DIPLOMASI BUDAYA DARI POS RONDA Ke RUWAT RAWAT BOROBUDUR

Ruwat Rawat Borobudur
0

 




Oleh Sucoro Setrodioharjo

Langit sore di Candi Borobudur selalu memiliki rona emas yang sama, menenangkan. Namun, kali ini ada getaran energi yang berbeda, terpancar dari Warung Cleguk yang sederhana tak jauh dari candi. Di sana, duduklah Pak Coro (panggilan akrab Sucoro Setrodiharjo), seorang pria dengan kerutan pengalaman yang menyimpan memori puluhan tahun tentang warisan agung itu. Tak lama kemudian, beberapa koleganya datang, dan obrolan santai  di Warung Cleguk itupun dimulai .

Sambil menyesap teh, aku membuka obrolan malam itu. "Banyak orang berpikir diplomasi adalah domain eksklusif pejabat kataku meyakinkan . Tapi kisah Ketua RT 8 Malaka Jaya, Taufiq Supriadi, membuktikan sebaliknya. Kisah Ketua RT 8 adalah representasi sempurna dari pergeseran paradigma. Itu diplomasi yang lugas, jujur, berbasis aksi nyata dan nilai-nilai luhur kemanusiaan dari warga biasa."

Kisah ini adalah sindiran halus bagi penguasa. Buku yang diserahkan Pak RT, "Suara-suara dari Pos Ronda," menjadi simbol bahwa catatan kecil dari komunitas bisa menjadi suara besar bagi bangsa di mata dunia. Meski mereka tidak dipromosikan oleh kebijakan formal, melainkan oleh budaya nyata yang hidup di tengah masyarakat suara nyata yang sering kita dengar, yang tersisih dari agenda formal.

Pak Wongsa, salah satu kolega Pak Coro, menyambung cerita. "Betul sekali. Buku kecil 'Suara-suara dari Pos Ronda' itu membuktikan bahwa kisah sederhana tentang pengelolaan lingkungan, inovasi daur ulang, dan semangat gotong royong ternyata memiliki resonansi universal. Media China, Duta Besar RI, semua terkesima. Mereka tidak melihat anggaran besar, tapi nilai luhur kemanusiaan yang terukir dalam catatan harian komunitas."

Pak Wongsa kemudian mengalihkan pandangannya pada Pak Coro,yang  mencoba melihat dari sisi perjuangan sosok sentral cultural yang bisa kita saksikan sendiri di Borobudur. "Kisah ini tidak kalah menarik: Kisah Pak Sucoro sendiri. Saya mengikuti perjalanan perjuangan Pak Coro sudah cukup lama. Dari awal beliau membuat ruang komunikasi rakyat Warung Info Jagad Cleguk hingga kegiatan budaya rakyat Ruwat Rawat Borobudur." Perjuangan yang Pak Coro lakukan berpuluh-puluh tahun itu, katanya, adalah "panggilan jiwa."

"Kegiatan yang beliau lakukan berbeda dengan lainnya," tegas Pak Wongsa. "Banyak event budaya telah diselenggarakan oleh Lembaga Pemerintah maupun swasta di Borobudur. Tapi, belum ada yang melebihi konsistensi kegiatan Ruwat Rawat Borobudur yang sudah berjalan hingga 23 tahun."

Pak Coro, yang sejak tadi hanya menyimak sambil tersenyum, mulai bicara. "Yah, sepertinya kami ini berada di jalur yang sama dengan Pak Taufiq," ujar Pak Coro, suaranya pelan, tenang, namun mengandung ketegasan. "Kami sama-sama membuktikan bahwa diplomasi budaya yang paling autentik adalah yang lahir dari akar rumput. Kalau Pak Taufiq membukukan gotong royong melalui catatan pos ronda, kami di sini membukukan perjalanan mengelola dan merawat Borobudur melalui aksi nyata dan ritual budaya."

Ruwat Rawat Borobudur bukan sekadar festival. Ia adalah ritual tahunan, perwujudan gotong royong spiritual dan fisik masyarakat sekitar candi untuk membersihkan, memelihara, dan mendoakan warisan leluhur mereka. Konsistensi selama 23 tahun tanpa henti ini adalah bentuk diplomasi sunyi yang autentik.

"Kegiatan Ruwat Rawat Borobudur adalah saksi hidup betapa besarnya cinta rakyat pada Borobudur, terlepas dari kebijakan formal pejabat yang datang dan pergi," lanjut Pak Coro. "Kami menunjukkan pada dunia, bukan dengan seminar mewah, tapi dengan keringat dan doa dari bawah kaki candi. Ini adalah diplomasi ketulusan."

Ia menjelaskan mengapa kegiatan rakyat seringkali luput dari perhatian. Kegiatan formal yang biasanya hanya "seumur jagung" karena cenderung proyek untuk memperlihatkan kinerja pejabat, oleh karenanya lama kegiatannya tergantung pada pejabatnya. Akhirnya, kegiatan yang lahir dari masyarakat tersebut terlihat menjadi pesaing dan cenderung kurang direspons dengan alasan masih banyak kegiatan masyarakat yang lain.

Proses kreatif Sucoro Setrodiharjo dalam memaknai Borobudur tidak hanya menyentuh aspek sejarah dan arsitektur, tetapi jauh lebih dalam menyentuh jiwa dan kesadaran manusia. Melalui Ruwat Rawat Borobudur, ia mengajak kita semua untuk kembali menengok ke dalam diri, merenungi makna spiritual hidup, dan menyadari bahwa peninggalan nenek moyang seperti Borobudur bukan sekadar monumen, tapi cermin perjalanan manusia menuju pencerahan.

Salah satu contoh yang melatarbelakangi kegiatan Ruwat Rawat Borobudur, menurut Sucoro, adalah bahwa Borobudur merupakan simbol harmoni semesta, di mana manusia menyatu dengan empat arah mata angin dan pusat kehidupan, sebuah konsep yang dalam budaya Jawa dikenal sebagai "Kiblat Papat Limo Pancer". Ia memaknai candi ini sebagai penanda arah spiritual dan pusat energi kehidupan, bukan hanya fisik tapi juga batiniah.

Struktur Borobudur yang terdiri dari Kamadhatu (dunia hasrat), Rupadhatu (dunia bentuk), dan Arupadhatu (dunia tanpa bentuk) dimaknai sebagai perjalanan spiritual manusia. Tiga tahapan ini menggambarkan proses penyucian diri manusia untuk lepas dari jeratan karma dan mencapai kesadaran tertinggi nirwana. Pandangan mendalam Sucoro ini telah disebarkan melalui buku-buku terbitan Warung Info Jagad Cleguk miliknya, yang banyak dibagikan secara gratis ke berbagai lembaga, kelompok masyarakat, dan pribadi yang peduli dengan Borobudur.

Pada akhirnya, kisah Pak Taufiq dan Pak Sucoro membuktikan bahwa diplomasi budaya yang paling jujur dan berdampak adalah yang dilakukan oleh warga biasa dengan konsistensi dan ketulusan hati, menjadikannya suara yang jernis dan  jauh lebih abadi dibandingkan kebijakan sesaat.

Lantas bagaimana cara terbaik agar konsistensi dan filosofi mendalam dari inisiatif akar rumput seperti Ruwat Rawat Borobudur bisa diakui dan diintegrasikan ke dalam kebijakan formal pemerintah? Wassalam

 

 

 

 


Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default