Mengasuh Rasa di Bawah Bayang-Bayang Candi

Ruwat Rawat Borobudur
0

 





Refleksi Romo Kirjito tentang Borobudur, Teknologi, dan Nurani

Oleh: Redaksi Blog | 16 September 2025

Dalam sebuah pertemuan hangat di pertengahan September, Romo Kirjito—seorang imam yang telah menghabiskan lebih dari satu dekade menyelami denyut nadi kehidupan di lereng Merapi—membagikan sebuah perenungan filosofis yang tajam. Bagi beliau, spiritualitas bukanlah sesuatu yang terpenjara di dalam tembok gereja atau rumah ibadah. Ia tersebar di ladang-ladang pertanian, di sapaan hangat antar-tetangga, dan dalam upaya menjaga kemanusiaan di tengah arus modernitas yang kian menderu.

Spiritualitas Inklusif: Gereja yang Menyapa Budaya

Romo Kirjito mengawali refleksinya dengan konsep "Serawung Merapi". Selama 10 tahun di Merapi, beliau mempraktekkan ibadat yang inkulturatif—sebuah iman yang tidak berjarak dengan kepercayaan lokal, seni, lingkungan, dan napas pertanian rakyat kecil. Beliau mencontohkan bagaimana gereja seharusnya memandang upacara keagamaan lain, seperti Waisak di Borobudur.

"Keselamatan itu tidak hanya ada di dalam gereja, tapi juga di luarnya," ungkapnya. Baginya, menghargai ritual agama lain adalah bentuk pengakuan terhadap kemanusiaan. Relasi antarmanusia harus melampaui sekat dogmatis; gereja harus hadir sebagai sahabat bagi siapa pun yang merawat kehidupan.

Borobudur: Dari Warisan Adiluhung ke Hegemoni Negara

Mengenang masa kecilnya pada tahun 1964, Romo menceritakan perjalanannya dari Boro ke Kerug hingga masuk seminari. Saat itu, Borobudur adalah warisan nenek moyang yang adiluhung, sebuah tempat suci yang tenang. Namun, memasuki era 1980-an, status Borobudur sebagai aset negara mulai menggeser rasa kepemilikan masyarakat, termasuk umat Buddha sendiri.

Romo mencatat adanya paradoks harmoni di Borobudur. Di permukaan, interaksi antara masyarakat (yang mayoritas Muslim) dengan situs World Heritage ini tampak tenang. Namun, sejarah mencatat gesekan-gesekan yang nyata. Beliau mengingatkan kembali pada peristiwa penolakan pembangunan mal "Jagad Jawa" di tahun 2003. Saat itu, elemen lintas agama bersatu membela pedagang kaki lima dari ancaman lokalisasi yang dianggap menjauhkan rakyat dari sumber penghidupannya.

"Kala itu, semua agama diundang bersuara, namun ada juga yang memilih diam. Ada ketegangan antara negara yang ingin mengomersialkan wisata dengan rakyat yang ingin mempertahankan ruang hidupnya," kenang beliau.

Krisis Digital: "Tuhan Beserta Kita" Menjadi "HP Beserta Kita"

Bagian paling kritis dari pemikiran Romo Kirjito adalah dampaknya teknologi terhadap manusia. Beliau melihat lompatan luar biasa sejak temuan listrik hingga era digital saat ini sebagai pisau bermata dua.

"Dulu, kita merasa Tuhan beserta kita. Sekarang, rasanya HP yang selalu beserta kita," selorohnya getir. Teknologi telah mengubah pola interaksi menjadi sentralistik. Semuanya harus melalui "jalur listrik" dan modal besar. Jika jaringan mati atau perangkat rusak, seolah hidup pun berhenti.

Beliau menyoroti bahwa teknologi digital—yang membutuhkan server raksasa dengan biaya energi setara kota kecil—telah melahirkan sistem kapital yang menjepit rakyat kecil. Petani dan pedagang kecil seringkali hanya menjadi "tumbal" karena tidak memiliki modal untuk menguasai algoritma. Dampaknya, muncul kecemasan karena perubahan yang terlalu cepat. Manusia kehilangan kesabaran dan kehilangan kemampuan untuk mendengarkan sinyal-sinyal alami dari tubuh dan hatinya sendiri.

Menemukan Kembali Nurani dalam "Sripah" dan "Rewang"

Meski dunia kian terdigitalisasi, Romo Kirjito melihat harapan pada "Modal Sosial" yang masih tersisa di desa-desa sekitar Borobudur. Beliau menyebut momen Sripah (orang meninggal) atau Mantenan (pernikahan) sebagai benteng terakhir nurani.

Di saat seseorang meninggal, warga dari berbagai agama berkumpul untuk melayat tanpa perlu dikomando oleh media sosial. Di sana, nurani berbicara melampaui benar-salah secara doktrinal. "Momen di mana warga membuatkan makanan untuk tetangganya yang berduka, tanpa membeli dari katering, adalah bukti bahwa arus nurani masih mengalir di bawah permukaan masyarakat kita," jelasnya.

Pesan untuk Generasi Z: Mengasah Rasa dan Empati

Menutup refleksinya, Romo memberikan pesan bagi generasi muda (Gen Z) yang hidup dalam kelimpahan informasi namun seringkali mengalami kekosongan spiritual. Beliau mengkritik pergeseran dari era Nation Character Building yang menekankan kejujuran dan empati, menuju era Economy Oriented yang menilai segala sesuatu dari benda dan harta.

Beliau mengajak kita untuk mendewasakan pancaindera. Mata bisa menipu karena ia hanya menangkap pantulan cahaya dan bayangan. Hati dan nuranilah yang harus menjadi filter utama.

"Pendidikan harus utuh. Jangan sampai kita menjadi masyarakat yang marah karena kemiskinan, sementara di sisi lain ada pamer kekayaan yang melanggar hukum," tegasnya. Beliau berharap anak muda tidak hanya belajar lewat medsos, tetapi kembali ke alam, kembali mengasah rasa, dan berani bersyukur melalui tindakan nyata, bukan sekadar memohon lewat doa-doa yang mekanis.

Bagi Romo Kirjito, Borobudur akan tetap teguh berdiri, namun kualitas kemanusiaan di sekitarnya sangat bergantung pada seberapa kuat kita menjaga nurani dari tarikan arus kapital dan teknologi yang kian egois.

 


Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default