Chattra Borobudur Bukan Sekadar Persoalan Artefak, Melainkan Sinyal Kritis Keseimbangan "Ruh dan Raga"

Ruwat Rawat Borobudur
0

 





Oleh . Sucoro Setrodiharjo

Terlepas dari keabsahan arkeologis atau sejarahnya, perdebatan seputar rencana pemasangan Chattra ,telah berhasil menggeser fokus dari tidak sekedar isu teknis "pasang atau tidak pasang" tetapi telah menjadi isu tata kelola, filosofi, dan spiritualitas yang jauh lebih fundamental.

Oleh karena itu, munculnya usulan pemasangan Chattra adalah sinyal kritis dan pengingat yang sangat penting bagi Pengelola Borobudur.

Sinyal ini bukan hanya tentang sebuah artefak, melainkan tentang visi dan paradigma tata kelola Borobudur secara keseluruhan. Ada tiga hal utama yang harus menjadi pengingat bagi pengelola, berdasarkan persoalan tata kelola yang sering muncul:

1.      Keseimbangan Antara Ruh ( Spiritualitas ) dan Raga ( Konservasi )

Pengingat terpenting dari isu Chattra adalah bahwa Borobudur tidak hanya sebuah "monumen batu" (Raga), tetapi juga "ruang sakral" (Ruh).

  • Kegagalan Integrasi: Pengelola diingatkan bahwa selama ini, fokus tata kelola terlalu didominasi oleh aspek fisik (konservasi, pemeliharaan, carrying capacity) dan ekonomi (pariwisata massal), sementara dimensi spiritual, filosofis, dan fungsi ritual candi kurang terintegrasi.
  • Fungsi Living Heritage: Borobudur harus dikelola sebagai living heritage warisan yang hidup dan bermakna bukan sekadar objek mati. Ini menuntut pengakuan yang lebih besar terhadap peran umat, tradisi lokal (Ruwat Rawat Borobudur), dan narasi filosofis candi Borobudur  selaras dengan pengakuan UNESCO

2.      Priotitas Bukan Economic-Driven, Tetapi Preservation-Driven

Usulan Chattra mengingatkan pengelola untuk mengevaluasi kembali model pariwisata yang diterapkan.

  • Tekanan Wisata Massal: Borobudur telah lama berada di bawah tekanan pariwisata massal (economic-driven) yang mengejar kuantitas pengunjung, bukan kualitas pengalaman. Hal ini mengancam kelestarian fisik (keausan batu) telah  mereduksi nilai spiritual dimana sejumlah pengunjung hanya menempatkan Borobudur sekedar menjadi latar belakang foto.
  • Transformasi Visi: Pengingatnya adalah segera bertransformasi menuju model Wisata Spiritual dan Edukatif (preservation-driven dan spiritual inclusive). Pengelola harus mengutamakan pelestarian dan pengalaman mendalam daripada penerimaan tiket semata.
  • Indikator Keberhasilan: Keberhasilan harus diukur dari tingkat kelestarian situs dan seberapa bermakna pengalaman pengunjung, bukan dari seberapa banyak pengunjung yang datang.

3.      Pentingnya Tata Kelola yang Kalaboratif dan Inklusif

Polemik Chattra muncul karena adanya kesenjangan komunikasi dan tumpang tindih interpretasi antar pemangku kepentingan (umat, ahli, pemerintah, dan masyarakat lokal).

  • Kesenjangan Komunikasi: Pengelola diingatkan untuk tidak mengambil kebijakan fundamental secara birokratis dan tertutup. Semua keputusan besar harus melalui proses dialog yang terlembaga.
  • Kebutuhan Forum Konsensus: Ini memperkuat pentingnya pembentukan Forum Konsensus Borobudur (atau sejenisnya) sebagai platform resmi untuk menyelaraskan perspektif dari tiga pilar utama:

*      Ahli Konservasi/Arkeologi (menjaga Integritas Fisik/Raga).

*      Perwakilan Umat/Spiritual (menjaga Integritas Spiritual/Ruh).

*      Masyarakat Lokal/Budayawan (menjaga konteks budaya dan filosofi Kiblat Papat).

3 Kesimpulan Penting dari Tuntutan Rencana Pemasangan Chattra sebagai cermin ( Kilas balik bagi Pengelola )

1. Esensi Tuntutan di Balik Isu Chattra

Chattra pada hakikatnya adalah simbol dari tuntutan fundamental agar pengelolaan Candi Borobudur di masa depan memiliki "jiwa" yang utuh. Jiwa ini menuntut perpaduan sempurna antara Nilai Spiritual yang Luhur (Ruh), yang merupakan esensi pendirian monumen untuk tujuan spiritual leluhur, dengan praktik pengelolaan yang Lestari dan Profesional (Raga), serta diwujudkan melalui keterlibatan semua pihak yang memiliki kepentingan terhadap mahakarya Borobudur.

2. Dampak Kegagalan Mencapai Keseimbangan

Kegagalan dalam menciptakan keseimbangan antara Ruh dan Raga telah menimbulkan dampak negatif keberkelanjutan pada tiga pilar utama warisan budaya: Pelestarian, Perlindungan, dan Pemanfaatan. Dampak paling signifikan adalah terabaikannya "Nilai Spiritualitas" sebagai esensi pendirian monumen tersebut. Selain itu, dampak fisik dan penataan tata ruang antar zona Candi Borobudur seringkali memicu gejolak, terutama karena minimnya komunikasi dan partisipasi masyarakat yang terdampak.

3. Akar Masalah Tata Kelola dan Kemanusiaan

Persoalan yang muncul dari sebab akibat tumpang tindihnya aturan , telah  menjadi masalah panjang yang terus muncul seiring silih bergantinya penjabat pengelola maupun pejabat pemerintahan. Yang upaya penyelesainya seringkali, hanya diselesaikan melalui kompromi terbatas dengan sebagian kecil pemangku kepentingan, yang minim partisipasi pihak yang kurang melibatkan terdampak langsung. Akibatnya, persoalan tata kelola tersebut terus berkembang liar, dampaknya semakin meluas, dan pada puncaknya, mulai menyentuh aspek kemanusiaan dan sosial masyarakat di sekitar situs oleh karenanya HAM belum lama ini turun .Brayat Panangkaran melalui Gerakan Budaya Rakyat Ruwat Rawat Borobudur terus menerus mengkritisi , dan mengingatkan pengelola , meski Gerakan tersebut telah 24 Tahun ternyata juga belum mampu memberikan masuk untuk terwujudnya kebijakan konprehensif

 

 


Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default