Sarasehan mempertemukan Situs Samberan dan Candi
Borobudur menjadi rangkaian 23 tahun Ruwat Rawat Borobudur.
Diskusi dua peninggalan Hindu dan Buddha tersebut
guna menggali potensi yang dapat dikembangkan bagi kesejahteraan masyarakat.
Sarasehan budaya bertema "Menelisik Keragaman
dan Manfaat Nilai Spiritual Situs Samberan dan Borobudur" digelar di Situs
Samberan, Dusun Samberan, Desa Ringinanom, Tempuran, Kabupaten Magelang, Senin
(15/9).
Budayawan pemrakarsa kegiatan tersebut, Sucoro
Setrodiharjo, mengatakan, melalui sarasehan tersebut dia mencoba mempertemukan
dua peninggalan Hindu dan Buddha. Tentu untuk menggali potensi yang dapat
dikembangkan dari dua peninggalan sejarah itu. Sarasehan tersebut, sekaligus
dalam rangka 23 tahun tradisi Ruwat Rawat Borobudur.
Seperti diketahui, situs Samberan merupakan
peninggalan Hindu, sedangkan Candi Borobudur merupakan peninggalan Buddha.
Petugas Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN),
Novita Siswayanti ketika mengawali acara itu mengatakan, melalui sarasehan bisa
saling sharing, berbagi pengalaman. Agar bagaimana situs-situs tersebut bisa
hidup. Masyarakat bisa punya rasa memiliki, menjaga, dan dengan adanya situs
tersebut bermanfaat.
Diharapkan, warga bisa nguri-uri (memelihara)
kebudayaan di sekitar situs, atau bisa menyambung dengan situs di wilayah sekitarnya.
Sebagai contoh, bisa dihubungkan dengan lokasi Kali Reco di dekat situs
tersebut.
"Bisa juga dikaitkan dengan cerita, pernah ada
pedagang es yang masuk ke situs tersebut, tidak bisa keluar,"
ujarnya.
Awalnya orang itu mengatakan bahwa situs tersebut
hanya batu. Tidak ada istimewanya, tapi kenapa dijaga, diberi pagar
pembatas dan dipelihara seperti itu.
"Setelah berbicara seperti itu orang tersebut
tidak bisa keluar dari pagar situs. Begitu dia meminta maaf dan mengakui
kesalahannya, orang itu bisa menemukan jalan pulang," kata wanita dengan
nama panggilan Mbak Ita ini.
Petugas lembaga penelitian, pengembangan, pengkajian
dan penerapan, serta invensi dan inovasi yang terintegrasi itu selebihnya
mengharapkan bisa menghubungkan situs yang disucikan, sekaligus sebagai sumber
informasi, edukasi, wisata.
"Orang yang masuk ke situ memiliki adab, menjaga
ucapan, cara berpakaian yang sopan," harap peneliti masyarakat dan budaya
itu.
Diingatkan pula, situs merupakan warisan budaya dan
leluhur kita, yang perlu dijaga dan dirawatnya. Sebagai umat yang bertoleransi
satu sama lain, yang terbuka menerima perbedaan.
Dia ingin bisa mempublikasikan kepada dunia.
Disebutkan bahwa berbagai kegiatan yang dia lakukan itu dibukukan. Itu untuk
bahan publikasi.
Dalam seminar tersebut menghadirkan sejumlah pejabat
pemerintah kabupaten dan Muspika Tempuran. Juga menghadirkan tokoh agama
Buddha, Bante Dikti dan Jero Gede Swardiasa dari pengurus Hindu Magelang.
Masing-masing diberi waktu untuk mengemukakan pendapatnya.
Dalam kesempatan itu, Dian Fransiska, dari Museum dan
Cagar Budaya Warisan Dunia Borobudur, Situs Samberan merupakan situs cagar
budaya, yang sejak 2014 ditetapkan menjadi situs cagar budaya peringkat
nasional. Harapannya situs yang ada di sekitar Candi Borobudur bisa memecah
kunjungan. Tidak terpusat di Candi Borobudur saja, namun berkunjung ke situs
lain.
Tujuannya, kata dia, untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat sekitar. Maka, dibutuhkan ide-ide dan hal-hal yang perlu
diperhatikan terkait kesiapan masyarakat dalam menerima banyak pengunjung, juga
identifikasi potensi. Apa saja yang bisa ditawarkan, sehingga bisa menarik
pengunjung. Setelah potensinya digali bisa membuat paket wisata.
"Misalnya ada sepeda onthel. Itu bisa dibuat
sepeda wisata. Hingga Situs Samberan itu bisa menjadi jalur kunjungan
wisatawan," lanjutnya.
Hari Setiawan dari Museum dan Cagar Budaya Borobudur
dalam acara tersebut berterima kasih kepada warga Samberan dan petugas
pemelihara situs tersebut. Seandainya ketika menemukan situs tersebut langsung
dijual, maka sudah tidak ada situs itu. Karena batu batanya habis.
Situs berukuran 16x16 meter itu terbesar peninggalan
abad VIII sampai X Masehi di Jateng. Situs itu memiliki peran yang sangat
penting pada masa lalu. Terkait prosesi religius membuktikan, situs Buddha
didukung pemukiman Hindu. Sekarang tinggal bagaimana melestarikan situs
tersebut. Itu butuh kerja sama yang baik antara pemerintah pusat dan
daerah.
"Disebutkan, komposisi bata tersebut sulit untuk
ditiru. Karena kekerasannya, materialnya, tanahnya, mempunyai sifat yang lebih
baik dibanding batu bata saat ini.
"Ini situs agama Hindu," jelasnya.
Berdasar keterangan pemilik tanah yang ada situsnya,
Wahani (68), mengisahkan, bangunan candi ditemukan tahun 2005. Ketika itu
dia sedang menggali tanah untuk dibuat bata merah bersama anaknya, Munrodin.
Ketika ditemukan berbentuk fondasi 16 meter persegi.
Kini, tanah warisan dari orang tuanya, Tukul -
Jembak, sekitar 600 meter persegi itu sudah dibeli pemerintah. Adapun yang
dipasang pagar keliling, totalnya sekitar 2.700 meter persegi.
