati, menilai bahwa tema lomba opini tentang
keberagaman nilai spiritual di kawasan Borobudur sangat sesuai dan menantang
bagi publik. Kompetisi ini diharapkan dapat memberikan kemanfaatan bagi semua
pihak ¹.
