KONTRAS KULTURAL DAN DINAMIKA SOSIAL HUBUNGAN MASYARAKAT BOROBUDUR

Ruwat Rawat Borobudur
0

 



Oleh SucoroSetrodiharjo

Candi Borobudur, sebuah Situs Warisan Dunia UNESCO, berdiri megah di tengah lanskap demografis yang didominasi oleh populasi Muslim, menciptakan kontras kultural dan religius yang unik. Secara global, Borobudur diakui bukan sekadar struktur fisik monumental, melainkan mahakarya arsitektur yang memancarkan spiritualitas universal. Berdasarkan data tahun 2025, mayoritas penduduk di kawasan Borobudur adalah penganut agama Islam sebuah realitas yang mencerminkan posisi Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia.

Kehadiran situs suci Buddhis di jantung masyarakat Muslim ini telah melahirkan dinamika interaksi sosial-kultural yang khas. Kontras religius tersebut menghasilkan beragam spektrum sosial, mulai dari potensi harmoni budaya yang kuat hingga tantangan manajerial dalam pengelolaan situs warisan dunia di tengah komunitas lokal yang berbeda keyakinan.

Berangkat dari realitas tersebut, penulis yang dilahirkan dan menetap tidak jauh dari kaki candi Borobudur yang secara intensif mengamati proses pengelolaan warisan budaya ini sejak tahun 1980-an mencoba membedah fenomena koeksistensi ini.

Pendekatan yang digunakan bukan sekadar pengamatan jarak jauh, melainkan melalui keterlibatan langsung dalam gerakan budaya 'Ruwat Rawat Borobudur'. Melalui gerakan ini, penulis secara konsisten merekam dan merespons pergulatan sosial masyarakat setempat dari waktu ke waktu.

Ruwat Rawat Borobudur hadir sebagai ruang dialektika di mana nilai-nilai tradisi rakyat dipertemukan dengan upaya pelestarian situs peninggalan sejarah. Di saat yang sama, kawasan ini diintegrasikan ke dalam kepentingan industri pariwisata yang kini telah menjadi penyangga ekonomi utama bagi masyarakat sekitar. Transformasi ini memastikan bahwa bangunan bersejarah tersebut tetap terintegrasi secara harmonis dengan dinamika kehidupan kontemporer.

Melalui narasi ini, penulis membedah peran Borobudur sebagai titik temu (interseksi) antara kejayaan masa lalu yang bercorak Buddhis dengan realitas masa kini yang kental dengan identitas Islam Jawa. Fenomena ini melampaui sekadar aspek fungsional pariwisata; ia merupakan refleksi mendalam tentang bagaimana sebuah bangsa merawat memori kolektif dan menjaga keberlanjutan identitasnya melintasi zaman.

Borobudur bukanlah sekadar tumpukan batu andesit yang membeku dalam lintasan waktu. Ia adalah manifestasi perjalanan panjang sejarah; bermula dari tangan para leluhur yang mendirikannya sebagai persembahan suci, hingga kini bertransformasi menjadi destinasi pariwisata dunia.

Dalam rentang waktu sejak era 1980-an, pasca-pemugaran tahap kedua, pengelolaan Candi Borobudur mulai disatukan dengan Candi Prambanan. Keduanya bernaung di bawah payung Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yakni PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko.

Penyatuan dua situs agung ini dalam satu manajemen korporasi memicu pertanyaan yang menarik: mungkinkah konsep integrasi pengelolaan melalui BUMN ini terinspirasi oleh narasi sejarah 'perkawinan politik' antara Rakai Pikatan yang bercorak Hindu dan Dyah Pramodawardhani yang bercorak Buddha?

Jika benar, ini merupakan upaya modern yang visioner untuk menyatukan kembali dua kekuatan besar masa lalu dalam satu visi ekonomi yang harmonis. Wallahu a’lam. Semoga kedua warisan budaya tersebut senantiasa memberikan keberkahan, kedamaian, dan ketenteraman bagi semua pihak, termasuk masyarakat sekitar serta tidak sekedar menempatkan Borobudur sebagai 'warisan harta karun' materiil semata, melainkan sebagai sumber daya budaya yang penuh dengan  nilai luhur."

Namun, di balik romantisme sejarah tersebut, model pengelolaan yang berorientasi pada badan usaha ini membawa konsekuensi nyata pada pola interaksi antara situs dan masyarakat di sekitarnya. Yang pasti kebijakan ini menandai babak baru di mana fungsi pelestarian bersinggungan langsung dengan kepentingan pariwisata nasional.

Kehadiran BUMN sebagai pengelola membawa dimensi baru dalam pergulatan sosial masyarakat lokal. Di satu sisi, pengelolaan ini memprofesionalisasi sektor pariwisata sebagai penggerak ekonomi; namun di sisi lain, hal ini juga menghadirkan tantangan tersendiri dalam menjaga keseimbangan antara komodifikasi situs dan nilai-nilai sakral-spiritual yang hidup di tengah masyarakat. Perjalanan panjang pengelolaan di bawah BUMN inilah yang juga turut penulis kawal dan amati selama empat dekade terakhir, Fokus utamanya adalah memastikan bahwa pemanfaatan untuk kepentingan pariwisata tidak sampai mengikis harmoni serta identitas budaya yang telah lama menjadi jati diri kawasan ini.

Salah satu catatan penulis yang krusial untuk disajikan adalah perbedaan transformasi kehidupan sosial masyarakat dari corak agraris menuju ekonomi pariwisata. Pada tahun 1980-an, masyarakat di sekitar Candi Borobudur berpenghidupan  mayoritas adalah petani; hanya sebagian kecil dari mereka yang berprofesi sebagai pedagang. Perubahan drastis dari budaya mengolah tanah menjadi budaya melayani wisatawan ternyata telah menciptakan tantangan adaptasi yang kompleks di kemudian hari.

Demikian pula masyarakat di Kawasan Borobudur, khususnya yang bermukim di kaki perbukitan Menoreh, geliat pariwisata telah membawa perubahan fundamental dalam struktur kehidupan mereka. Seiring melesatnya popularitas Borobudur sebagai magnet wisata global, terjadi pergeseran profesi yang signifikan. masyarakat yang semula menggantungkan hidup pada sektor agraris kini perlahan beralih ke sektor jasa dan pariwisata.

Meski , transisi ini terjadi dalam kondisi yang kontradiktif, masyarakat berpindah haluan  hanya dengan  bermodalkan pengetahuan kepariwisataan yang sangat terbatas atau bersifat otodidak. Hal ini disebabkan oleh minimnya pembekalan pengetahuan kepariwisataan sejak Borobudur mengalami peralihan pengelolaan.

Bahkan, konsep pengembangan dan pengelolaan kawasan pada awalnya pihak pengelola  tampak kurang mengantisipasi dinamika sosial di lapangan, termasuk tidak adanya perencanaan matang terhadap "ledakan" jumlah pedagang lokal. Akibatnya, masyarakat harus berjuang secara mandiri untuk menyesuaikan diri di tengah pesatnya industri pariwisata yang tumbuh berkembang  di halaman rumah mereka sendiri.

Transisi ini bukan sekadar perpindahan mata pencaharian, melainkan bentuk adaptasi masyarakat lokal dalam menyambut modernitas. Mereka kini menjadi bagian dari ekosistem penyangga yang menghidupkan kawasan tersebut melalui berbagai layanan wisata, sekaligus menjadi garda terdepan dalam menjaga keselarasan antara kelestarian lingkungan dan kebutuhan ekonomi.

Salah satu aspek paling menarik dalam fenomena ini adalah peran Borobudur sebagai titik temu (interseksi) budaya. Penulis melihat adanya sinkretisme naratif yang unik: di satu sisi, Borobudur adalah representasi puncak kejayaan masa lalu yang bercorak Buddhis; di sisi lain, ia kini hidup berdampingan dengan dinamika masyarakat masa kini yang kental dengan identitas Islam Jawa.

Fenomena ini menunjukkan bahwa identitas nasional Indonesia tidak dibangun di atas pengkotak-kotakan zaman, melainkan di atas keberlanjutan. Budaya lokal mampu menyerap nilai-nilai luhur dari masa lalu dan mengemasnya kembali tanpa kehilangan jati diri religiusitas mereka saat ini.

Jika kita melihat lebih dalam, Ruwat Rawat Borobudur melampaui urusan angka kunjungan wisatawan. Ini adalah sebuah refleksi tentang bagaimana sebuah bangsa merawat memori kolektifnya. Upaya "meruwat" (mensucikan/memulihkan) dan "merawat" (menjaga) adalah simbol dari kesadaran akan keberlanjutan identitas yang melintasi zaman.

Keberhasilan pengelolaan Borobudur tidak hanya diukur dari keutuhan fisiknya, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat merasa "memiliki" narasi besar tersebut. Ketika tradisi rakyat, kepentingan ekonomi, dan spiritualitas masa lalu dapat berjalan beriringan, Borobudur bukan lagi sekadar objek wisata, melainkan cermin bagi bangsa yang menghargai akarnya di tengah arus globalisasi.

Perubahan sosial di desa-desa sekitar Candi Borobudur sejak menjadi sentra pariwisata membawa tantangan yang signifikan. Interaksi dengan wisatawan internasional menuntut proses adaptasi mendalam sebuah penyesuaian terhadap perbedaan budaya dan adat istiadat yang jauh melampaui sekadar kendala bahasa.Idealnya pihak Pemerintah utamanya menyiapkan program pelatihan seperti pelatihan bahasa asing, hospitality (keramah-tamahan), dan kewirausahaan. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan warga agar dapat berinteraksi secara efektif dan memperoleh manfaat ekonomi dari sektor pariwisata.Disisi lain perobahan tersebut sebagai upaya pengembangan agar kedepan keramaian tidak hanya berfokus pada daya tarik fisik atau candi Borobudurnya saja , tetapi juga pada penguatan kearifan lokal dan budaya setempat. Ini membantu warga menjaga identitas mereka sambil beradaptasi dengan tuntutan industri pariwisata agar warga mampu berdaulat secara ekonomi di tanah sendiri. Upaya ini penting agar pusat keramaian ke depan tidak hanya bertumpu pada kemegahan fisik Candi Borobudur, tetapi juga pada penguatan kearifan lokal. Dengan demikian, warga dapat menjaga identitas mereka di tengah tuntutan industri pariwisata yang masif.

Transformasi adalah proses berkelanjutan yang membutuhkan partisipasi aktif pemangku kepentingan untuk menciptakan ekosistem inklusif. Namun sayangnya, hal tersebut tidak kami dapatkan. Itulah mengapa, pada awalnya penulis mengajak masyarakat untuk menolak rencana pembangunan tersebut. Meski pada akhirnya kami harus menerima kekalahan dan menyerahkan tanah serta bangunan demi pembangunan, ada satu catatan penting yang harus digarisbawahi “Kami menyerahkan ruang hidup kami bukan karena tergiur ganti rugi materiil, melainkan karena kesadaran bahwa Borobudur adalah persembahan suci yang akan membawa manfaat bagi orang banyak. “

Perjuangan kami mempertahankan tanah tersebut adalah bentuk cinta, dan penyerahannya adalah bentuk pengabdian terhadap nilai spiritual Borobudur yang lebih besar.

40 tahun pengelolaan Borobudur

40 tahun sudah perjalanan Pengelolaan Borobudur  yang sebelumnya berada di bawah Taman Purbakala Nasional, yang kemudian diserahkan kepada PT Taman Wisata Candi Borobudur dan Prambanan (PT TWC). Dalam proses pembangunannya, Taman Wisata Candi Borobudur memerlukan lahan seluas 87 hektare. Proyek ini mencakup beberapa wilayah di Desa Borobudur, antara lain: Dusun Kenayan, Ngaran Krajan, Sabrangrawa, Gopalan, dan Sebagian Gendingan, seluruhnya dalam cakupan kewilayahan Desa Borobudur. Proyek skala besar ini berdampak langsung terhadap masyarakat setempat,  sebanyak 367 Kepala Keluarga (KK) harus menjalani proses pembebasan tanah. Proses pembebasan lahan tersebut sempat mengalami penundaan hingga 4 tahun dari jadwal yang direncanakan karena sebagian besar warga menolak.

Empat Dekade Transformasi Pengelolaan Candi Borobudur

Perjalanan pengelolaan Candi Borobudur kini telah genap memasuki usia 40 tahun. Sebuah transformasi besar yang bermula ketika tanggung jawab pengelolaan dialihkan dari Taman Purbakala Nasional kepada PT Taman Wisata Candi Borobudur dan Prambanan (PT TWC). Namun, di balik angka empat dekade ini, tersimpan narasi perjuangan yang sunyi.

Langkah besar pembangunan taman wisata Borobudur ini nyatanya menyimpan dinamika pembebasan lahan yang amat kompleks, hingga menyebabkan jadwal pembangunan tertunda empat tahun dari target semula. Namun bagi saya, empat tahun itu bukanlah sekadar angka di kalender, melainkan masa-masa penuh trauma.

Demi mempertahankan hak atas tanah kelahiran, saya harus menghadapi berbagai intimidasi dan teror mental yang mengerikan termasuk penemuan mayat yang sengaja dibuang hanya berjarak 20 meter dari tempat tidur sebagai bentuk ancaman nyata. Tak hanya itu, tekanan fisik dan perusakan fasilitas pun terjadi: aliran listrik diputus sepihak dan akses jalan utama ditutup total. Saya dipaksa hidup dalam isolasi sosial selama bertahun-tahun, jauh dari tetangga dalam kegelapan malam yang pekat. Dampaknya pun melumpuhkan ekonomi keluarga; penutupan jalan membuat saya kehilangan mata pencaharian di bengkel dokar yang selama ini menjadi penopang hidup."

Alasan penulis bertahan bukanlah soal nilai materi, melainkan soal terputusnya ikatan batin yang telah terajut seumur hidup dengan Borobudur. Bagi warga, Borobudur bukanlah sekadar tumpukan batu atau monumen mati, melainkan ruang di mana identitas dan sejarah hidup mereka berakar. Sayangnya, suara masyarakat terbungkam dalam kebijakan yang diputuskan dari atas. Pemerintah menggunakan narasi "demi kelestarian" untuk melegitimasi penggusuran, tanpa melibatkan warga sebagai subjek pengambil keputusan.

Pembebasan tanah di Prambanan

Sangat menarik untuk menilik perbandingan proses pembebasan tanah dan bangunan di Prambanan, yang dilakukan oleh instansi yang sama dan untuk kepentingan yang sama pula. Di Prambanan, proses tersebut cenderung berjalan lancar dan kondusif, sehingga transisi kehidupan masyarakat dari corak agraris menjadi pelaku ekonomi pariwisata berlangsung secara lebih organik dan "landai".Hal ini didukung oleh letak geografisnya yang strategis di jalur utama Jogja-Solo, serta pengaruh nilai budaya Kraton yang membentuk karakter masyarakat yang lebih adaptif namun tenang. Konsensus antara kepentingan negara dan ruang hidup masyarakat di Prambanan terbentuk lebih awal, sehingga gejolak sosial tidak menjadi hambatan berarti.

Sebaliknya, kerumitan di Borobudur berakar pada perubahan struktur ruang dan ekonomi yang terjadi secara mendadak dan masif. Jika masyarakat Prambanan sudah terbiasa dengan denyut nadi perdagangan jalur utama, masyarakat Borobudur pada era 1980-an dipaksa mengalami lompatan budaya yang traumatik.

Pengamatan penulis selama 40 tahun menyimpulkan bahwa transformasi dari "cangkul ke suvenir" di Borobudur bukan sekadar perubahan profesi, melainkan perjuangan memperebutkan kedaulatan di tanah kelahiran sendiri. Hingga saat ini, mencari titik temu yang adil antara pelestarian situs, keuntungan korporasi BUMN, dan kesejahteraan pedagang lokal tetap menjadi pekerjaan rumah yang menantang.

Ketegangan yang terus berulang di Borobudur menjadi cermin bahwa profesionalisme pengelolaan pariwisata tidak hanya diuji dari angka kunjungan dan keuntungan, tetapi dari sejauh mana pengelola mampu memanusiakan pelaku ekonomi kecil di sekelilingnya. Jika di Prambanan kita melihat harmoni yang stabil, di Borobudur kita melihat perjuangan yang belum usai untuk menemukan keadilan di bawah bayang-bayang ambisi pelestarian dunia.

 

 

 

 


Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default