Foto ini menangkap denyut
kehidupan di Warung Clegu sebuah ruang sederhana yang juga menjadi Sekretariat
Ruwat Rawat Borobudur, gerakan yang telah berproses selama 24 tahun dalam
menjaga, merawat, dan memaknai warisan budaya agung ini. Setiap malam Minggu,
tempat ini bertransformasi menjadi ruang perjumpaan: orang-orang datang untuk
sekadar ngopi, berbincang santai, berdiskusi lintas isu, hingga membaca dan
berbagi karya yang lahir dari komunitas Parung Info.
Namun
di balik keramaian yang tampak hangat itu, tersimpan lapisan kisah yang tidak
sederhana.
Dahulu,
kawasan Jalan Medang Kamulan dikenal sebagai ruang hidup yang ramai. Deretan
warung berdiri, aktivitas ekonomi bergerak, dan warga menggantungkan
penghidupan dari denyut wisata yang terus mengalir. Namun sejak adanya
pemindahan lahan untuk pengembangan Kampoeng Seni Kujon Borobudur, wajah ruang
ini berubah drastis. Hari-hari biasa kini terasa lengang, banyak warung tak
lagi beroperasi. Kehidupan ekonomi seolah hanya “menyala” pada malam
Minggu—menjadi satu-satunya waktu yang dapat diandalkan warga untuk bertahan.
Di
tengah suasana itu, percakapan-percakapan kecil muncul, namun sarat makna.
Salah satu warga mengungkapkan kegelisahannya dengan jujur:
“Saya
datang ke sini, duduk di depan teras, melihat perubahan… pagarnya sudah
berbeda, gerbang dipindah. Ada sesuatu yang terasa lain. Bahkan masyarakat yang
tinggal di sekitar pagar saja sudah merasakan keanehan. Borobudur seperti bukan
lagi milik saya…”
Kegelisahan
itu bukan tanpa alasan. Warga yang dahulu, dengan penuh kesadaran dan
kecintaan, rela menyerahkan tanahnya demi kelestarian dan pengembangan
Borobudur dengan keyakinan bahwa candi ini adalah milik bersama kini justru
merasa semakin jauh dari ruang yang dulu mereka rawat secara batin.
Di
sela-sela guyonan, muncul pertanyaan polos namun dalam:
“Apakah
kami telah berjasa terhadap pembangunan Taman Wisata Borobudur yang masih
merasa memiliki Borobudur ini ? Atau justru perlahan disingkirkan? Kalau benar
ada rencana besar, apakah kami masih bagian dari itu, atau hanya menjadi
penonton?” ungkap Mas Karyono dengan lugu.
Pertanyaan-pertanyaan
itu menggantung tanpa jawaban pasti. Bahkan kegamangan semakin terasa ketika
percakapan berlanjut:
“Kalau
saya ingin bicara, saya harus bicara ke siapa? Pemegang kebijakan? Lalu siapa
itu? Atau hanya ‘boneka-boneka’? Kalau boneka, siapa dalangnya?”
Suasana
sempat mencair dengan tawa kecil.
“Hehehe…
aneh ya. Sekarang membedakan kadal dengan ular saja susah,” seloroh Mas Coro,
mencoba meredakan ketegangan namun justru menegaskan kerumitan situasi yang
dirasakan masyarakat.
Percakapan
sederhana di warung kopi itu pun menjelma menjadi ruang refleksi yang panjang.
Bukan sekadar keluhan, tetapi juga pencarian arah tentang di mana posisi
masyarakat dalam narasi besar pengembangan Borobudur.
Meski
demikian, di balik kegelisahan itu, masih tersisa harapan dan semangat yang
tidak padam:
“Mungkin
suara kami kecil. Tapi saya yakin, saudara-saudara yang masih sering duduk
santai di sini, yang berdiskusi, ikut webinar, membaca, masih punya rasa yang
sama. Saya siap bergerak… tapi jelaskan kepada saya: saya ini datang sebagai
apa? Kalau saya merasa ikut memiliki Borobudur, apakah itu masih diakui?”
Sebagai
penulis, saya menyadari bahwa diakui atau tidak diakui bukanlah hal yang utama.
Saya hanyalah pencatat seorang yang mendokumentasikan perjalanan sejarah
pengelolaan warisan budaya ini. Sementara itu, proses politik yang terus
berulang setiap lima tahun akan selalu membuka pintu-pintu perubahan, entah ke
arah yang lebih baik atau sebaliknya.
Keramaian
malam Minggu di Warung Cleguk pada akhirnya bukan sekadar peristiwa ekonomi. Ia
menjadi simbol ketahanan bahwa di tengah keterbatasan dan perubahan, ikatan
komunitas serta kecintaan terhadap Borobudur tetap hidup. Ada kesabaran,
keikhlasan, dan keyakinan bahwa rezeki serta perlindungan Tuhan akan selalu
menyertai.
Kisah
ini mengingatkan kita bahwa di balik gemerlapnya Borobudur sebagai destinasi
wisata dunia, terdapat cerita-cerita manusia yang kerap luput dari perhatian.
Pengembangan pariwisata seharusnya tidak berhenti pada capaian fisik dan
statistik ekonomi semata, tetapi juga menyentuh keadilan sosial memastikan
bahwa mereka yang menjadi bagian dari sejarah dan pengorbanannya tetap
mendapatkan ruang, martabat, dan kesejahteraan yang layak.
Dan
mungkin, dari warung kecil seperti Celeguk inilah, suara-suara itu akan terus
hidup perlahan, namun pasti, mengetuk kesadaran kita bersama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar