Dilema Persoalan Pedagang Asong Borobudur di Antara Sebab dan Akibat

Ruwat Rawat Borobudur
0

 




Sucoro Setrodiharjo

Sejak pengelolaan Candi Borobudur dialihkan kepada PT Taman Wisata Candi (TWC), perkembangan sejarah mencatat adanya tantangan yang hingga kini dirasakan belum terpenuhi secara tuntas. Permasalahan pengelolaan ini telah mengusik berbagai pihak, mendesak adanya solusi komprehensif yang berlandaskan pandangan Holistik—melihat masalah Borobudur secara utuh, tidak terpisah-pisah. Sayangnya, upaya riset dan program konstruktif yang dicanangkan belum sepenuhnya menampakkan hasil, membuat persoalan Borobudur kian rumit dan sulit ditentukan kebijakannya.

Keterkaitan Borobudur Dan Kawasan Sekitar

Keberadaan Borobudur tidak dapat dilepaskan dari kawasan dan daerah di sekitarnya. Hidup matinya Borobudur sangat bergantung pada pola pemahaman, pelestarian, dan kepedulian masyarakat pengitar. Kawasan sekitar Borobudur ibarat satelit pendukung (buffer zone) yang berfungsi sebagai area perluasan pariwisata, sosial, dan budaya, serta menjadi pusat kegiatan penunjang oleh masyarakat.

Permasalahan yang muncul di Borobudur saat ini bukanlah tanpa sebab, melainkan cerminan dan representasi dari akumulasi masalah-masalah kecil yang terus menerus terabaikan. Contoh nyata yang mudah dilihat publik adalah turunnya daya tarik Candi Borobudur akibat kesemrawutan pedagang asongan, ketidak-kondusifan suasana pariwisata, rusaknya lingkungan, hingga masalah kebersihan dan sampah.

Konflik Visi Keuntungan Finansial dan Pelestarian

Contoh-contoh kesemrawutan ini, termasuk isu asongan, ditengarai sebagai akibat dari kebijakan sistem pariwisata masa lampau yang kurang matang dalam mempersiapkan kebijakan baru pengelolaan. Artinya, persoalan yang muncul saat ini bukanlah sesuatu yang a-historis, melainkan sebuah keniscayaan (hubungan sebab-akibat) dari kondisi yang sengaja atau tidak diciptakan di masa lalu.

Persoalan asongan bahkan sempat menjadi "Headline Issue" di berbagai media dan membuat resah UNESCO, yang sempat mengancam akan mencabut status Borobudur sebagai Warisan Budaya Dunia. Di sisi lain, persoalan ancaman terhadap pelestarian akibat membludaknya pengunjung yang tidak seiring dengan kapasitas bangunan cagar budaya belum terjawab pasti. Hal ini jelas terlihat dari perbedaan visi pengelola—di mana keberhasilan BUMN pengelola lebih diukur pada pendapatan finansial, sementara posisi pelestarian terkesampingkan.

Relokasi Solosi Jangka Pendek

Terkait kesemrawutan asongan, sejak awal konsep pengelolaan oleh PT TWC dinilai tidak memberi kesempatan yang memadai bagi masyarakat untuk berdagang secara mengasong. Pembangunan 100 kios yang dianggap cukup ternyata tidak mampu menampung kebutuhan masyarakat yang terdampak dan menjadikan sektor pariwisata sebagai tumpuan hidup.

Diskusi dan upaya penanganan yang melibatkan berbagai pihak, termasuk komunitas pedagang asongan, akhirnya memunculkan gagasan Relokasi. Namun, tindakan relokasi tersebut dianggap sebagai strategi jangka pendek yang kurang matang karena:

  1. Tidak melihat persoalan inti: Relokasi hanya menjawab tuntutan jumlah tanpa menganalisis mengapa jumlah pedagang terus meningkat dan nyaris tak terkendali.
  2. Menambah masalah: Relokasi yang tidak tepat hanya akan menyebabkan sebagian pedagang yang mendapat kios di tempat sepi kembali berdagang secara mengasong.
  3. Menciptakan persaingan tidak sehat: Sepinya pengunjung di lokasi relokasi menyebabkan keramah-tamahan sebagai citra pariwisata terkesampingkan.
  4. Memusatkan keramaian: Relokasi hanya menciptakan keramaian pada satu titik (zona 2) dan gagal mendistribusikan aktivitas ekonomi ke kawasan Borobudur yang lebih luas.

Fakta persoalan asongan ini sesungguhnya dapat digunakan untuk menganalisis betapa kurang tanggapnya pengelola terhadap perkembangan yang terjadi di kawasan sekitar Candi Borobudur.

Pedagang Asong Adalah Akibat , Bukan Sebab

Fenomena asongan muncul dikarenakan banyak faktor yang bersifat struktural dan historis, antara lain:

  1. Krisis Ekonomi dan Penggusuran: Terjadinya krisis moneter dan dampak penggusuran saat pembebasan tanah untuk membangun Taman Wisata Candi Borobudur. Masyarakat yang tergusur kehilangan lahan pertanian, diperparah oleh minimnya SDM dan tidak adanya persiapan alih profesi oleh pengelola baru.
  2. Janji yang Terabaikan: Banyak janji dari pihak pengelola masa lalu yang tidak ditepati, termasuk prioritas menjadi karyawan, padahal tujuan utama pembangunan Taman Wisata adalah pelestarian Borobudur dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
  3. Mengabaikan Nilai Spiritualitas: Konsep pengelolaan yang hanya menjual keindahan semata, mengesampingkan "Nilai-nilai spiritualitas Borobudur sebagai Pusaka Budaya Dunia". Padahal, nilai spiritualitas ini dapat menjadi penyangga pelestarian dengan menumbuhkan rasa penghormatan dan rasa memiliki terhadap bangunan cagar budaya.
  4. Penurunan Ekonomi dan Lingkungan: Penurunan ekonomi masyarakat yang menyebabkan penebangan pohon di daerah resapan (green belt), berakibat pada penurunan muka air tanah dan matinya sumber mata air.
  5. Perubahan Pola Tanam dan Produktivitas: Rusaknya irigasi teknis dan hilangnya resapan mengubah pola tanam petani dari padi menjadi palawija/tanaman tahunan. Hal ini menciptakan waktu senggang yang panjang dan menjadikan petani TIDAK PRODUKTIF, sehingga banyak yang beralih profesi menjadi pedagang asongan.
  6. Kesenjangan SDM dan Konsep Pariwisata: Perkembangan pariwisata yang pesat dan sentralistis tidak diimbangi dengan kesiapan mental dan kemampuan kepariwisataan dari masyarakat setempat, yang masih memiliki pandangan sempit tentang konsep pariwisata.
  7. Kebijakan Pemerintah yang Abai: Pemerintah mengabaikan perkembangan kawasan pariwisata, lambat dalam merencanakan pengembangan prasarana dan sarana transportasi pendukung untuk terbentuknya destinasi penyangga.

Kesimpulan yang dapat ditarik adalah: Keberadaan pedagang asongan pada kenyataannya lebih menunjukkan bahwa mereka adalah MUARA DARI SEMUA AKIBAT DAN BUKAN SEBAB dari berbagai akumulasi kondisi yang terjadi pada kawasan Candi Borobudur yang kurang diperhatikan dalam setiap perubahan pola kehidupan dan pemahaman masyarakat tentang kepariwisataan di Borobudur. Untuk menyelesaikan masalah ini secara tuntas, diperlukan intervensi kebijakan yang tidak hanya berfokus pada penertiban, melainkan pada pengentasan akar masalah sosial-ekonomi dan lingkungan yang melingkupi situs warisan dunia ini.

Persoalan Pedagang yang sesungguhnya adalah merupakan sebab akibat dari perencanaan yang kurang matang akan terus berkepanjangan seiring dengan tuntutan Pemerintah pusat dan UNESCO terkait dengan ketidak ketertiban pedagang dan kesan kumuh

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default