Catatan dari Suasana Malam di Warung Cleguk: Antara Keramaian Mingguan dan Realita Kehidupan Warga - Ruwat Rawat Borobudur

Breaking

Sabtu, 02 Mei 2026

Catatan dari Suasana Malam di Warung Cleguk: Antara Keramaian Mingguan dan Realita Kehidupan Warga

Foto ini menangkap denyut kehidupan di Warung Clegu sebuah ruang sederhana yang juga menjadi Sekretariat Ruwat Rawat Borobudur, gerakan yang telah berproses selama 24 tahun dalam menjaga, merawat, dan memaknai warisan budaya agung ini. Setiap malam Minggu, tempat ini bertransformasi menjadi ruang perjumpaan: orang-orang datang untuk sekadar ngopi, berbincang santai, berdiskusi lintas isu, hingga membaca dan berbagi karya yang lahir dari komunitas Parung Info.

Namun di balik keramaian yang tampak hangat itu, tersimpan lapisan kisah yang tidak sederhana.

Dahulu, kawasan Jalan Medang Kamulan dikenal sebagai ruang hidup yang ramai. Deretan warung berdiri, aktivitas ekonomi bergerak, dan warga menggantungkan penghidupan dari denyut wisata yang terus mengalir. Namun sejak adanya pemindahan lahan untuk pengembangan Kampoeng Seni Kujon Borobudur, wajah ruang ini berubah drastis. Hari-hari biasa kini terasa lengang, banyak warung tak lagi beroperasi. Kehidupan ekonomi seolah hanya “menyala” pada malam Minggu—menjadi satu-satunya waktu yang dapat diandalkan warga untuk bertahan.

Di tengah suasana itu, percakapan-percakapan kecil muncul, namun sarat makna. Salah satu warga mengungkapkan kegelisahannya dengan jujur:

“Saya datang ke sini, duduk di depan teras, melihat perubahan… pagarnya sudah berbeda, gerbang dipindah. Ada sesuatu yang terasa lain. Bahkan masyarakat yang tinggal di sekitar pagar saja sudah merasakan keanehan. Borobudur seperti bukan lagi milik saya…”

Kegelisahan itu bukan tanpa alasan. Warga yang dahulu, dengan penuh kesadaran dan kecintaan, rela menyerahkan tanahnya demi kelestarian dan pengembangan Borobudur dengan keyakinan bahwa candi ini adalah milik bersama kini justru merasa semakin jauh dari ruang yang dulu mereka rawat secara batin.

Di sela-sela guyonan, muncul pertanyaan polos namun dalam:

“Apakah kami telah berjasa terhadap pembangunan Taman Wisata Borobudur yang masih merasa memiliki Borobudur ini ? Atau justru perlahan disingkirkan? Kalau benar ada rencana besar, apakah kami masih bagian dari itu, atau hanya menjadi penonton?” ungkap Mas Karyono dengan lugu.

Pertanyaan-pertanyaan itu menggantung tanpa jawaban pasti. Bahkan kegamangan semakin terasa ketika percakapan berlanjut:

“Kalau saya ingin bicara, saya harus bicara ke siapa? Pemegang kebijakan? Lalu siapa itu? Atau hanya ‘boneka-boneka’? Kalau boneka, siapa dalangnya?”

Suasana sempat mencair dengan tawa kecil.

“Hehehe… aneh ya. Sekarang membedakan kadal dengan ular saja susah,” seloroh Mas Coro, mencoba meredakan ketegangan namun justru menegaskan kerumitan situasi yang dirasakan masyarakat.

Percakapan sederhana di warung kopi itu pun menjelma menjadi ruang refleksi yang panjang. Bukan sekadar keluhan, tetapi juga pencarian arah tentang di mana posisi masyarakat dalam narasi besar pengembangan Borobudur.

Meski demikian, di balik kegelisahan itu, masih tersisa harapan dan semangat yang tidak padam:

“Mungkin suara kami kecil. Tapi saya yakin, saudara-saudara yang masih sering duduk santai di sini, yang berdiskusi, ikut webinar, membaca, masih punya rasa yang sama. Saya siap bergerak… tapi jelaskan kepada saya: saya ini datang sebagai apa? Kalau saya merasa ikut memiliki Borobudur, apakah itu masih diakui?”

Sebagai penulis, saya menyadari bahwa diakui atau tidak diakui bukanlah hal yang utama. Saya hanyalah pencatat seorang yang mendokumentasikan perjalanan sejarah pengelolaan warisan budaya ini. Sementara itu, proses politik yang terus berulang setiap lima tahun akan selalu membuka pintu-pintu perubahan, entah ke arah yang lebih baik atau sebaliknya.

Keramaian malam Minggu di Warung Cleguk pada akhirnya bukan sekadar peristiwa ekonomi. Ia menjadi simbol ketahanan bahwa di tengah keterbatasan dan perubahan, ikatan komunitas serta kecintaan terhadap Borobudur tetap hidup. Ada kesabaran, keikhlasan, dan keyakinan bahwa rezeki serta perlindungan Tuhan akan selalu menyertai.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa di balik gemerlapnya Borobudur sebagai destinasi wisata dunia, terdapat cerita-cerita manusia yang kerap luput dari perhatian. Pengembangan pariwisata seharusnya tidak berhenti pada capaian fisik dan statistik ekonomi semata, tetapi juga menyentuh keadilan sosial memastikan bahwa mereka yang menjadi bagian dari sejarah dan pengorbanannya tetap mendapatkan ruang, martabat, dan kesejahteraan yang layak.

Dan mungkin, dari warung kecil seperti Celeguk inilah, suara-suara itu akan terus hidup perlahan, namun pasti, mengetuk kesadaran kita bersama.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar