Pesan Kritis Masyarakat Menggugat
Keseimbangan Pengelolaan Spiritualitas Borobudur dan Pariwisata
Catatan Sucoro Setrodiharjo dari Kegiatan Kompetisi Opini Kongres
Borobudur ke 3
Candi
Borobudur, sebuah mahakarya arsitektur dan simbol peradaban, kembali menjadi
sorotan dalam perdebatan mengenai status dan pengelolaannya. Melalui Kompetisi
Opini dan Kongres Borobudur ke-3 yang diselenggarakan oleh Komunitas Ruwat
Rawat Borobudur (RRB) pada 25 hingga 27 Agustus 2025, muncul suara-suara kritis
masyarakat yang merangkum dilema akut: antara mempertahankan nilai
spiritualitas dan religiusitas murni sebagai warisan nenek moyang (Rekonstruksi
Fungsi Awal) ataukah mengakomodasi kepentingan ekonomi dan pariwisata super
prioritas yang berdampak besar pada masyarakat sekitar (Revolusi Pengelolaan).
Menggali Ide Kreatif di tengah keterpurukan
Pengelolaan Borobudur melalui Spiritualitas
Kegiatan Kompetisi Opini Kongres
Borobudur ke 3 yang dibuka oleh Kepala MCB Borobudur, Ibu Wiwit Kasiati, di
Kantor MCB Borobudur ini mengusung tema besar "Menelisik Keberagaman,
Kemanfaatan Nilai Spiritualitas Borobudur". Panitia, diwakili oleh Sucoro
Setrodiharjo, menyampaikan bahwa tujuan utama acara ini adalah meningkatkan
kesadaran, rasa memiliki, serta menggali ide kreatif dari penggiat, pemerhati
budaya, stakeholder, dan pemerintah untuk pelestarian dan pemanfaatan
Borobudur.
Respons publik sungguh masif.
Sebanyak 246 peserta mengirimkan artikel opini, membuktikan
masih tingginya kepedulian masyarakat untuk mewujudkan Borobudur sebagai
destinasi wisata dunia yang berkeadilan. Dari jumlah tersebut, 23 finalis
terpilih untuk mempresentasikan gagasan mereka.
Suara Sumbang Yang Terpendam atas kesenjangan
Kesejahteraan Dan Trauma Kebijakan
Di balik animo besar ini,
tersimpan "suara-suara sumbang" yang menurut Sucoro merupakan
ungkapan perasaan terpendam masyarakat Borobudur selama bertahun-tahun. Isu
utama yang diangkat adalah kesulitan masyarakat sekitar dalam mencari penghidupan
dan semakin sempitnya ruang usaha, terutama pasca-pemindahan pedagang ke
Kampung Seni Borobudur.
Kritik ini, tegas Sucoro, bukanlah
soal iri dengki antar stakeholders, yang selama ini telah merasakan
hasil kerjasamanya dengan pengelola , melainkan dipicu oleh rasa trauma
akibat kebijakan pengelolaan yang kerap diterapkan tanpa melibatkan masyarakat
secara memadai.
"Persoalan demi persoalan pun
terus melilit manajemen pengelolaan yang hasil komprominya tidak sebanding
dengan sebab akibat kebijakan yang diterapkan tanpa keterlibatan
masyarakat," ujar Sucoro, menekankan bahwa
manfaat kesejahteraan dari tuah candi yang kaya nilai spiritual itu
dirasa belum cukup adil dan merata.
Senada dengan hal tersebut, Novita
Siswayanti (BRIN) turut mengingatkan bahwa nilai spiritualitas Borobudur
tidak dapat dipisahkan dari kepentingan spiritual dan religius. Ia menyayangkan
kecenderungan Borobudur hanya dipahami sebagai daerah tujuan wisata tanpa
menyertakan nilai spiritualitasnya.
Kongres Borobudur 3 Mendorong
Evaluasi Untuk Pengelolaan Yang Berkelanjutan
Sebagai tindak lanjut kompetisi
opini, Kongres Borobudur ke-3 digelar pada 27 Agustus 2025 di Pos Kenari
Pelataran Candi Borobudur. Kongres ini semakin mempertegas pandangan Sucoro
bahwa Borobudur bukan hanya monumen megah, tetapi juga simbol peradaban,
kebhinekaan, dan spiritualitas lintas agama, sebuah nilai yang dinilai
terabaikan sejak fungsinya dialihkan menjadi Taman Wisata Candi Borobudur.
"Masalah yang terkait dengan
pelestarian, eksploitasi besar-besaran, masyarakat yang tidak bisa menikmati,
masyarakat yang masih miskin," menjadi keprihatinan utama yang diangkat.
Sucoro berharap, hasil dari
kompetisi dan kongres ini dapat mendorong pihak pengelola dan pemerintah untuk
melakukan evaluasi demi mewujudkan pengelolaan Candi Borobudur yang berkualitas
dan berkelanjutan.
Pesan Pemenang Kompetisi Opini , Fokus Pada Dampak
Kebijakan Dan Nilai Spiritual
Tiga artikel opini terbaik menjadi
representasi nyata dari kegelisahan dan ide solutif masyarakat:
- Juara I: Riyanto (Pedagang Kampung
Seni Borobudur) dengan judul: "Dampak Perubahan Kebijakan Tata
Kelola Borobudur."
- Juara II: Totok Rusmanto dengan judul:
"Pradaksina-Desa Borobudur Pengembangan Berbasis Pelestarian Nilai
Spiritual Borobudur."
- Juara III: Basir dengan tulisan: "Peran
VW dalam Membangun Wisata Lintas Kawasan Borobudur."
Direktur Taman Wisata Borobudur (TWB) Mardijono Nugroho,
memberikan apresiasi, melihat kongres ini sebagai ruang untuk menarasikan dan
mendiskusikan isu strategis, yang aspirasinya telah tertuang dalam Perpres 101
Tahun 2024.
Penerbitan Buku Yang digagas Oleh Sucoro
Setrodiharjo Dan diterbitkan oleh Warung Info Jagad Cleguk Sebagai Sumber
Pemikiran yang Partisipatif
Seluruh hasil pemikiran, ide, dan
kritik konstruktif dari Kompetisi Opini dan Kongres Borobudur ini akan
diterbitkan dalam buku karya Warung Info Jagad Cleguk ke-12, berjudul: "Dilema
Borobudur antara Revolusi dan Rekonstruksi."
Buku ini diharapkan menjadi
sumbangsih pemikiran yang berharga, mencerminkan kompromi yang adil antara revolusi
kebijakan pariwisata yang modern dan rekonstruksi kembali pada fungsi
luhur Borobudur sebagai pusat spiritual dan budaya, memastikan pengelolaan yang
bisa dirasakan secara adil dan merata oleh masyarakat.
