Oleh
Sucoro Setrodiharjo
Pembangunan Balai Ekonomi Desa (Balkondes) di
kawasan Borobudur sejak tahun 2017 merupakan manifestasi dari program Corporate
Social Responsibility (CSR) yang dirancang untuk mengintegrasikan potensi
ekonomi dengan akar budaya lokal. Di bawah payung Badan Usaha Milik Desa
(BUMDes), Balkondes idealnya memikul dua mandat utama: fungsi ekonomi sebagai
penggerak kesejahteraan dan fungsi sosial-kemanusiaan sebagai ruang interaksi
warga.
Namun, observasi mendalam yang dilakukan oleh Tim
Riset Mandiri Borobudur bersama Budayawan Ruwat Rawat Borobudur pada sebuah
hari Kamis siang, mengungkap realitas yang kontras. Penelusuran di Balkondes
Giri Tengah dan Balkondes Ngadiharjo memberikan gambaran jelas mengenai
bagaimana perbedaan model tata kelola dapat menentukan "hidup atau
matinya" ruh sebuah desa.
Balkondes Giri Tengah: Keindahan Alam dalam
Keterasingan Manajerial
Balkondes Giri Tengah sejatinya memiliki modalitas
fisik yang luar biasa. Terletak di dekapan Bukit Menoreh, tempat ini
menyuguhkan lanskap berundak yang asri, udara sejuk, dan panorama persawahan
yang dialiri air bening di bawah jembatan desa. Namun, keindahan visual ini
berbanding terbalik dengan denyut sosial di dalamnya.
Saat tim riset tiba, suasana tampak senyap. Tidak
ada satu pun pengelola atau penduduk lokal yang beraktivitas di sana. Ketiadaan
interaksi ini merupakan dampak langsung dari model pengelolaan yang diserahkan
sepenuhnya kepada pihak ketiga (pihak swasta dari luar daerah). Selama lima
tahun pertama, Balkondes ini dikontrak oleh lembaga dari Kediri, dan untuk
periode mendatang, pengelolaan akan beralih ke tangan agensi motivator dari
Temanggung.
Privatisasi total ini menyebabkan hilangnya peran
masyarakat sebagai subjek pembangunan. Orientasi pengelola sangat kental pada
aspek komersial eksklusif: menyasar pasar Jakarta dan kota-kota besar untuk
paket healing dan staycation. Ironisnya, meski menawarkan
kedamaian alam, fasilitas ini justru menutup diri dari warga lokal. Terdapat
laporan bahwa warga yang mencoba berjualan di sekitar area tersebut mendapatkan
teguran. Bahkan, sajian yang direncanakan untuk tamu—seperti bakpao—bukanlah
produk otentik desa setempat. Di Giri Tengah, Balkondes telah berubah menjadi
"enklave" pariwisata yang terputus dari napas sosial desanya sendiri.
Balkondes Ngadiharjo: Manifestasi
Spiritualitas dan Kemandirian
Pemandangan kontras ditemukan di Balkondes
Ngadiharjo. Kehadiran tim disambut oleh hiruk-pikuk positif: anak-anak sekolah
berpakaian pramuka tengah berkegiatan di area pertunjukan, sementara para
pengelola lokal sibuk melayani tamu di area joglo.
Balkondes ini dikelola secara mandiri oleh warga
desa (diwakili oleh pengelola seperti Ibu Erna dan tim) di bawah koordinasi
BUMDes dengan sistem sharing profit. Mereka memegang penuh kepercayaan
desa untuk mengelola aset tersebut dengan menyetor 25% keuntungan ke Pendapatan
Asli Desa (PADes). Di sini, seluruh potensi desa—mulai dari alam hingga
kerajinan—dijadikan instrumen pariwisata yang inklusif.
Salah satu poin krusial dalam diskusi tim riset di
Ngadiharjo adalah redefinisi makna Spiritualitas. Awalnya, pengelola
menganggap spiritualitas identik dengan hal klenik atau ritual perdukunan.
Namun, setelah berdialog dengan Tim Riset Borobudur, muncul kesadaran baru:
bahwa spiritualitas desa adalah "Spirit" atau energi yang terkandung
dalam potensi lokal. Ketenangan alam, keramahan masyarakat, dan kelestarian
tradisi adalah bentuk spiritualitas yang dicari wisatawan modern.
Berbekal pelatihan dari BBPVP Semarang, tim
Ngadiharjo mampu mengonversi spiritualitas ini menjadi layanan berkualitas:
- Kuliner
Otentik:
Menyajikan produk lokal seperti teh rosella, kopi Ngadiharjo, dan wedang
jahe alami racikan sendiri.
- Edukasi
Budaya:
Wisatawan diajak berinteraksi langsung dalam pembuatan jetkolet, grubi,
tiwul, hingga kerajinan rajutan dan ecoprint.
- Wisata
Pengalaman:
Paket tracking sunrise Menoreh dan wisata air terjun yang dikelola
secara kolektif.
Hasilnya nyata; hampir 85% pengunjung adalah tamu
yang datang kembali (repeat order). Mereka tidak hanya mencari
pemandangan, tetapi mencari "ruh" kehidupan desa yang rukun, toleran,
dan inklusif.
Kesimpulan dan Refleksi
Perbandingan antara Giri Tengah dan Ngadiharjo
memberikan pelajaran berharga bagi masa depan pariwisata berbasis komunitas.
Balkondes yang dikelola sebagai unit bisnis murni oleh pihak luar berisiko
menjadi bangunan mati yang terasing dari lingkungannya. Sebaliknya, Balkondes yang
dikelola secara mandiri dengan melibatkan masyarakat akan bertransformasi
menjadi ruang sosial yang hidup.
Spiritualitas desa bukanlah sekadar peninggalan
masa lalu, melainkan modal sosial yang kuat untuk menggerakkan kemandirian
ekonomi. Keberhasilan Ngadiharjo membuktikan bahwa ketika masyarakat diberi
kepercayaan dan edukasi, mereka mampu menjadi tuan rumah yang profesional
sekaligus penjaga gawang budaya yang tangguh.
