Sucoro Setrodiharjo
Candi
Borobudur kembali menjadi sorotan nasional, kali ini bukan karena lonjakan
wisatawan, melainkan karena polemik rencana pemasangan catra—struktur
payung pada puncak stupa induk candi. Inisiatif pemerintah ini, yang bertujuan
menguatkan nilai spiritualitas, berbenturan keras dengan prinsip konservasi dan
keaslian situs cagar budaya.
Dilema ini menempatkan Borobudur pada
persimpangan antara interpretasi tekstual (bentuk fisik) dan kontekstual
(makna spiritual dan budaya) yang saling tarik-menarik.
Konflik Otentisitas , Ketika
Spiritualitas Berlawanan Dengan Konservasi
Wacana pemasangan catra
sejatinya telah muncul sejak lama, diperkuat oleh klaim Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan pada 2017 yang menyatakan catra sebagai bagian inti dan
autentik Borobudur, didukung oleh hasil penelitian. Pemasangan ini juga
didorong oleh sejumlah tokoh agama Buddha sebagai upaya memperkuat nilai
spiritualitas Borobudur sebagai destinasi utama wisata religi global. Catra
sendiri, berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti payung atau pelindung,
melambangkan kesucian tahapan spiritualitas dan puncak perjalanan manusia
menuju pencerahan.
Namun, rencana ini menuai
penolakan dari para pakar:
- Keraguan Arkeologis: Pakar arkeologi, termasuk dari UGM, meyakini Candi Borobudur sejatinya
tidak memiliki catra. Perbandingan dengan relief dan struktur
candi sezaman menunjukkan kekhasan arsitektur Nusantara yang
mempertimbangkan faktor kerawanan bencana, sehingga ketiadaan catra
justru menjadi penanda otentisitasnya.
- Masalah Otentisitas Batu: Penelitian Museum dan Cagar Budaya (MCB) menemukan fakta krusial:
hanya 42 persen dari seluruh batu penyusun catra (yang
ditemukan) yang merupakan batu asli dari sekitar Candi Borobudur. Kajian
teknis BRIN pun menyimpulkan perlunya studi lebih mendalam.
Polemik ini memaksa pemerintah
menunda peresmian pemasangan catra. Sebagai situs Cagar Budaya Nasional
dan Warisan Budaya Dunia (1972 World Heritage Convention), setiap perubahan
struktural wajib mematuhi UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, di
mana keaslian wujud dan bentuk situs adalah aspek yang mutlak harus
dijaga. Upaya penguatan spiritualitas melalui penambahan struktur fisik yang
diragukan keasliannya berisiko melanggar prinsip konservasi fundamental.
Spiritualitas dan Ikatan Bathin
Di tengah hiruk pikuk polemik
fisik ini, muncul pandangan bahwa spiritualitas sejati Borobudur tidak terletak
pada penambahan struktur.
Menurut Sucoro, tokoh
masyarakat sekaligus penggagas Ruwat Rawat Borobudur, spiritualitas
Borobudur adalah "energi yang dapat membangun jiwa manusia kepada
kesempurnaan dan menghubungkannya dengan sesama, alam, dan Tuhannya."
Energi ini terpancar melalui keagungan arsitektur dan "kitab
kehidupan" universal yang terlukis di relief, dapat dirasakan oleh siapa
pun terlepas dari latar belakang agama.
Bagi Sucoro, masalah krusial
Borobudur bukan pada catra, melainkan pada:
- Degradasi Nilai akibat Orientasi Ekonomi: Setelah puluhan tahun kebijakan terlalu berorientasi pada pariwisata
yang mengejar keuntungan, nilai-nilai masyarakat mulai diukur melalui
capaian ekonomi semata.
- Ketidakadilan Ekonomi: Perputaran ekonomi pariwisata yang sangat terpusat di dalam pagar
candi menimbulkan rasa ketidakadilan di tengah masyarakat sekitar.
