Oleh
Sucoro Setrodiharjo
Kohesi Sosial dan Jejak Sejarah
Mataram Kuno
Secara kasat mata, area di sekitar Borobudur
memancarkan citra kohesi sosial yang kuat dan suasana guyub yang harmonis. Interaksi
sehari-hari antara komunitas Muslim lokal, pengunjung, serta pengelola situs
multikultural ini sering dijadikan contoh keberhasilan adaptasi masyarakat
terhadap peninggalan masa lalu.
Secara historis, harmoni ini
memiliki akar yang dalam sejak masa Kerajaan Mataram Kuno (abad ke-8 hingga
ke-9 M). Candi Borobudur (Buddha, Dinasti Syailendra) dan Candi Prambanan
(Hindu, Dinasti Sanjaya) dibangun pada periode yang hampir bersamaan. Keduanya
merupakan monumen monumental yang menunjukkan bagaimana Buddha dan Hindu hidup
berdampingan, merefleksikan perpaduan antara toleransi dan persaingan agama
yang sehat pada masanya.
Pembangunan dua mahakarya ini
bukan sekadar pamer kekuatan material, melainkan manifestasi kebijakan "Dharma"
yang inklusif. Dualisme antara Wangsa Syailendra dan Wangsa Sanjaya tidak
dikelola sebagai persaingan destruktif, melainkan kompetisi estetika dan
spiritual yang saling melengkapi.
Borobudur mewakili puncak ajaran
Buddha Mahayana melalui konsep Mandala yang memengaruhi spiritualitas
agraris, sementara Prambanan menjadi simbol kebangkitan Hinduisme dengan relief
Ramayana yang memperkenalkan narasi moralitas dan tatanan sosial. Kedekatan
geografis keduanya di lembah Sungai Progo dan Sungai Opak mencerminkan filosofi
Jawa kuno bahwa kebenaran itu tunggal meskipun jalannya berbeda
Sinergi sejarah ini mencapai
puncaknya pada peristiwa simbolis perkawinan politik antara Rakai Pikatan
(Hindu) dan Dyah Pramodhawardhani (Buddha). Pernikahan ini menjadi
titik balik fundamental yang mengakhiri friksi antardinasti dan melahirkan
periode stabilitas di Nusantara.
Secara kultural, persatuan ini
dipahami sebagai upaya menanamkan nilai bahwa perbedaan keyakinan adalah
modalitas sosial, bukan hambatan politik. Warisan akulturasi inilah yang hingga
kini memperkaya budaya lokal, menciptakan harmoni ekonomi, serta spiritualitas
yang mentradisi di tengah masyarakat Borobudur kontemporer.
Simbul Sinergi Kerajaan dan
Agama
Pembangunan Candi Borobudur dan Candi Prambanan yang megah dalam rentang
waktu yang berdekatan bukan sekadar pamer kekuatan material, melainkan
manifestasi kebijakan "Dharma" yang inklusif. Dualisme
antara Wangsa Syailendra (Buddha Mahayana) dan Wangsa Sanjaya (Hindu Siwa)
tidak dikelola sebagai persaingan destruktif, melainkan sebagai kompetisi
estetika dan spiritual yang saling melengkapi. Kosmologi Mandala pada Borobudur
merepresentasikan makrokosmos yang teratur. Melalui struktur Kamadhatu,
Rupadhatu, dan Arupadhatu, Borobudur menawarkan peta jalan
menuju pencerahan. Konsep mandala ini menjadi fondasi bagi masyarakat Mataram
untuk memahami keteraturan sosial dan spiritual. Sedangkan Relief Ramayana pada
candi Prambanan lebih menjelaskan dengan
relief Ramayana yang memperkenalkan narasi moralitas, kesetiaan, dan tatanan
kasta yang dinamis. Kedekatan geografis kedua candi ini di terletak pada lembah
Sungai Progo dan Sungai Opak yang
mencerminkan pandangan filosofi
dunia Jawa kuno bahwa kebenaran itu tunggal meskipun jalannya berbeda
selaras dengan simbul (Bhinneka Tunggal Ika ).
Pernikahan Rakai Pikatan Dan
Dyah Pramudyawardhani
Pernikahan Rakai Pikatan ( Sanjaya ) dan Dyah
Pramudyawardhani ( syailendra )menjadi saksi pernikahan politik kedua
Kerajaan adalah titik balik fundamental
dalam sejarah Nusantara. Pernikahan ini secara
efektif menyatukan dua kekuatan politik yang sebelumnya bersaing memperebutkan
hegemoni di Kerajaan Medang (Mataram Kuno). Hal ini mengakhiri friksi dan
membuka jalan bagi periode stabilitas. Pernikahan ini juga melambangkan penanaman nilai bahwa perbedaan
keyakinan dapat menjadi modalitas sosial, bukan penghalang politik. Rakai
Pikatan, yang beragama Hindu, menikahi putri dari wangsa Buddha, menunjukkan
adanya toleransi beragama yang kuat pada masa itu. Stabilitas yang dihasilkan
memungkinkan pembangunan monumen-monumen keagamaan unik, seperti Candi
Plaosan, yang sering disebut sebagai "candi hybrid". Candi ini
memiliki elemen arsitektur Buddha yang dibangun dengan dukungan penguasa Hindu,
mencerminkan harmoni antarkedua keyakinan tersebut. Peristiwa ini dianggap
sebagai titik balik fundamental dalam sejarah Nusantara, menandai transisi
kekuasaan dan cara pandang baru dalam mengelola keberagaman di dalam
kerajaan.Pernikahan ini menjadi contoh nyata bagaimana aliansi politik melalui
ikatan perkawinan dapat membentuk kembali lanskap sosial, budaya, dan politik
suatu peradaban kuno.
Strategi pendekatan melalui pernikahan semacam ini ternyata juga
mengilhami Pangeran Mangkunegara I, atau yang lebih dikenal dengan julukan
Pangeran Sambernyawa. Dengan ajaran dan taktik perjuangan perang Pangeran
Sambernyawa saat melawan penjajah Belanda (VOC) dan ketidakadilan di tanah Jawa
merupakan bagian dari falsafah hidupnya. Konsep perjuangan beliau dikenal
sebagai "Ngluruk Tanpa Bala Menang tanpa ngasorake" yang berarti
"menyerang tanpa pasukan, menang tanpa merendahkan". Falsafah ini
menekankan pada kemenangan pengaruh tanpa harus menindas identitas lain.
Filosofi "Nglurug Tanpa Bala" ini kemudian dikenal luas sejak abad
ke-18 (sekitar tahun 1742-1757) yang dipopulerkan oleh Raden Mas Said.
Nilai-nilai mandala
pada susunan batu-batu candi Borobudur mengilhami tata ruang dan kosmologi
pemerintahan Mataram Islam pada abad ke-16 hingga ke-17, yang
kemudian dikontekstualisasikan lebih dalam menjadi filosofi Jawa Kiblat
Papat Limo Pancer. Meskipun Borobudur dibangun pada abad ke-8 (Wangsa
Syailendra), konsep mandalanya terus hidup dalam ingatan budaya Jawa. Pada masa
Sultan Agung dari Mataram Islam (abad ke16 -17), konsep pusat dan pinggiran ini
diterapkan dalam tata kota yang disebut Mancapat. Struktur ini menempatkan
keraton sebagai pusat (pancer) yang dikelilingi oleh empat wilayah atau
unsur penjuru mata angin kiblat papat . Filosofi kiblat papat limo pancer
merupakan sinkretisme antara kosmologi Hindu-Buddha (mandala) dengan ajaran
Islam dan kearifan lokal Jawa. Yang melambangkan empat arah mata angin (Timur,
Selatan, Barat, Utara) atau empat unsur nafsu manusia (Aluamah, Amarah,
Supiyah, Mutmainah). Kemudian Limo Pancer melambangkan pusat atau jati diri
manusia (roh/kesadaran) yang harus mengharmonisasikan keempat unsur tersebut.
Dalam konteks
arsitektur dan kenegaraan, hal ini juga mengilhami
konsep Alun-alun di Jawa, di mana posisi Keraton, Masjid, Pasar, dan
Penjara diletakkan berdasarkan prinsip keseimbangan antara pusat dan arah mata
angin agar tercipta keharmonisan alam semesta (makrokosmos) dan diri manusia
(mikrokosmos).
Nilai-nilai mandala tidak hanya
berhenti pada batu candi, tetapi meresap ke dalam tanah dan sistem irigasi
masyarakat Borobudur. Spiritualitas dan pola kehidupan agraris di kawasan Borobudur mengikuti
ritme kosmologis. Penempatan candi seringkali berkaitan dengan sumber air dan
kesuburan tanah. Struktur mandala yang dalam
perkembanganya menjadi penanda yang
mengajarkan tentang "pusat" dan "pinggiran" yang
harmonis, yang diterjemahkan dalam filosofi jawa sebagai kiblat papat limo
pancer yang menciptakan sikap gotong royong dan tata kelola desa di sekitar
kawasan Borobudur hingga saat ini.
Dalam kosmologi Hindu-Buddha,
mandala merepresentasikan alam semesta yang berpusat pada Gunung Meru yang
dikelilingi samudra. Di Borobudur, konsep ini mewujud nyata dalam sistem
irigasi. Penempatan candi-candi di Kedu Plain (termasuk Pawon dan Mendut)
mengikuti aliran sungai besar seperti Progo dan Elo. Masyarakat meyakini bahwa
energi spiritual dari pusat mandala (candi) mengalir bersama air ke sawah-sawah
di "pinggiran", sehingga pertanian bukan sekadar kegiatan ekonomi,
melainkan ibadah menjaga keseimbangan alam.
Filosofi Kiblat Papat Limo Pancer (empat
arah mata angin dengan satu pusat) adalah bentuk pribumisasi konsep mandala di
tanah Jawa yang meletakan pancer Candi Borobudur atau diri manusia itu sendiri
sebagai titik kesadaran. Sedangkan kiblat papat melambangkan empat penjuru
telah terefleksi pada bangunan candi Borobudur . Dan merepresentasikan
desa-desa di sekelilingnya sebagai keseimbangan atau penyeimbang bangunan candi
Borobudur . Harmoni sosial pada struktur ini menciptakan kesadaran bahwa
"pusat" tidak akan ada tanpa "pinggiran". Inilah yang
mendasari semangat Gotong Royong; jika satu sisi rusak, maka keseimbangan
seluruh mandala akan terganggu. Di era modern, filosofi
Jawa Kiblat Papat Limo Pancer kembali menjadi pedoman penting, khususnya bagi
Brayat Panangkaran. Mereka mengaktualisasikan filosofi ini melalui kegiatan
budaya yang berpusat pada masyarakat, yaitu Budaya Rakyat Ruwat Rawat
Borobudur. Khususnya, setelah perubahan
fungsi pengelolaan Borobudur sejak tahun 1983, filosofi ini dijadikan landasan
dalam Memperjuangkan dan melestarikan Warisan Budaya Borobudur secara holistik. Melindungi pelestarian fisik candi serta menjaga
keseimbangan sosial-budaya di wilayah penyangganya.
Raja Katalisator Persatuan ( Gusti di Dunia )
Hubungan antara kepemimpinan dan rakyat menjadi jembatan yang
menyalurkan energi sosial Gotong Royong . Dimana perintah raja Dinasti
Syailendra untuk membangun candi agung dipandang sebagai perintah spiritual.
Raja berfungsi sebagai "Perantara atau personifikasi Gusti (keilahian) di
dunia nyata," memberikan legitimasi dan arah spiritual untuk pembangunan
tempat yang dianggap sebagai persembahan suci tersebut. Dan ketaatan kawulo
(rakyat) untuk berpartisipasi dalam proyek gotong royong bukan hanya ketaatan
politik, melainkan ketaatan religius. Melalui partisipasi ini, rakyat secara
kolektif manunggal (bersatu) dengan visi spiritual kerajaan, yang pada
gilirannya memfasilitasi persatuan yang lebih tinggi dengan Sang Maha Kuasa. Raja tidak sekadar pemimpin politik, tetapi dipandang sebagai perwujudan
atau perantara keilahian di bumi. Gelar seperti Maharaja atau
penyelarasan dengan dewa tertentu (misalnya, Bodhisattva dalam konteks
Borobudur) memberikan legitimasi spiritual tertinggi pada setiap titahnya.
Perintahnya untuk membangun candi bukan perintah biasa, melainkan perintah
spiritual yang menggemakan kehendak kosmis.
Partisipasi rakyat dalam proyek
kolosal seperti pembangunan Candi Borobudur atau Prambanan bukanlah bentuk
kerja paksa biasa, melainkan manifestasi dari ketaatan religius.
Melalui kontribusi tenaga dan sumber daya mereka (gotong royong), rakyat
menjalankan kewajiban dharma mereka, mencari kebajikan (pahala), dan
berpartisipasi dalam penciptaan karya suci yang monumental.
Gotong royong dalam konteks ini
adalah mekanisme yang menyalurkan energi sosial kolektif ke dalam tindakan
nyata yang selaras dengan visi spiritual raja. Ini memperkuat ikatan komunal
dan rasa kepemilikan bersama terhadap proyek suci tersebut.
Melalui partisipasi kolektif
ini, rakyat dan raja secara simbolis "manunggal" (bersatu)
dalam satu visi dan tujuan suci. Persatuan ini dipandang sebagai jalan untuk
mencapai persatuan yang lebih tinggi dengan Sang Maha Kuasa (Tuhan Yang Maha
Esa atau realitas tertinggi dalam kosmologi Buddha/Hindu), yang merupakan
puncak dari pencarian spiritual dalam tradisi Jawa.
Secara keseluruhan, dapat ditangkap, esensi dari hubungan kepemimpinan
dan rakyat di masa lampau, di mana politik dan spiritualitas saling terkait
erat dan bermanifestasi melalui aksi kolektif gotong royong untuk tujuan suci.
Pembangunan
Borobudur sebagai “ laku spiritual “ ketaantan spiritual Hamba dan Tuhan
Pembangunan Borobudur dipandang
sebagai suatu "laku spiritual " (perjalanan, praktik, atau upaya
spiritual) kolektif, di mana kerja keras fisik memiliki makna yang jauh lebih
dalam, yaitu sebagai bentuk meditasi dan persembahan suci. Ulah laku sebagai
meditasi kerja keras gotong royong yang melibatkan ribuan orang, memahat jutaan
batu, dan menyusunnya menjadi mandala raksasa, melampaui sekadar
kewajiban kerja. Ini menjadi meditasi kolektif dan persembahan suci (Persembahan
suci) dari kawulo (umat). Tujuan Manunggal dedikasi fisik ini adalah
cara kawulo (hamba) untuk mendekatkan diri dan manunggal
(bersatu) dengan Gusti (dalam konteks Buddhisme, Dharma, Bodhisattva,
atau Pencerahan). Upaya tersebut menuntut kesabaran, disiplin, dan pengorbanan,
yang semuanya adalah prasyarat untuk pencapaian spiritual tertinggi.
Dalam filsafat
Jawa dan ajaran Buddhisme, kerja fisik yang dilakukan dengan kesadaran penuh
dan keikhlasan dapat dimaknai sebagai bentuk meditasi atau laku
spiritual.Proses memahat batu pada relief Borobudur bukan sekadar kegiatan
teknis, melainkan sebuah bentuk "memahat yang melalui perenungan".
Setiap pahatan dimaknai sebagai doa. Laku ini adalah proses membuang ego dan
kekasaran hati (kejahatan) dari diri sendiri. Aktivitas kolektif yang
melibatkan ribuan orang dalam semangat Gotong Royong mencerminkan hilangnya
identitas individu demi tujuan yang lebih mulia, yaitu persembahan suci. Konsep
hilangnya identitas individu ini sangat selaras dengan inti ajaran Buddhisme,
yaitu anatta (tanpa aku/non-diri).
Meskipun
Borobudur adalah monumen Buddha yang terletak di Pulau Jawa, konsep Buddhisme
dan budaya Jawa dapat saling melengkapi. Salah satu lensa budaya Nusantara yang
sangat relevan untuk membacanya adalah konsep Manunggalnya Kawulo Gusti
(Penyatuan Hamba dengan Tuhan/Pencerahan).Bagi para pekerja, setiap batu yang
disusun adalah satu langkah mendekati Dharma (kebenaran universal). Dengan
demikian, pembangunan Borobudur adalah manifestasi dari penyatuan kerja fisik
yang tulus dengan tujuan spiritual yang luhur.
Memahami Borobudur sebagai sebuah "Laku" mengajarkan kita
bahwa hasil karya yang agung hanya bisa lahir dari ketulusan hati dan
pengabdian yang melampaui kepentingan materi. Borobudur bukan sekadar tumpukan
batu mati; ia adalah monumen ketaatan yang dibangun dengan
tetesan keringat yang diniatkan sebagai doa.
