Menggagas Keselarasan “Ruh dan Raga” Borobudur Melalui Pariwisata Berbasis Spiritualitas dan Budaya

Ruwat Rawat Borobudur
0

 





Dualitas dan Dilema Borobudur

Redaksi Ruwat Rawat Borobudur

Candi Borobudur, ikon kebudayaan Indonesia, tidak hanya diakui sebagai Mahakarya Budaya Dunia, tetapi juga menyandang status Situs Warisan Dunia UNESCO dengan Outstanding Universal Value (OUV). Pengakuan ini menempatkan Borobudur dalam posisi ganda: sebagai cagar budaya adiluhung, tempat tersimpannya nilai-nilai spiritual, filosofi, dan tradisi mendalam, sekaligus sebagai destinasi pariwisata utama yang menjadi penggerak ekonomi bagi masyarakat lokal dan nasional.

Kedudukan ganda ini menimbulkan tantangan yang kompleks. Transformasi Borobudur menjadi pusat wisata massal menimbulkan dilema antara Perlindungan, Pelestarian, dan Pemanfaatan (3P) tiga pilar yang harus seimbang agar pengelolaan Borobudur tetap berkelanjutan. Banyak kebijakan pengelolaan saat ini cenderung menekankan pemanfaatan untuk pariwisata, sehingga aspek spiritual dan tradisi budaya sering terabaikan.

Keseimbangan antara 3P masih sulit tercapai. Lonjakan jumlah pengunjung, walaupun memberikan keuntungan ekonomi, menimbulkan beberapa risiko serius:

  1. Ancaman terhadap Kelestarian Fisik:
    Beban kunjungan yang tinggi menyebabkan erosi, keausan batu, dan potensi kerusakan struktur candi, yang jika dibiarkan dapat mengurangi nilai autentik Borobudur sebagai situs warisan dunia.
  2. Terabaikannya "Ruh" Budaya:
    Nilai-nilai spiritual dan tradisi akulturasi budaya, yang menjadi “ruh” pendirian Borobudur, masih kurang menjadi perhatian utama. Kebijakan pengelolaan cenderung lebih fokus pada aspek ekonomi pariwisata.
  3. Miskonsepsi Spiritualitas:
    Pemahaman spiritualitas selama ini sering dipersempit pada ranah mistik atau keagamaan tertentu, sehingga dimensi universal spiritual Borobudur—sebagai energi, filosofi, dan penghubung antara manusia dan lingkungan belum terintegrasi dalam strategi pengelolaan.

Kawasan penyangga Borobudur sesungguhnya kaya akan potensi untuk memperkuat narasi spiritual dan menyebarkan manfaat ekonomi secara merata, namun pengelolaannya masih terfragmentasi:

  • Situs Spiritual dan Tradisi Lokal:
    Candi Mendut, Pawon, dan Ngawen, bersama ratusan prasasti dan petilasan tradisi, memiliki kaitan historis dan spiritual yang kuat. Sayangnya, potensi ini belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai sumber daya pendukung pariwisata Borobudur, sehingga pusat keramaian masih terfokus di zona utama.
  • Infrastruktur dan Pemberdayaan Desa:
    Dari 20 Balkondes (Balai Ekonomi Desa) yang dibangun, baru sekitar 5 yang aktif. Hal ini menunjukkan belum optimalnya integrasi infrastruktur pariwisata hingga tingkat desa, padahal penguatan desa berperan penting dalam distribusi manfaat ekonomi.
  • Kesenian Lokal dan Event Berkelanjutan:
    Pelaku kesenian lokal terlibat dalam pertunjukan, tetapi kesenian ini terancam tergeser oleh pagelaran modern berbiaya tinggi. Event budaya tradisi, seperti Ruwat Rawat Borobudur yang telah berlangsung 24 tahun, belum mendapat dukungan kebijakan agar menjadi agenda rutin berkelanjutan.
  • Kuliner Otentik:
    Hidangan khas kawasan, seperti Mangut Beong (ikan Sungai Progo) dan Sop Empal, memiliki daya tarik unik, namun belum diangkat sebagai ikon gastronomi yang terintegrasi dengan pengalaman wisata budaya.

Melihat dualisme fungsi, ancaman kelestarian, dan fragmentasi potensi lokal, sebuah forum diskusi strategis menjadi penting. Tujuannya adalah:

  1. Mensinergikan Perlindungan, Pelestarian, dan Pemanfaatan.
  2. Menjadikan nilai spiritual dan tradisi lokal sebagai dasar pengelolaan.
  3. Membentuk pemahaman internal yang selaras untuk memastikan keberlanjutan OUV.
  4. Menguatkan pariwisata berbasis budaya, spiritualitas, dan tradisi lokal, agar memberikan manfaat ekonomi dan sosial yang merata bagi masyarakat sekitar.

Diskusi ini juga membahas bagaimana pertunjukan seni budaya berkelas dunia, seperti Sendratari Kidungkarma Wibangga, dapat menjadi event rutin yang autentik dan didukung kebijakan pengelola, bukan hanya proyek sesaat.

Salah satu stakeholder kunci masyarakat adalah Yayasan Brayat Panangkaran Borobudur, yang secara rutin menyelenggarakan Ruwat Rawat Borobudur selama lebih dari 24 tahun. Kegiatan ini:

  • Melestarikan tradisi, seni, dan nilai spiritual Borobudur.
  • Menjadi wadah partisipasi masyarakat lokal dalam menjaga warisan budaya dunia.
  • Menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah Kabupaten Magelang dan kementerian terkait dalam forum budaya dan pelestarian.
  • Mendapat dukungan untuk diusulkan ke daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO, memperkuat posisi mereka sebagai mitra penting dalam pengelolaan Borobudur.

Keterlibatan Brayat Panangkaran menunjukkan bahwa modal sosial masyarakat lokal dapat menjadi pilar dalam pengelolaan Borobudur, menghubungkan nilai spiritual, tradisi, partisipasi publik, dan kebijakan pemerintah dalam satu sinergi yang berkelanjutan.

Forum diskusi ini membuka jalan untuk menghadirkan wajah baru Borobudur yang selaras antara ruh spiritual dan raga fisik. Dengan kolaborasi antara pemerintah, pengelola TWC, komunitas budaya seperti Brayat Panangkaran, dan masyarakat lokal, Borobudur berpotensi menjadi model pengelolaan warisan dunia yang berkelanjutan, inklusif, dan autentik.

Melalui penguatan nilai spiritual, pelestarian tradisi lokal, pemberdayaan desa, dan pengembangan pariwisata berbasis budaya, Borobudur tidak hanya akan tetap lestari, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan ekonomi yang merata, menjadikannya ikon dunia yang hidup, berbudaya, dan berkelanjutan.

 


  • Lebih baru

    Menggagas Keselarasan “Ruh dan Raga” Borobudur Melalui Pariwisata Berbasis Spiritualitas dan Budaya

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default